Mei dan Terali Besi

Mei dan Terali Besi. Foto/canva.com

Ia mencium bau bangkai matahari
Di kantung hitam mata kekasihnya

Seminggu terkubur
Dalam ruang lembur

Ia melihat telunjuk runcing
Menusuk tulang punggungnya
: Sumsum telah lama mengering
Telapaknya terlampau menguning

Mungkin oleh cairan kimia dan serbuk tembakau
Atau tuntutan yang menderau

Pita merah dan toa telah diangkat
Menyentuh ubun-ubun langit
Tapi, Ah! Angin segar hanya milik
Siluman-siluman pabrik

Orang-orang menatap tepung keadilan
Tampak renyah di wajan penggorengan
Koran-koran berminyak
Kesedihan semakin lengket dan berkerak

Mungkin hati penguasa sekeras palu
Di atas meja hijau dan kertas-kertas palsu

Dan sekali lagi, ia membesuk kekasihnya
Diamatinya terali besi, basah dan berkarat
Oleh keluh kata-kata
Dan keruh air mata

Malang, 2024

Baca juga: Kisah Emiria Soenassa, Ibu Pelukis Indonesia

Museum Kenangan

Seperti walrus mendaki tebing-tebing Rusia
Melompat ke laut sebelum akhirnya mati
Sebab api dunia membakar dada dan cuaca

Seperti kapal-kapal di selat Madura
Yang memutih dan menghilang
Dari ingatan masa belia

Seperti wajahmu yang menyimpan
Kenangan hijau pulau-pulau
Seperti . . .

Kasih, arti cinta hari ini
Bagai laut kehilangan akar bakau

Kini tak ada lagi simile
Atau metafora terbaik
Memancar di palung amigdala

Tak juga selogan
Atau pamflet gahar
Membara di puncak nukleus. Tak ada!

Yang ada hanya korek api
Dan kayu-kayu perapian di kabin
Siap melalap seluruh puisi dan kenangannya
Lalu melarungkanya ke laut hitam
: Limbah mimpi-mimpi kita esok hari

Kasih, kenangan busuk ini
Adalah museum terburuk sepanjang usia
Dan sesekali kita perlu mengunjunginya
Untuk sekedar menabur bunga

Malang, 2024

Baca juga: Kawan

Pelayaran Pati

: Charles Bukowski

Ia tahu hatinya telah menjadi mangsa
Kata-kata:
Racun dan tulah bait
Yang menyimpan getir
Dan getar gaib

Baginya matahari
Tak hanya menawarkan terang
Tapi juga bayangan
Jari-jemarinya di atas mesin tik
Dan ia seperti tak peduli
Pada apapun yang tumpah
Di kertas nasib

Ia bayangkan sungai anggur
Mengalir ke laut mati
Dan ia pun berlayar
Mencari sumber cahaya
Nuktah yang memancar
Di telapak pemburu kata

Ia terus mendayung, mengejar
Ilusi garis tipis cakrawala
Sambil membacakan larik-larik Li Bai

“Penyair yang hemat kata
Yang tak perlu
Menceramahi dunia,” tandasnya

Sebelum kemudian ia benturkan
Perahu tuanya ke dinding karang
Sebelum ia mabuk berat dan tenggelam
Berbaring di dasar pasir
Diselimuti ampas anggur

Malang, 2024

Ahmad Musawir, lahir di Pamekasan, 7 Mei 1989. Penulis bergiat di Komunitas “Baca Lambat”, Gasek, Sukun, Kota Malang.


(Editor: Iman Suwongso)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *