
Angin Januari telah sampai
Di ubun-ubun kota
Menuangkan keruh hujan
Mengabarkan amis harapan
(Masih terasa sisa akhir tahun
Yang gatal oleh biang
Mark-up anggaran
Yang becek oleh naiknya
Pajak tahunan)
Kau cium bau tanah
Rerumputan dan anak-anak semut
Menguarkan aroma gelisah
Kau tatap langit Rajab
Dengan mata sembab
Melangkah di sekujur Jalan Veteran
Kau jumpai keheningan semakin akrab
Menebal di sobek mantel penjual jajanan
Menempel di sulam karung para pemulung
Kau dapati mall dan kampus-kampus
Bak sepasang kekasih bergandeng tangan
: Cumbu hangat bermekaran
Di antara yang melepuh kedinginan
Tuan-puan bertaruh proposal pembangunan
Intriknya melebihi kerumitan kabel-kabel jalanan
Lihatlah, dusta serentak menyala
Dari deretan lampu taman pedestrian
Kata-kata bijak terkubur
Di Taman Makam Pahlawan
Air mata menyaru bendera
Berkibar deras di atasnya
Malang, 2025
Baca juga: Mei dan Terali Besi
Siklus
Masa depan ialah
Komplek pemakaman
Yang sedang kita gali
Di kedalaman mata kita sendiri
Nasib mengendarai
Roda cakra manggilingan
Dan kita tak bisa
Betul-betul mengemudikan lajunya
Masa kini ialah anak-anak sungai
Dihisap pipa-pipa baja
Pulau-pulau lebam, laut menghitam
Matahari enggan berkaca
Pada keruhnya
Dengarlah siul dedaunan
Mengiringi tawa orang-orang pinggiran
Suara surga yang ganjil
Kebahagiaan kecil
Masa lalu ialah hantu
Keluar dari lubang September yang jauh
Dengan tongkat merah, bermata nanah
Berjalan pincang, memanggil-manggil
Nama kita
Malang, 2025
Baca juga: Mee, Namaku (7)
Tafsir “Syair Pendekar Kelana”
: Untuk Yusril Ihza F.A.
Ia andaikan maut sebatang baja
Lalu melelehkannya
Dengan api yogabasa
“Telah kulinggis dalam-dalam
Kuburanku sendiri
Kubaringkan tubuh fana ini
Di gelap kasur tanah sunyi”
Dada kirinya menyimpan detak Surabaya
(Ia sama sekali tak menyebut kota itu
Dalam ledakan puisinya, mungkin ia sengaja)
Kulihat hijau hasrat, tajam niat
Mengkilat pada baitnya
Seperti ingin membedah
Meneroka lambung Sisifus atau Samsa
Ia pun berkata, seakan pada dirinya sendiri
“Inilah gudang kenikmatan tak berbilang
Pukulan cinta paling garang
Riwayat serbuk tulang-belulang”
Dari jurang Kota Malang aku tafakkur
Mencatat ratusan burung semaput
Pohon dan tiang saling memagut
Gunung-gemunung, reranting sungai
Menafsir ulang kata “Maut”
Malang, 2024
Ahmad Musawir, lahir di Pamekasan, 7 Mei 1989. Penulis bergiat di Komunitas “Baca Lambat”, Gasek, Sukun, Kota Malang.
(Editor: Iman Suwongso)

Mbois ilakes