Hari Pertama Mengarungi Kehidupan Remaja di Madrasah Tsanawiyah

Hari pertama mengarungi kehidupan remaja di Madrasah Tsanawiyah. Foto/Ilustrasi/canva.com

Madrasah Tsanawiyah, tempat yang kutetapkan menjadi pelabuhan selanjutnya untuk menimba ilmu selepas lulus Madrasah Ibtidaiyah (Sekolah Dasar). Sekolah ini terletak di pusat kota, yaitu ke arah selatan Masjid Agung Jami’ dan Alun-alun Kota Malang.

Baca juga: Dua Purnama Satu Senja

Adapun alasanku memilih sekolah ini cukup naif, dan benar-benar menepikan proses observasi. Mudahnya begini, saya menolak mentah-mentah disekolahkan di pondok pesantren, lantas orangtua pun mendaftarkan saya ke sekolah tersebut.

Konon, Madrasah Attaraqqie mempunyai metode mumpuni dalam pengajaran ilmu agama. Selain itu gedung putra dan putri dipisahkan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki agama.

Sejujurnya sekolah ini tak begitu luas dengan fasilitas terbatas. Bahkan waktu belajarnya juga tidak normal. Pada siang hari dan hanya lima jam. Sungguh ini adalah waktu belajar yang tidak sama seperti sekolah-sekolah negeri. Namun karena aku benar-benar tidak ingin masuk pesantren, beberapa pertimbangan di atas kuabaikan begitu saja.

“Toh, lebih baik bersekolah di sini daripada di pondok,” gumamku dalam hati ketika itu.

Selayaknya pelajar, hari pertama bersekolah kujalani dengan penuh semangat. Tidak terasa celana biru muda telah kukenakan, pertanda diriku telah memasuki fase remaja. Sesampai di kelas, aku dan teman-teman yang belum kuketahui namanya diminta memperkenalkan diri. Dimulai dari menyebut nama, asal sekolah, dan alamat rumah. Ini klise tetapi perkenalan itu amat berkesan untukku.

Baca juga: Boneka Kelinci

Rozaq, teman yang kuajak berkenalan pertama kali setelah guru keluar dari kelas. Posturnya tinggi, tidak terlalu gemuk, dan terkesan lebih dewasa dariku. Ternyata dia memang berusia setahun lebih tua dari diriku. Rumahnya di Klayatan, tepatnya di Jalan Pelabuhan Ketapang.

Kemudian di sebelahku, ada anak yang cukup gemuk, dan wajahnya bulat. Ia lebih tinggi dariku. Tingkah lakunya konyol mengundang gelak tawa, bahkan fisiknya dijadikan bahan bercandaan. Namanya Habsyi, rumahnya di Gadang.

Dua jam berlalu, waku istirahat pun tiba. Tiap-tiap siswa, termasuk diriku dipersilakan mengistirahatkan tubuh dan pikiran sejenak dengan cara melahap berbagai makanan dan minuman. Setelah itu kami diajak melaksanakan salat berjamaah di masjid yang ada di depan sekolah.

Sebelum melaksanakan salat, tiba-tiba ada seorang anak berpostur tinggi dan berhidung panjang menghampiriku, lalu mengajakku berkenalan. Namanya Ahmad, keturunan Arab bermarga Mauladawilah. Selain mengajakku berteman, dirinya juga membelikanku sebungkus cilok (aci dicolok).

Baik sekali, padahal kami baru saling mengenal, batinku.

Lima belas menit berlalu, waktu istirahat usai. Semua siswa tanpa terkecuali diperintahkan kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran. Sesaat setelah masuk kelas, mataku tertarik dengan salah seorang teman yang mondar-mandir sejak tadi. Ia tampak bersemangat dan mengajak semua siswa berkenalan. Dapat dikatakan, ia seorang ekstrovert. Daus namanya, berkulit sawo matang dan beralamat di Bandulan.

Baca juga: Senja

Satu jam setengah pun terlewati tanpa henti, bel tanda pelajaran selesai berbunyi lantang tanpa ada yang menghalangi. Diriku pulang ke tempat ternyaman dengan menaiki angkutan kota bersama kebahagiaan yang dilukiskan Tuhan hari ini.***


(Editor: A. Elwiq Pr.)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *