
Mereka datang sesuai janji. Dua laki-laki muda dengan ketenangan melarung derai. Seorang telah memantapkan langkah, biduk segera ia layarkan. Angkat sauuuh!
Baca juga: Logika
Seorang yang lain meminta istirahat banyak-banyak. Ia lukiskan kampung di mana ia ingin tinggal tua nanti. Matahari terbit di hadapan bersama teluk yang tenang, di belakang matahari terbenam bersama gunung-gunungnya yang kekar.
“Dari mana asalmu, anak muda?”
Ia menyebut beberapa bangsa di Nusantara. Ia mantab saja menyebut satu demi satu dengan senyum yang gelisah.
“Tetapi nenek dari ibu saya, Wonokromo.”
Saya membayangkan betapa sibuk ia mengumpulkan tetes demi tetes getih di nadinya.
“Ke Papua?”
“Iya, kapan itu.”
Dua minggu ia tinggal di ujung timur yang masih cita-cita untuk wanita yang mereka sambangi. Sedangkan kawan yang ia temani mendengarkan dengan seksama. Sejatinya si penggelisah mengantar, kawannya pamitan segera melepas jangkar. Mereka berboncengan ke arah selatan menjumpai wanita paruh baya yang mengajak mereka menikmati sekejap sececap hangat buah hasil kebun, peraman dalam botol terasing.
“Kau ternyata bisa bicara ramai. Sekian lama mengapa diam saja?”
Pria muda sedang menguji keberanian mengenakan sarung ke mana-mana ini, tersenyum.
Baca juga: Malang, Mau Dibawa ke Mana?
Ia lalu berkisah: Papua Barat suatu ketika hidup di bawah pendudukan militer. Sebagai akibat dari pertikaian selama 13 tahun antara Indonesia dan Belanda yang “diselesaikan” melalui manuver diplomatik di mana Washington memainkan peran utama. Sengketa tersebut diserahkan dari pemerintahan kolonial Belanda ke Indonesia. Tuntutan masyarakat Papua agar pelaksanaan penentuan nasib sendiri harus dilakukan sebelum keputusan apa pun mengenai nasib negara mereka dikesampingkan atas tekanan AS memaksa Belanda untuk meninggalkan perjuangan kemerdekaan Papua.
“Kau sudah membaca sejauh itu? Tafsir siapa?” tanya wanita paruh baya, memandang lembut pada satu di antara dua.
“Solusi yang dicapai pada bulan Agustus 1962 – Perjanjian New York yang diratifikasi oleh Majelis Umum PBB – mengabaikan pendapat masyarakat Papua dan menempatkan mereka di bawah kekuasaan penguasa baru mereka. Sejak pengambil-alihan pemerintahan secara resmi oleh Indonesia pada Mei 1963, kondisi di Papua Barat terus memburuk,” tegas si anak muda mulai gerah dengan ketenangan air wajah si perempuan jiwanya mencangkung, menanti senja.
“Hanya sedikit orang di Indonesia yang akan menerima bahwa orang Papua Barat mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri. Sedangkan hampir tidak ada seorang pun di sana yang mempunyai akses terhadap informasi tentang apa yang telah terjadi dan apa kemudian terjadi di “provinsi” ke-26 Indonesia tersebut,” napas si pemuda memburu.
“Tunggu dulu, anak muda. Boleh ganti saya bicara?” tanya wanita dalam kurun dua dekade belajar mengeringkan luka jiwa, dirinya, sekelilingnya.
“Seorang lelaki tua bercerita di depan saya, ia duduk di kursi tepat di kursi yang kau duduki sekarang. Lelaki yang tak terbayang di khayalan saya paling liar, menangis. Ia mengibarkan bendera Merahputih untuk kali pertama disaksikan orang-orang dari PBB dan Belanda. Ia dan timnya, ditugaskan Soekarno berada di antara Ondoafi. Soekarno faham, tim kecil itu berlatar agama Katolik dan masuk ke hutan-hutan Papua yang sudah hampir tiga generasi dijaga para zending, para Evangelist dengan misi dan latarnya tersendiri. Bilakah ada penderitaan pada rezim berikutnya, so called pemerintahan Republik Indonesia, percayalah, penderitaan itu tak hanya dialami orang-orang Papua.”
“Betul, negeri ini tidak sedang baik-baik saja. Dan itu, dirasakan betul oleh yang memiliki kepekaan sempurna…”
Baca juga: Waktu Berhenti di KPPN Malang, Benda Bersejarah 17 Museum Ungkap Peradaban Manusia
Indonesia adalah kapal besar yang sudah berlayar lama, jauh sebelum Eropa merayakan penemuan katanya.
Jangan jauh-jauh, dekat sini agar hangat dan tak ada yang ingin pisah apapun situasinya. Papua dan entah serpihan mana di sini-kini, kita jaga. Saling menjaga ya?
Tiga bara menyala kemeretak pada senja hapus perlahan keterasingan bangsa menuju malam.
Turen, 17 Oktober 2024
