
Apa yang Anda ketahui tentang Bukowski? Mengapa Anda memilih tema ini? Apa pentingnya Bukowski bagi kehidupan Anda. Dan apa gunanya Anda menyeret nama dia ke dalam tulisan seperti ini? Bukankah dia seorang ‘psimitik’ yang di nisannya tertulis anjuran: “Don’t try!“? Mengapa Anda berusaha membicarakannya? Bukankah itu hal yang sia-sia bagi Anda, bahkan mungkin bagi tokoh Anda?
Baca juga: Hujan
Ehm.. Maaf, Kak, bisakah diulangi lagi pertanyaannya? Saya orang yang mudah gugup, apalagi di depan seorang bekas wartawan gurem seperti Kakak, ditambah tembakan rentetan pertanyaan yang meneror dada, dan membuat ginjal saya bergetar!
Baiklah, tak usah gusar! Anda adalah orang kesekian yang merasa terteror oleh pertanyaan receh seperti barusan! Baik, saudara, apa yang Anda ketahui tentang Bukowski?
Jujurly, saya gak tahu betul siapa Bukowski. Saya hanya pernah mendengar namanya dari seorang kawan, sebut saja Bung RK. Dia adalah seorang penyair muda lulusan UNY dan untuk pertama kalinya kami nobar film “Barfly“. Sepintas tak ada yang menarik dari film itu. Tentu bukan karena filmnya buruk, sepuluh menit pertama saya tiba-tiba mengantuk. Mengapa saya mengantuk? Tanyalah pada negara!
Oh, sungguh menarik. Saya tidak akan minta Anda untuk mengulangi jawaban tolol Anda. Baiklah, apakah Anda mencoba untuk menontonnya kembali? Sungguh, demi langit dan anak katak yang baru lahir, saya bersaksi bahwa film itu sangat layak untuk ditonton berkali-kali. Saya sendiri sudah menontonnya sebanyak lima kali. Sungguh, suatu kerugian bagi hamba-hamba yang suka mengantuk! Oh ya, ternyata saya mulai mengenal siapa diri Anda. Saya baru sadar, kalau tidak salah ingat, Anda pernah mengekor di belakang saya saat meliput apel mahasiswa kampus X di lapangan Dodikjur, Rampal. Tapi untuk alasan apa Anda mengikuti saya? Dan mengapa Anda tiba-tiba menghilang begitu saja?
Baca juga: Mee, Namaku (1)
Ah,Kakak! Saya kira pertanyaan yang tidak penting untuk dijawab. Itu menandakan jika Kakak betul-betul wartawan gurem, bekerja untuk sesuatu yang receh dan menj***kkan! Sudahlah, saya akan meneruskan jawaban saya yang tadi. Gendang telinga saya betul-betul masih bersih, Kakak, meskipun saya pernah menderita tinitus–dengung suara jangkrik yang terus-menerus mengganggu malam-malam saya. Saat itu saya mendengar Bung RK seperti sedang menunjukkan hasil terjemahan “Ham on Rye”, novel Bukowski yang kemudian diadaptasi ke dalam film tadi. Film semiautobiografi itu dibintangi oleh Mickey Rourke, pemeran Henry Chinaski. Oh, ya, selain penyair, Bung RK juga seorang penerjemah ulung. Dia pernah menerjemahkan esai-esai Salman Rushdie “Imaginary Homelands” dan esai-esai Haruki Murakami perihal proses kreatif menulis fiksi. Saya berharap terjemahan novel biografis tadi segera diterbitkan. Tentu, saya akan menjadi pembeli pertamanya.
Oh, teruskanlah! Jangan khawatir! Sepertinya Kakak sedang mengantuk. Saya yakin Kakak juga lelah seperti saya. Tapi tak apalah, kadang ilham datang saat keadaan kita setengah sadar. Tidurlah, Kakak! Saya akan melanjutkan ceritanya. Anggap ini adalah dongeng pengantar tidur.
Baca juga: Soal Ingatan
Jadi saya rasa tidak perlu mengomentari Bukowski dari sisi akademik, sisi feminis, apalagi sudut pandang agama. Jika Kakak lebih jeli membacanya, kakak akan bertemu dengan kata perek/pelacur, atau anggur yang seakan tertuang dimana-mana. Tidak hanya itu (sebagian pemula sok ke-Bukowski-Bukowski-an dengan lebih banyak menenteng botol anggur daripada membaca dan menulis), kau akan juga bersalaman dengan Tu Fu dan Li Po/Li Bai–dua penyair terbesar Cina, atau T.S Eliot, Rilke, Dos Passos, e.e Cummings, Ezra Pound, dan seterusnya… dan seterusnya. Kau juga akan menjumpai mayat Sharwood Anderson yang mati gara-gara radang selaput perut setelah menelan tusuk gigi, atau Herry Crosby yang bunuh diri sambil bergandeng tangan dengan pelacurnya.
Kakak, bangun, Kakak! Kakak sudah kelamaan tidur!
Ahmad Musawir, peserta kelas menulis fragmen Kelompok Belajar Menulis (Kobis) Merajut Sastra
(Editor: A. Elwiq Pr)
