Angin Januari

Angin Januari. Foto/canva.com

Angin Januari telah sampai
Di ubun-ubun kota
Menuangkan keruh hujan
Mengabarkan amis harapan

(Masih terasa sisa akhir tahun
Yang gatal oleh biang
Mark-up anggaran
Yang becek oleh naiknya
Pajak tahunan)

Kau cium bau tanah
Rerumputan dan anak-anak semut
Menguarkan aroma gelisah
Kau tatap langit Rajab
Dengan mata sembab

Melangkah di sekujur Jalan Veteran
Kau jumpai keheningan semakin akrab
Menebal di sobek mantel penjual jajanan
Menempel di sulam karung para pemulung

Kau dapati mall dan kampus-kampus
Bak sepasang kekasih bergandeng tangan
: Cumbu hangat bermekaran
Di antara yang melepuh kedinginan

Tuan-puan bertaruh proposal pembangunan
Intriknya melebihi kerumitan kabel-kabel jalanan
Lihatlah, dusta serentak menyala
Dari deretan lampu taman pedestrian

Kata-kata bijak terkubur
Di Taman Makam Pahlawan
Air mata menyaru bendera
Berkibar deras di atasnya

Malang, 2025

Baca juga: Mei dan Terali Besi

Siklus

Masa depan ialah
Komplek pemakaman
Yang sedang kita gali
Di kedalaman mata kita sendiri

Nasib mengendarai
Roda cakra manggilingan
Dan kita tak bisa
Betul-betul mengemudikan lajunya

Masa kini ialah anak-anak sungai
Dihisap pipa-pipa baja
Pulau-pulau lebam, laut menghitam
Matahari enggan berkaca
Pada keruhnya

Dengarlah siul dedaunan
Mengiringi tawa orang-orang pinggiran
Suara surga yang ganjil
Kebahagiaan kecil

Masa lalu ialah hantu
Keluar dari lubang September yang jauh
Dengan tongkat merah, bermata nanah
Berjalan pincang, memanggil-manggil
Nama kita

Malang, 2025

Baca juga: Mee, Namaku (7)

Tafsir “Syair Pendekar Kelana”

: Untuk Yusril Ihza F.A.

Ia andaikan maut sebatang baja
Lalu melelehkannya
Dengan api yogabasa

“Telah kulinggis dalam-dalam
Kuburanku sendiri
Kubaringkan tubuh fana ini
Di gelap kasur tanah sunyi”

Dada kirinya menyimpan detak Surabaya
(Ia sama sekali tak menyebut kota itu
Dalam ledakan puisinya, mungkin ia sengaja)
Kulihat hijau hasrat, tajam niat
Mengkilat pada baitnya
Seperti ingin membedah
Meneroka lambung Sisifus atau Samsa

Ia pun berkata, seakan pada dirinya sendiri
“Inilah gudang kenikmatan tak berbilang
Pukulan cinta paling garang
Riwayat serbuk tulang-belulang”

Dari jurang Kota Malang aku tafakkur
Mencatat ratusan burung semaput
Pohon dan tiang saling memagut
Gunung-gemunung, reranting sungai
Menafsir ulang kata “Maut”

Malang, 2024

Ahmad Musawir, lahir di Pamekasan, 7 Mei 1989. Penulis bergiat di Komunitas “Baca Lambat”, Gasek, Sukun, Kota Malang.

(Editor: Iman Suwongso)

0 komentar untuk “Angin Januari”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *