
Astrid memasuki gedung tua nan megah, dibangun pada tahun 1930-an di sebuah kota tak jauh dari dermaga. Astrid menelusup di antara kerumunan, orang lokal maupun asing.
Baca juga: Gula
Malam ini Astrid mengenakan dress code hitam bergaya tahun 50-an. Sorot lampu yang minim, mampu membuat motif mawarnya mengkilat sekelebat.
Rambutnya yang hitam legam begitu menawan dengan sentuhan sanggul depan; satu bagian tergulung kecil dan satu tergulung sedang. Rambut bagian tengah dan belakang terurai dengan gulungan rapi.
Sepatunya Mary Jane wingtip berwarna hitam dan putih. Long coat, tas, sarung tangan kulit semua serba hitam.
Astrid sangat terlihat mengagumkan dalam balutan warna menuju dunia kelam. Serasi dengan lipstik berwarna merah darah yang menempel pada bibirnya. Warnanya menunjukkan simbol keberanian sekaligus penuh getir. Tetapi kegelisahannya seperti ada disembunyikan. Ia pendam.
Baca juga: Mee, Namaku (2)
Ia berdiri dan menatap seluruh isi gedung tua yang dipenuhi oleh anak cucu adam. Menebar dari dekat pintu masuk yang berada di atas hingga di bawah panggung. Ratusan pasang mata tertuju padanya dalam keheningan.
Astrid pun melakukan hal yang sama. Hanya diam. Diam dan membalas semua pandangan itu dengan diam. Melirik ke sana kemari. Ya, hanya sepasang bola mata yang bergerak ke sana kemari.
Astrid menghela napas Panjang. Ia mulai melepaskan atribut yang dikenakan, kecuali gaun hitam. Ia mulai mengangkat kakinya yang telanjang, dan menari ke sana ke mari. Tak ada irama apapun di sana. Hanya udara yang tak terlihat namun dapat di rasa.
Ia menghayati gerakannya. Demikiankah hidupnya telah dijalani puluhan tahun ini? Rasanya semua hanya berlalu begitu saja.
Kali ini tubuh Astrid mulai melompat dengan tinggi. Semakin terasa, Astrid menuju dimensi lain atas gerakan tubuhnya. Ia berusaha berputar searah jarum jam, dan berakhir dengan menjatuhkan tubuh mungilnya sekeras mungkin dengan sengaja. Lalu, membungkukkan punggung sambil bersimpuh penuh ampun menghadap para penonton.
Astrid menutup kepalan dengan kedua tangan yang bergetar hebat. Tiba-tiba ia menjerit kencang, dan mengatakan sesuatu dengan jelas dan berdiri tegap.
Pada September yang telah berlalu
Pada September yang telah diadu
Pada September yang telah diramu
Pada September yang terus diburu
Pada September yang tak pernah layu
Pada September yang selalu kelabu
Pada September yang tak boleh dirayu
Pada September yang tak akan pernah berhenti berlabuh hingga pemburu mati dan menjadi debu
Tarian September ialah simbol dukaku untukmu
Astrid berlari menuju pintu belakang panggung bersamaan dengan sorak sorai para penonton
Baca juga: Refleksi Akhir Tahun: Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?
Rampal Celaket, September 2024
Ib. Jezefty, lahir bertumbuh dan berkembang di Kota Malang, pada 34 tahun silam. Tidak ada yang benar-benar menarik dari seorang ibu rumah tangga yang mencoba untuk mengirimkan karyanya. Sebelumnya hanya menulis narasi, mengilustrasikan, dan merespon buah pikirnya bermedia indie berupa zine, atau sekedar membuat hasta karya. Bersama kolega-kolega yang berkolektif kecil dihampir beberapa tahun. Keseharian dihabiskan dengan menemani anak-anak bermain, dan traveling menuju dunia yang luar biasa di sebuah Pusat Stimulasi Anak Kota Malang.
(Editor: Iman Suwongso)
