
Apakah monyet butuh pencitraan? Simak cerita ini.
Pada umumnya sekawanan monyet sangat nggragas buah pisang. Jangan sampai ada pisang masak pohon. Akan ludes seketika kalau ketahuan monyet-monyet sedang kelaparan.
Baca juga: Amsal Penguasa Diktator
Tetapi, ada sekawanan monyet yang kerap pakewuh ketika ada pisang masak. Ada seekor monyet, di antara sekawanan monyet-monyet itu, sangat dihormati oleh monyet-monyet yang lain. Ekornya buntung. Karenanya dipanggil kawan-kawannya yang lain Si Pudel.
Ketika ada pisang satu tandan, Pudel tidak ikut makan. Kawan-kawan lainnya dipersilakan untuk menghabiskan. Pesta pisang ini berlangsung tidak hanya satu dua kali. Berkali-kali. Mereka tidak berani berebut, karena sungkan pada Pudel. Sedangkan pudel hanya mengawasi saja, mereka makan pisang.
Kemudian, Pudel dikenal tidak suka makan pisang. Awalnya hanya dikenal dalam sekawanan monyet itu, lambat laun hampir semua monyet mengetahui Pudel tidak makan pisang.
Hal lain yang mereka kenal, Pudel suka membawa sekawanannya juka ada pisang yang sudah masak. Pudel mempersilakan kawan-kawannya untuk makan. Kebaikan Pudel menyebabkan kawan-kawanya tidak akan memulai makan pisang jika belum dipersilakan oleh Pudel.
Pernah mereka menemukan setandan pisang masak. Sekawanan monyet itu tidak segera makan pisangnya. Pudel tidak berada di tempat itu. Mereka menunggu sampai Pudel hadir di tengah-tengah mereka. Sampai tengah malam, Pudel belum juga datang. Mereka mengantuk dan tertidur mengelilingi pisang yang sudah menguning.
Baca juga: Kaki
Paginya, ketika mereka mulai terbangun, pisang yang mereka kelilingi tinggal separuh. Mereka mulai geger dan saling menuduh. Hampir bertengkar. Untungnya, sebelum matahari terbit, mereka tidak menemukan bukti bahwa diantara mereka telah menghabiskan pisang separuh tandan. Bahkan, mereka mulai menemukan jejak, ada yang mengambil pisang itu ketika mereka sedang tidur.
Mereka mengikuti jejak itu. Tidak jauh, di tempat yang agak tersembunyi, di bawah pohon Nangka, mereka menemukan kulit-kulit pisang berserakan. Mereka terkejut! Seekor monyet tertidur bersendepel pada pohon Nangka. Tidur karena kekenyangan. Monyet itu tidak lain adalah Si Pudel. Pelan, selangkah demi selangkah, mereka undur tanpa berisik.
Sejak itu, di antara sekawanan monyet itu menjadi pengintai. Monyet pengintai menemukan kenyataan, Pudel bukan monyet yang tidak suka pisang. Sebaliknya, ia merupakan monyet yang serakah. Kalau ada setandan pisang diberikan kepada sekawanan monyet, ia menyembunyikan setandan lainnya. Dan, ia santap sendiri.
Kalau selama ini Pudel tidak mau makan pisang, hanya pencitraan agar mendapatkan pisang lebih banyak dari sekawanan monyet lainnya.
(Editor: A. Elwiq Pr.)
