Lembah

Lembah. Foto/canva.com

Lembah yang ini bukan lembah Wupper nun di ceruk perbukitan di Jerman pedalaman. Lembah yang sedang kutelusuri masa lalunya, dan hendak kurangkaikan dengan masa mendatang. Ini lembah juga, lembah Sitirejo. Letaknya di Dusun Reco, Desa Sitirejo.

Baca juga: Dua Purnama Satu Senja

Sesungguhnya, jarak tempuhnya tidak jauh dari Turen. Bisa naik bus dari Pasar Turen turun perempatan Gadang, kemudian disambung ojek online arah barat sejauh 3,3 km. Pada sudut pertigaan berdiri bangunan, pada tanah bertingkat-tingkat. Untuk mencapainya harus melewati beberapa tangga.

Sebuah bangunan berjenjang membawa ingatan saya pada rumah Arief Budiman abangnya Soe Hok Gie, di Salatiga. Di seberang lembah pun berdiri sebuah rumah ibadah sibuk dan nyaring. Pemilik rumah di tepi lembah ini, seperti Arief Budiman, berurusan dengan Australia.

Lintas jalan di seberang lembah bisa kita lihat dari ruang terbuka; berliku serupa barisan kunang-kunang bergerak ketika kendaraan melintas. Ruang terbuka ini memanfaatkan kontur tanah, jangan terkejut jika kau menjumpai faset-faset cakrawala yang romantis.

Aku datang pada saat yang tepat. Pada suasana melankolis, disapu silir angin yang sejuk, menyeruput minuman hangat saat petang datang. Aku mendahuluimu sebelum kalian akan mencoba datang kemari, sambil membayangkan menyeruput kopi Robusta atau Arabika pada jingga senja yang merona.

Rendra, pawang bar berkata, “karena pertama kali mbak, maka terasa jauh ya? Lebih dekat sebetulnya ketimbang ke Pandanlandung,”.

Tentu saja Rendra mengacu ke tempat di mana ia tinggal dan diukur dari tempat saya tinggal.

Baca juga: Teman

Kami sedang mempertemukan pendapat. Tentang kerja yang dibangun dari titik nol, bahkan minus. Bersama kawan yang kenal kali pertama di desa asal Mbah Karimun, Kedungmonggo, Pakisaji.

Di sela-sela obrolan menjurus itu, yang pertama dan utama ingin kutengok tentu saja adalah toilet. Manisnya, versi jongkok dan duduk berseberangan tapi bersisian. Rendra menunjukkan letak toilet dengan efektif.

Dunia maya yang cepat membawa kabar tentang kami yang sedang di Kopi Retjo, Sitirejo, Wagir. Seorang kawan menelepon. Penasaran. Mengulik. Mencari tahu. Tertarik? Atau sedang terobsesi tentang warung, atau kopi, atau literasi. Kami memang serupa air, bergerak seturut arus dan aliran. Mengendap. Bahkan menyimpang atau justru bertemu arus besar bengawan.

Baca juga: Mana Lebih Penting: Mencari Ilmu atau Mengejar Gelar?

Dengan kesadaran sepenuh-penuhnya diupayakan agar sejalan dengan harapan. Kututup dengan menyeruput kopi Robusta sederhana dan pekat di Dusun Reco. Ketika petang, sore menjelang, senja pun melintas sekejap hingga malam datang.

Kopi Retjo Sitirejo, 26 Oktober 2024

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *