
Pada larik-larik tayangan sebelumnya, ketidak adilan mulai terjadi di meja makan. Kelanjutanya, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (7)
Bagian 2
Perempuan Tiada Guna
8
Apa salahku?
Karena aku lahir perempuan?
Karena Papa totok?
Karena tradisi?
Karena aku tidak akan
Jadi pewaris?
Aku anak-anak
Anak perempuan.
Namaku cantik
Wajahku cantik
Tetapi aku,
Tidak seperti anak cantik.
Baca juga: Angin Januari
Aku tak pernah
Punya baju baru.
Tak pernah dibelikan
Baju baru
Di toko pakaian
Di seberang toko Papa.
Aku iri
Pada boneka pajangan
Di etalase belakang jendela
Pakaiannya bagus
Motif bunga-bunga warna menyala
Bertopi gombrang
Warna merah anggur.
Pupil matanya hitam
Seperti tahu
Aku hanya bisa mengintipnya
Dari belakang pintu toko.
Ia memamerkan kecantikannya
Laksana Xi Shi
Dari Zhuji.
Menunggu pangeran
Yang menjadi korban
Terjerembab di selokan
Karena memandangnya.
Bibirnya senyum tipis
Menyiksaku.
Aku iri.
Aku marah.
Aku ingin melemparnya
Dengan batu
Di pinggir selokan.
Aku ingin katakan kepadanya
Aku lebih cantik
Kalau mendapat
Gaun berpendar
Sepertinya.
Tetapi, apalah artinya!
Sekalipun dadaku
Berdegub, meledak
Seperti meriam Belanda,
Bajuku hanya
Tetap bekas
Baju yang Mama pakai
Waktu masih kanak-kanak
Baju yang warnanya
Sudah kusam
Bekas robek di ketiaknya.
Mama menjahitnya dengan tangan
Dengan benang yang beda
Dengan warna kainnya.
Mama bilang,
“Jangan suka
Angkat-angkat tangan.
Robek lagi
Kamu akan telanjang.
Tak berbaju lagi!”
Kalau baju itu bagus
Aku akan suka merawatnya.
Tapi ini gaun bekas
Kusam
Ada bekas robek
Dan kebesaran.
Baca juga: Inovasi Tak Harus dari yang Besar
Hilanglah kecantikanku
Terkuburlah nama cantikku.
Kamu tahu adikku?
Ia dituntun Papa
Habis dari pertokoan
Seberang jalan.
Memakai baju kotak-kotak
Bercelana baru, bersabuk
Memakai topi laken
Labelnya masih menggantung di baju
Menempel di celana.
Seperti koboi Amerika
Bangun kesiangan
Aku mau muntah
Muntah karena marah
Marah karena mengapa dia,
Dan aku tidak!
Aku menghambur ke kamar mandi
Mengubur diri dalam bau karbol
Dan sabun mandi.
Aku lepas semua
Yang melekat pada tubuhku
Aku lempar pada closet semen
Yang warnanya sudah melumut.
Aku kebur air dalam bak mandi,
Bak mandi semen
Yang warnanya juga sudah melumut.
Kutumpahkan air bergayung-gayung
Pada tubuhku
Menggigil
Dingin
Dingin menggigil.
Apalah artinya dingin air
Pada debu yang tak punya arti
Pada kerak yang menimbun korosi
Akulah debu
Akulah kerak
Tak punya arti
Tak pula diri.
Brak! Brak! Brak!
Pintu kamar mandi digebrak.
“kamu main air!
Kamu habiskan air!
Minta dihukum,
Ditenggelamkan dalam air?!”
Suara Mama.
Tiba-tiba rasanya
Dingin air membunuh diriku
Rasanya tubuhku menjadi keriput.
Gemetar, aku membuka pintu
Mendapati raksasa
Kacak pinggang di depan pintu.
Mamaku.
Baca juga: Bilangan Fu; Pertarungan Nilai-Nilai Tradisional dan Modern
Seperti kilat
Tangan kuat
Tangan Papa
Kekar menyabet tubuhku.
Bakalan remuklah aku.
Rasanya tubuhku dilempar
Melayang sejenak terkapar.
Aku mendengar,
Cekikik, suara adik.
“Kik! Kik! Kik!
Kayak tikus, tenggelam di air
Mampus”
Gelap, rasanya dunia.
