
Pada larik-larik tayangan sebelumnya, Bagian 1 ditutup dengan kelahiran Mee. Kelanjutanya, Bagian 2 di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (6)
Bagian 2
Perempuan Tiada Guna
7
Aku belum perkenalkan
Nama papaku dan mamaku
Juga laki-laki pemungut papa,
Pak De ku.
Papaku Tjoen, Mamaku Tien
Pak Deku Sing
Papaku beda marga dengan Pak De
Pak De memberi marga papa:
Liong
Mee, namaku
Nama pemberian
Papa Tjoeng dan Mama Tien
Mee nama yang indah
Cantik
Meskipun punya marga baru
Tak mengubah tabiat
Papa kolot
Kau pasti tak percaya
Nanti kubuktikan
Tabiat kolot papa,
Meskipun memberi namaku
Yang cantik
Baca juga: Inovasi Tak Harus dari yang Besar
Aku tak habis bertanya
Bertanya dalam hati
Pertanyaan yang tak
Pernah berani aku katakan
Mengapa mereka memberi
Namaku Mee?
Perempuan cantik
Bukankah nama
Itu harapan
Nama itu doa
Nama itu
Buah kesayangan?
Apakah mereka
Hanya pura-pura?
Mengapa tidak diberi
Nama laji saja?
Yang artinya sampah.
Laji karena aku Perempuan
Sampah karena aku bukan laki-laki.
Aku katakan itu
Ketika aku mulai mengerti
Ketika adik-adikku kemudian lahir
Adik laki-laki.
Mereka,
Papaku dan Mamaku
Seperti orang asing
Seperti pelancong
Yang melintas
Didepan patung penyair
Yang dibangun di depan gereja.
Orang yang tidak aku kenal
Orang yang tidak mengenalku.
Di depannya,
Aku merasa
Aku tiada.
Yang ada hanya
Adik-adikku
Adik laki-laki.
Adik-adikku didepan mereka
Adanya nyata
Sebagai manusia,
Manusia harapan,
Harapan masa depan.
Pewaris!
Mungkin akan mewarisi
Kekolotannya.
Meja makan
Selalu menyiksaku
Adik-adikku boleh
Mengambil makanan sendiri
Lauk yang enak-enak
Kesukaanya, sesukanya
Nasi bisa tambah
Berapa kali yang mereka mau
Makan lahap
Kalau tidak
Mama akan menyorongkan
Isi meja makan itu
Mengambilkan ikan-ikan
Di atas piring.
“kamu harus sehat
Kamu kenyang
Kamu harus kuat
Kamu harus pintar.”
Kata Papa.
Baca juga: Bilangan Fu; Pertarungan Nilai-Nilai Tradisional dan Modern
Dan aku,
Nasi diambilkan
Sedikit saja
Di atas piring seng
Bukan piring beling
Seperti untuk adik-adikku.
Ikan?
Tempe atau tahu
Itu yang paling enak.
Kalau aku mengambil
Ikan sendiri
Mama memukul tanganku
Mata Papa melotot
Kepadaku.
Aku sampai tidak bisa menelan
Rasanya nasi
Hanya berputar-putar
Di mulut
Susah sekali
Masuk kerongkongan.
Apalagi kalau aku terisak
Papa membentak
“Nangis!”
Dan, aku
Tak lagi bisa terisak
Hanya air mata
Yang tidak bisa aku tahan
Meleleh dari sudut mata
Mengalir di pipi
Dari ujung dagu menetes
Ke dalam piring
Tes!
Mamaku dengan kasar
Memasukkan nasi
Ke dalam mulutku
Kalau aku tidak menelan
Mama memaksa.
Dengan memasukkan lagi
Suapan nasi
Ke dalam mulutku
Aku sampai tersedak.
Batuk
Nasi dalam mulut
Menyembur berhamburan.
Dan membuat Papaku makin marah
“Anak bodoh!
Anak tak berguna!
Kumasukkan kamu
Dalam tong sampah!”
Ancamnya.
Baca juga: Hujan
Aku bukan seperti
Adik-adikku.
Aku lahir
Seperti menjadi beban mereka.
Kelahiran yang tidak dikehendaki
Karena aku lahir Perempuan.
