
Pada larik-larik tayangan sebelumnya, melirikkan perkawinan yang hanya menjadi hiasan mimpi. Kelanjutanya ditayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (5)
Bagian 1
Aku Lahir ke Dunia Bukan Mauku
6
Perempuan itu,
Istri Papaku.
Tiada mengeluh
Sebab tahu
Upacara besar itu
Yang hanya berwujud
Sumpah dan janji
Setia itu
Seperti letupan api
Yang seketika padam
Oleh angin
Sentuhannya
Tak terasa oleh
Pori kulit.
Baca juga: Tihawa Arsyady Pendekar Sastra Dari Aceh
Sesudahnya
Seperti biasa
Seperti kemarin
Seperti lusa-lusa
Seperti lalu-lalu
Ketika penantian
Ketika mimpi yang mengurung
Waktu, tanpa nyata
Ketika putus asa
Menjemput di ambang pintu
Ketika kerja, kerja, kerja
Menjadi gelombang
Menjauhkan kapal
Dari dermaga
Cinta
Bersemayam
Dalam dada.
Kedai segera dibuka
Karung-karung beras
Tumpuk menumpuk
Menuntaskan keringat
Menjauhkan asa
Mengaburkan cita.
Tak ada waktu untuk
Roman-romanan di antara gerimis
Dan redup kamar penginapan
Hari-hari tak ada manisnya
Semanis madu
Di bulan perkawinan.
Taman berbunga
Ditenggelamkan asin keringat
Membanjir di kening
Leher, punggung, dan dada.
Kalau saja
Perempuan itu
Dan papa
Tidak dipeluk bilik
Saat malam menjelang
Sumpah janji itu
Tak akan berbekas lagi.
Malam menjadi sunyi
Udara ruang tengah
Tak mampu meniup
Gorden pintu kamar Perempuan itu.
Cahaya tak berpendar
Ketika Perempuan itu
Di dalam kamar
Yang disusul papa
Setelah keringat
Sisa memanggul karung
Telah mengering
Baca juga: Bilangan Fu; Pertarungan Nilai-Nilai Tradisional dan Modern
Kamar papa
Telah pindah di kamar
Perempuan itu.
Papa dan Perempuan itu
Menghuni gelap kamar
Kamar cinta
Di atas sedepa dipan
Nafas-nafas memacu
Cinta memacu
Rintihan tercekat
Rintihan cinta.
Bulan belum turun
Menjadi sabit
Perempuan itu
Sempoyongan dalam kegelapan
Di kamar peraduhan
Kamar kecil
Kamar yang membentangkan
Untuk menerima
Seisi perut
Yang mendesak ditumpahkan
Perut tiada isi
Hanya membuang adegan
Di kamar kecil: mulut menganga
Mata melotot, urat leher menyembul
Menegang seluruh tubuh.
Isi perut Perempuan itu
Tidak lain pertemuan benih cinta
Perempuan itu
Di dalam perutnya tumbuh
Pertemuan janin cinta
Perempuan itu,
Perempuan yang aku
Ceritakan, itu
Melahirkan buah cinta
Perempuan itu Mamaku
Bayi yang di lahirkan itu:
Aku
Lahir pada bulan Januari
Buah dari cinta temaram.
Pada saatnya nanti
Akan tahu
Aku lahir
Bukan mauku.
Bayi dari Perempuan totok.
Baca juga: Tetangga
