Kopi, Tragedi, dan Desa Bakung (1)

Kopi, Tragedi, dan Desa Bakung. Foto/Ilustrasi/canva.com

Sejarah kecil maupun besar seharusnya disampaikan di bangku sekolah, sebagai wawasan untuk siswa-siswi agar berpikir kritis. Hal itu sebagai bekal bertumbuh dan hidup penuh daya upaya. Seyogyanya demikian, karena mereka tinggal di negeri yang pada dasarnya punya rasa solidaritas tinggi terhadap sesama manusia.

Baca juga: Lembah

Manusia memang dilahirkan memiliki potensi berdaya, maka harus berlatih agar berkembang. Keluar bangku sekolah, mampu mengakar dan terus mengikatkan pikiran satu sama lain demi menempuh kehidupan jangka panjang. Senyatanya tidak terlaksana. Semua itu menjadi kabar burung yang dikemas menjadi berita besar dan berlalu begitu saja.

Lantas, apa kabar tragedi 1965 dan terdekat peristiwa 1998? Bagaimana dampaknya hingga saat ini? Juga ketika sudah berjalan dua tahun kebrutalan aparatur negara. yang sudah dibuktikan oleh para ahli telah melanggar HAM namun hingga hari ini masih menyalahkan angin atas kabut kematian di langit Stadion Kanjuruhan Malang. Apalagi tragedi Sampit, Tanjung Priok, Kusni Kasdut, bahkan Tragedi Mergosono sekian waktu lalu?

Semua itu dekat dengan lingkungan kita, mungkin yang semestinya kita sampaikan pada otorita kekuasaan. Bahwa keresahan dalam kehidupan yang tak kunjung diselesaikan sebagai kasus yang diperadilankan, meskipun selalu dicarikan dalih dipetieskan, pasti mencari cara untuk diungkit dan dimintai pertanggungjawaban. Menghantui. Keresahan ini bukan dalam hitungan hari, minggu atau bulan. Ini keresahan bertahun-tahun. Menahun. Menurun.

Baca juga: Mana Lebih Penting: Mencari Ilmu atau Mengejar Gelar?

Myrna, seorang perempuan yang selalu mengalami keresahan yang berkepanjangan itu. Tentang waktu yang dirasanya tak cukup untuk mengulik dahsyatnya kejadian di balik kehidupannya sendiri, dan sekelilingnya. Kepribadiannya terbentuk tak lepas dari pengaruh besar secara kolektif, di mana kehidupan sebelumnya, kebiasaan sehari-hari, juga peristiwa besar yang tak kuasa akhirnya harus diungkap secara terang-terangan sebagai pemicu.

Kiranya 14 tahun silam, Myrna mulai memahami apa yang menjadi urutan cerita untuk disampaikan kebenarannya. Bila sejarah ini bukan untuk bangku sekolah umum, paling sedikit jadi pelajaran dalam sekolah kehidupannya sendiri. Ia sampaikan untuk menunjukkan kebenaran atas peristiwa yang membentuk peradabannya hingga saat ini ia mampu bertahan.

***

Jumat pagi pukul sepuluh, Myrna menghubungi teman lama di desa bernama Desa Bakung. Tujuan Myrna adalah, agar kawannya menemaninya mencari makam tua yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Namanya John. Ia menjawab pesan singkatnya dan menulis, “Iya. Mari kuantarkan. Asal setelah itu jangan lupa, kita tutup perjalanan dengan minum ronde atau kopi rempah di warung Pak Koesman.”

Baca juga: Teman

Bagi Myrna, menghubungi teman lamanya adalah hal yang utama. Ia menyimpulkan bahwa John adalah manusia serba tahu keadaan di desa-desa sekitar John tinggal. Sebagai seorang petani memang demikian adanya. Menjadi manusia serba tahu apa yang ada di sana. Tanpa menunjuk-nunjukkan dirinya tahu.

Entah benar atau tidak, petani sejatinya adalah jiwa-jiwa yang penuh dengan keajaiban hidup. Mereka hampir selalu mampu menjawab prasangka atas keresahan. Utamanya perihal menata, mengaliri, menjaga, mengamati keadaan sekitarnya. Sawah, cuaca, dan sistem irigasi mereka baca agar tetap aman. Semua itu jadi laboratorium hidup yang diamati dari waktu ke waktu.

Setelah John lulus dari perguruan tinggi untuk belajar ilmu alam, dan memahami seni pertumbuhan aneka tanaman di atas tanah, bahkan bagaimana macam tanah yang subur atau batu dapat membuat kekuatan jika dihimpun, ia katakan dipelajari dalam Geografi.

John mendedikasikan dirinya sebagai seorang petani di sawah, dan sekaligus di kebun milik kakeknya. Ia pernah bercerita begini, “Kakekku, menyampaikan bagian lereng Gunung Semeru sisi barat kala itu adalah kebun kopi. Pada zaman itu orang dapat pergi membawa kopi dan pulang membawa sapi.”

(bersambung)

Ib. Jezefty, lahir bertumbuh dan berkembang di Kota Malang, pada 34 tahun silam. Tidak ada yang benar-benar menarik dari seorang ibu rumah tangga yang mencoba untuk mengirimkan karyanya. Sebelumnya hanya menulis narasi, mengilustrasikan, dan merespon buah pikirnya bermedia indie berupa zine, atau sekedar membuat hasta karya. Bersama kolega-kolega yang berkolektif kecil dihampir beberapa tahun. Keseharian dihabiskan dengan menemani anak-anak bermai,n dan traveling menuju dunia yang luar biasa di sebuah Pusat Stimulasi Anak Kota Malang.

(Editor: A. Elwiq Pr.)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *