Soal Ingatan

Soal Ingatan. Foto/canva.com

Sudah lima tahun. Jejak-jejak ingatan yang dulu mengingatkanku tentang hal buruk, ternyata telah berlalu.

Aku coba mengingat. Aku perlu menulis.

Baca juga: Mee, Namaku (1)

Apakah sedemikian buruk hingga aku begitu sulit mengingatnya? Lalu, apa yang membuatku merasa bahwa hal itu betul-betul berubah, sementara aku sendiri tidak ingat jejaknya?

Aku hanya ingat, bahwa aku dalam ingatan itu adalah sumber segala masalah. Sumber segala pertanyaan. Sumber segala penyesalan. Semuanya itu berkaitan dengan ingatan tentangmu.

Cih! Sial!

Tapi tak apa. Nyatanya aku sudah baik-baik saja. Hal buruk tidak selalu harus diingat sebagai sesuatu yang menjijikkan. Melainkan menguatkan.

Baca juga: Kawan

Kau tahu? Aku menyadari bahwa jalan-jalan yang kita lalui dulu telah ramai bangunan baru. Tempat makan kita sudah berganti menjadi salon rambut. Ruangan baca yang kita duduki direlokasi ke tempat baru. Preman yang biasanya mengusir kita di taman, sekarang sudah tidak pernah keliatan lagi. Hebat kan sekarang?

Kau harus tahu juga. Sekarang aku sudah sering lupa. Aku lupa makanan yang sering kita pesan. Aku lupa bacaan yang pernah kita diskusikan. Juga, lupa soal apa-apa yang berkaitan denganmu. Aku tidak bisa mendeskripsikan dengan mudah, karena semua samar-samar. Yang aku ingat hanya objek, objek, objek. Dan untungnya tidak ada yang tidak menyenangkan.

Baca juga: Perkuat Literasi, Kobis Gelar Belajar Menulis Fragmen

Sudah lima tahun. Jejak-jejak ingatan yang dulu menjadi kebiasaan, sekarang berganti, dan bertumbuh, disertai perubahan-perubahan yang tidak hanya terjadi pada kota ini, tetapi juga aku.

 

(Editor: A. Elwiq Pr.)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *