Sastra Berkait Erat dengan Pangan, Kok Bisa?

Editor Novel 1998, A. Elwiq Pr., bersama penulis M. Rosyid H. W., saat menjadi pembicara dalam diskusi Festival Sastra Kota Malang, dengan tema Aroma Pangan dalam Karya Ratna Indraswari Ibrahim. Foto/Kobis/Emanuel Yuswantoro

Pangan atau kuliner, tak hanya terkait dengan kelezatan rasa di lidah serta isi perut. Keberadaan pangan dengan berbagai keberagamannya, ternyata juga memiliki kaitan erat dengan sastra. Kok bisa?

Baca juga: Masyarakat Diajak Perkaya Kosakata Bahasa Indonesia

Kaitan sastra dan pangan ini, dibedah dalam sebuah diskusi dengan tema “Aroma Pangan dalam Karya Ratna Indraswari Ibrahim”, yang merupakan bagian dari rangkaian acara Festival Sastra Kota Malang (FSKM).

Penulis muda, M. Rosyid H. W., yang hadir sebagai salah satu narasumber dalam diskusi tersebut, mengungkapkan, kehadiran ragam pangan atau kuliner dalam karya sastra sangat terasa dalam sejumlah karya sastrawan Ratna Indraswari Ibrahim.

“Memang dalam sejumlah karya sastranya, Ratna menghadirkan keberagaman kuliner hanya sebagai cantolan saja. Namun, Ratna juga banyak menghadirkan kuliner atau pangan tersebut sebagai cerita utama,” tutur sastrawan yang tinggal di Sidoarjo tersebut.

Rosyid menyebutkan, dalam sejumlah cerpennya, Ratna menghadirkan keberagaman pangan sebagai cerita utama. Di antaranya dalam cerpen Serabi Berkuah, Permen, dan Sul Tidak Suka Makan Bubur.

Dalam cerpen Serabi Berkuah, kata Rosyid, Ratna dengan lugas menceritakan hubungan yang begitu erat antara tokoh utama dalam cerita dengan ibunya. Kuliner tradisional tersebut, menjadi sebuah kenangan anak terhadap ibunya, di mana keduanya sama-sama memiliki kemahiran membuat serabi berkuah.

Lebih lanjut Rosyid mengungkapkan, dalam cerpen berjudul Permen, dan Sul Tidak Suka Makan Bubur, Ratna juga mampu mengungkapkan persoalan gender antara laki-laki dan perempuan dengan media pangan.

Cerpenis muda yang pernah menempuh pendidikan tinggi di Kota Malang ini, juga menyebutkan, melalui tema pangan dalam karya sastranya, Ratna juga mampu mengungkapkan persoalan perbedaan kelas sosial, politik, hingga ketimpangan gender.

“Memasak yang selama ini diidentikan dengan dunia perempuan sebagai konco wingking. Di mana perempuan hanya bertugas untuk macak, masak, dan manak, justru bisa dibalik oleh Ratna dalam berbagai cerita-ceritanya menjadi kisah keberdayaan dan kemandirian perempuan,” tuturnya.

Baca juga: Kegagapan Manusia Perbatasan

Penulis A. Elwiq Pr., yang merupakan editor novel berjudul 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim, mengungkapkan, Ratna membangun karakter para tokoh dalam ceritanya, berdasarkan pengembangan pemikiran dan atau perasaan tokoh-tokohnya.

“Narasi yang dibangun cenderung tidak dengan cara deskripsi, atau penggambaran sebagaimana yang ditangkap panca indra. Ratna menciptakan para tokoh dalam ruang naratif, bersifat soliloquy atau perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut,” ungkap penulis yang tinggal di Turen tersebut.

Perempuan penulis yang aktif dalam Kelompok Belajar Menulis (Kobis) Merajut Sastra tersebut, mengungkapkan, ragam pangan atau kuliner dalam setiap karya sastra Ratna sangat menarik untuk di kulik. Ragam pangan itu, mampu menjadi salah satu penguat jalan cerita, dan terkadang hanya sekedar lewat namun menjadi warna dalam cerita.

Dia mencontohkan, dalam novel 1998, Ratna banyak menuliskan tentang penggambaran pangan atau kuliner yang terkait erat dengan tokoh serta jalan ceritanya. Salah satunya di halaman 7, yang dengan lugas menuliskan: “Menurutku pecelnya Bu Tiwi lumayan enak bila disantap menjelang tengah hari,”.

Selain itu, juga ada cerita tentang tokoh Putri yang merupakan anak wali kota, namun berada di kampus sendirian dan makan di kantin sederhana untuk mengisi waktu jeda kuliah.

“Menjadi tidak sederhana, ketika kita diantar Ratna menjumpai apa yang ada di benak Putri. Pecel jadi media untuk memperlunak dan menghilangkan kecanggungan Putri sebagai anak wali kota, bertemu kawan-kawannya yang merupakan orang-orang biasa,” ungkap penulis yang akrab disapa Donik tersebut.

Festival Sastra

Festival Sastra Kota Malang (FSKM) sudah dua kali ini digelar. Pagelaran FSKM tahun ini, digelar di Critasena, dengan mengangkat tema Jelajah Cita Rasa. Sejumlah rangkaian kegiatan juga telah digelar sebelum dimulainya FSKM, yakni sayembara cerita pendek (Cerpen) yang diikuti ratusan peserta dari berbagai kota di Jawa Timur.

Baca juga: Emak, Ibu Filosofis Daoed Joesoef

Sebanyak 10 karya cerpen terbaik dalam sayembara tersebut, dibukukan dan diluncurkan dalam rangkaian kegiatan FSKM. Selain sayembara cerpen, juga digelar Loka Karya Sastra yang diikuti para pelajar di Malang Raya.

Manajer FSKM 2024, Dewi R. Maulidah mengungkapkan, dalam acara puncak FSKM 2024 yang digelar selama empat hari, 26-29 September 2024, menghadirkan para sastrawan, penulis, seniman Indonesia, dan komunitas di Malang.

“Sastrawan, penulis dan seniman yang bakal hadir, yaitu Afrizal Malna, Abimardha Kurniawan, Bramantio, Muna Masyari, Yusi Avianto, Reda Gaudiamo, Frisca Saputra, Mashdar Zainal, Yusri Fajar, Djoko Saryono, dan Ary Budhi. Selain itu ada Tengsoe Tjahjono featuring Spledid Dialog, Kelompok Bermain Mlebu Metu, Teater Ruang Karakter, serta Komunitas Puisi Kata Pengantar,” terang Dewi.

Menurut Dewi, melalui tema Jelajah Cita Rasa, dapat mempertemukan para penulis, pembaca, pengamat, penikmat sastra, hingga para pelaku sastra, untuk saling berbagi pengetahuan kesusastraan.

Tema Jelajah Cita Rasa, kata Dewi sengaja dipilih, karena berhubungan dengan perjalanan dan jamuan, budaya kuliner atau pangan. “Kami juga mengaitkan dengan wisata kuliner yang bersejarah, baik secara lokal maupun domestik rumah sebagai cakupan gastronomi sastra,” imbuhnya.

Ketua Komunitas Pelangi Sastra Malang, Denny Mizhar mengungkapkan, Festival Sastra Kota Malang, pertama kali terlaksana pada tahun 2018 dengan nama “Pekan Sastra Kota Malang #1”, dan pada tahun 2020 digelar secara virtual akibat pandemi Covid-19, dengan tema “Pekan Sastra Kota Malang #2”.

“Festival ini, bermula dari perayaan karya dan wacana kesusastraan di Malang, dengan nama Pekan Sastra Kota Malang. Ada perbedaan durasi waktu, jika Pekan Sastra Kota Malang kami selenggarakan dalam waktu sepekan, Festival Sastra Kota Malang dilaksanakan lebih fleksibel,” ungkap Deny.

Baca juga: Pertemanan Marx – Engels dan Terciptanya Das Kapital

Lebih lanjut Deny mengatakan, FSKM 2024 terselenggara dengan dukungan Bidang Kebahasaan dan Kesastraan: Penguatan Komunitas Sastra, Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi melalui Pusat
Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *