
Pengantar
Mee, Namaku merupakan prosa liris. Prosa panjang yang ditulis dengan gaya penulisan puisi. Setingnya Kota Malang sejak 1950-an. Temanya tentang ketidak-adilan terhadap Perempuan. Kisahnya bersumber dari sebuah wawancara seorang Perempuan Tionghoa totok. Perempuan yang dalam darahnya mengalir darah orang tua kelahiran dan didewasakan di daratan Tiongkok. Kemudian merantau dan menetap di Malang. Meskipun Mee lahir di Malang.
Bagian 1
Aku Lahir ke Dunia Bukan Mauku
1.
1950,
Aku lahir
Di sini
Ketika udara masih nyenyap
Ketika air masih terasa es
Tak setiap saat asap mengepul
Klontongan sapi masih mampir
Ke telinga
Terayun mengikuti goyangan
Leher sapi yang sedang
Menarik cikar
Melintas di jalan pinggir aloen-aloen
Suaranya dari pelan
Mengeras
Memelan lagi
Hingga lenyap di tikungan
Pertigaan dekat masjid
Baca juga: Kobis Seri
Kuda-kuda memakan rumput
Memanggul tali kekang
Mengikat dengan dokar
Berjajar sampai lima
Di pinggir jalan
Di sudut perempatan
Di depan gedung bioskop
Njanggol, menunggu penumpang
Sesekali meringkik
Memamerkan deretan gigi putih
Sambil mengibaskan rambut-rambut lehernya
Baunya menguar
Khas bau apak
Tai kuda
Becak berlalu lalang
Bersalipan dengan sepeda ontel
Sepeda tua merek RRT
Dituntun
Dinaiki dengan kaki mengayuh konstan
Sendiri maupun berboncengan
Dunia berputar sangat lambat
Selambat gerak kaki
Kaki laki-laki
Laki-laki tua
Setua sepeda
Yang sudutnya sudah berkarat
Laki-laki tua menyeberang aloen-aloen
Aloen-aloen hanya berbatas pinggir jalan
Tak ada pagar perdu
Tak ada tembok dan besi
Rerumputan tumbuh meliar
Naungan beringin di pinggir
Akarnya juga tumbuh meliar
Aloen-aloen hanya seperti halaman
Bagi gedung-gedung, pertokoan,
Masjid dan gereja
Tampak tua pula
Kusam
Dindingnya berlumut
Seperti laki-laki tua
Kusam
Dan keriput
Baca juga: Aku Menunggumu Disini
Ketika langit cerah
Langit membiru
Di sana, di barat
Gunung selayaknya putri tidur
Membujur
Rambutnya terurai di atas bantal
Di dadanya menyembul tetek
Disedekap lengan
Kakinya ditekuk
Lututnya menyembul.
Di kepalanya lembayung menyapu
Di senja hari
Matahari mengecup lehernya
Hingga angslup
Menyisakan petang
Petromaks menyala di relung masjid
Adzan magrib menerobos aloen-aloen
Di sela-sela rerimbunan beringin
Jalanan tiba-tiba terasa senyap
Pohon dan Gedung dimangsa kelam
Gedung pemerintah dan gereja
Dibangun waktu masih ada Belanda
Hanya satu dua kelap kelip Cahaya ublik
Bintang-bintang terlihat
Bercahaya lebih terang
Ketika bulan datang
Purnama menggenang
Daun-daun dan pucuk genting
Berkilau perak
Baca juga: Kawan
Di sini aku lahir
Di kompleks pertokoan
Di sudut perempatan
Bertetangga dengan Kanjengan.
