Mee, Namaku (3)

Mee, Namaku (3). Foto/canva.com

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, menggambarkan nama Mee berganti Mei berasal dari keluarga totok pekerja keras. Kelanjutanya di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (2)

Bagian 1

Aku Lahir ke Dunia Bukan Mauku

3.

Penampung Papa
Orang totok itu, setotok Papa itu
Punya adik
Perempuan
Serumah
Sering berpapasan dengan Papa
Sering berjumpa
Sering berpandang mata
Sering salah tingkah
Ia
Sering memerah pipinya
Papa suka
Perempuan itu suka
Kakak perempuan itu,
Laki-laki penampung Papa
Yang totok itu
Tidak melarang
Ia suka Papa
Karena pekerjaannya
Keuletannya, kejujurannya
Ia berikan adiknya
Pada Papa

Baca juga: Tetangga

Ya, diberikan
Untuk dinikahi
Papaku menerima
Papa orang kolot
Ia tak sembarangan
Mengenal perempuan
Kalau bukan totok
Ia tak mengangggap
Orang totok harus dapat totok
Laki-laki totok harus dapat
Perempuan totok
Totok berjodoh dengan totok
Kalau tidak,
Derajadnya akan turun
Dimata leluhurnya.
Itu kata Papa!

Baca juga: Tarian Hitam

Perempuan itu
Pernah bilang,
“Tak ada pesta perkawinan,”
Bahkan jejak-jejaknya
Pernah aku dengar
Tidak ada pernyataan cinta
Dari papa kepada Perempuan itu
Dari Perempuan itu kepada papa
Cinta. Kata yang sakral
Tak pernah meluncur dari bibir;
Bibir papa
Bibir Perempuan itu
Cukuplah tersimpan di dalam dada
Menggetarkan syaraf-syaraf
Melelehkan keringat dingin
Seandainya pun
Cinta keluar dari dalam dada
Dari isi kepala
Cukuplah lewat sorot mata
Yang menembus relung dada.

Tak ada simbol lain
Yang dirupakan
Tak ada bunga mawar
Memang tak biasa
Hanya orang Barat yang punya.
Apa lagi surat
Dalam amplop warna ungu.
Tidak! Tidak ada!

Tradisi pernikaan?
Seperti kerabatnya,
Di daratan Tiongkok sana?
Perempuan itu bilang,
Bilang setandas-tandasnya,
“Tidak ada!”

Baca juga: Pamer Doa Orang Sombong Modal Dasar Maksud Tersembunyi dalam Lipatan Kata-kata

Tidak ada lamaran.
Lamaran dari keluarga Papa
Lamaran kepada keluarga perempuan itu
Tidak ada!
Hanya laki-laki totok itu,
Kakak perempuan itu,
Si totok yang menampung Papa itu,
Suatu pagi yang mengejutkan
Ia memanggil Papa
Ia memanggil perempuan itu, adiknya.
Di meja makan.
Papa disuruh duduk di depannya sebelah kanan
Perempuan itu disuruh duduk di depannya sebelah kiri.
Laki-laki itu mengetuk-ngetukkan jarinya
Di atas meja
Papa menunduk
Perempuan itu menunduk
Dada Papa berdegub
Jantung perempuan itu berdegub.
Papa siap dihardik
Perempuan itu siap dihukum.
Laki-laki itu tahu,
Papa dan perempuan itu
Telah menjalin cinta
Cinta yang tak terkatakan.

Baca juga: Refleksi Akhir Tahun: Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?

“Begini,” kata laki-laki itu.
Papa gemetar
Perempuan itu basah keringat
“Wo liat Ni beljodoh,” kata laki-laki itu.
Bahasanya campuran
Saya lihat kalian berjodoh
“Ni akan Wo kawingkan, nikah, jiehun.”
Lanjutnya.
Kemudian berdiri
Meninggalkan Papa dan perempuan itu.
Papa dan perempuan itu
Tak berani mendongak
Tetap tertunduk
Bola mata mereka saja
Yang bergerak
Papa melirik perempuan itu
Perempuan itu melirik papa.
Dari sudut bola mata perempuan itu
Menetes air
Dan terisak
Papa masih gemetar
Tangannya yang berotot
Meraih jemari perempuan itu,
Jemari tirus
Papa menggenggamnya
Perempuan itu membalas
Menggengam tangan Papa
Dengan erat
Genggaman yang melapangkan jalan
Jalan cinta
Cinta yang terpendam
Dalam dada.


(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *