Emak, Ibu Filosofis Daoed Joesoef

Judul      : Emak
Penulis   : Daoed Joesoef
Penerbit : Kompas
Cetakan : Kedua, 2005
Tebal      : 309 halaman

Memoar ini ditulis Daoed Joesoef. Pertama kali terbit pada 2003 saat usianya menginjak 77 tahun. Daoed bukan sekadar penulis, ia juga seorang seniman, akademisi, aktivis, sekaligus politikus.

Baca juga: Pertemanan Marx – Engels dan Terciptanya Das Kapital

Dalam buku ini, Daoed mengisahkan sosok ibunya yang akrab ia panggil Emak, dengan penuh cinta. Mulai dari latar belakang kehidupan mereka berada di Kampung Darat, Medan, hingga perjalanan Daoed meraih gelar Doktoral di Sorbonne, Prancis.

Kisah dimulai, Daoed muda berada di ruang ujian disertasi. Ia menjadi orang Indonesia pertama yang dianugerahi gelar Doctorat d’Etat dari Sorbonne pada tahun 1972.

Di awal kisah, ia menggambarkan sosok emaknya, ia tulis: “membayangkan lagi wajah orang-orang yang telah membantuku mencapai sukses yang membanggakan ini. Barisan orang-orang ini ternyata cukup panjang dan di ujung permulaannya tegak berdiri seorang perempuan, biasa kusebut ‘emak’,”.

Meskipun buta huruf, Emak digambarkan sebagai perempuan bijak dengan pemikiran maju. Petuah-petuahnya sederhana, namun memiliki makna yang dalam. Salah satu nasihat yang sangat membekas adalah: “kalau kita tersesat bukan berarti kita akan hilang dalam perjalanan, maka jangan ragu-ragu mengambil jalan yang tidak umum. Setelah orang-orang melihat hasil ini, lama-lama mereka akan mengikuti langkahmu dan jalan ini lalu menjadi jalan orang banyak. Tapi kau tetap yang memulai, yang merintis. Ini berlaku baik dalam arti harfiah maupun secara kiasan,”.

Nasihat emak tersebut, menjadi landasan bagi Daoed setiap kali mengambil keputusan penting dalam hidupnya.

Baca juga: Virus

Setiap bab dalam buku ini menyuguhkan pemikiran kritis yang berasal dari kebijaksanaan Emak, serta hasil asahan Daoed sendiri. Ada kisah tentang Uak Haji Muala yang menyarankan agar emak hanya menanam bunga mawar di pekarangannya. Emak menolak keinginan Uak Haji tersebut.

Dalam buku itu dijelaskan, Emak menanam bunga-bunga bukan dengan maksud memperdagangkannya. Bermacam bunga dan tumbuhan yang mengelilingi pekarangannya itu berasal dari seluruh dunia. Mulai pohon jeruk dari Aceh, hingga bunga Alamanda dari Amerika Serikat.

Keunggulan buku ini terletak pada gaya penulisannya, yang membuat pembaca larut dalam kehidupan Daoed. Mulai dari masa penjajahan hingga saat ia melanjutkan pendidikan ke Yogyakarta, dan Paris. Setiap kisah menyampaikan pesan filosofis yang berasal dari petuah Emak, menyentuh berbagai topik mulai dari agama, sains, hingga seni.

“Semua agama, tanpa kecuali, mengajarkan yang serba baik bagi kehidupan kita. Maka alih-alih saling berebut menonjol-nonjolkan simbol agama masing-masing, para penganut agama lebih baik membuat agamanya seperti garam saja, menyatu dan lebur dalam makanan, dapat dirasakan kebaikan manfaatnya serta ketepatan pemerataannya, tanpa kelihatan sedikit pun kehadirannya,”.

Membaca nasihat tersebut, patutlah kiranya emak disebut sebagai ibu rumah tangga yang filosofis.

Baca juga: Kemarin

Di akhir Bab XXII, terselip sebuah lukisan rumah yaitu rumah seorang Daoed Joesoef. Sederhana, halaman luas, dikitari bunga dan pepohonan. Daoed menuturkan bahwa emak biasa memasang lampu teplok kecil, meletakkannya di bagian tengah lantai serambi depan, dan membiarkannya menyala sampai pagi.

Menurut emak, cahaya yang memancar dari rumah di malam hari merupakan tanda “selamat datang” bagi yang sedang berada di luar rumah. Daoed pikir, ada benarnya kebiasaan emak itu. Lampu teplok yang dibiarkan menyala merupakan simbol kasih sayang, menerangi jalannya sang musafir yang mau pulang.

Emak memberi warisan terbaik untuk putra-putrinya berupa pendidikan (ilmu pengetahuan dan agama). Emak berusaha keras untuk menyekolahkan mereka di sekolah terbaik. Ia bahkan mendorong Daoed untuk menimba ilmu sampai ke luar negeri. Bekal merantaunya bukan jutaan uang, namun sebuah nasihat yang cocok bagi kita semua.

“Kata orang, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Sebagai rumus umum pepatah ini ada benarnya. Namun bukan sekali-kali berarti bahwa kau harus begitu saja mengikuti kehendak orang-orang, harus selalu menyesuaikan pendapatmu dengan apa yang dipikirkan orang banyak. Sebelum mengambil keputusan atau menyetujui pendapat orang lain, tanyakan lebih dahulu nuranimu. Kau boleh membantah siapa saja kecuali nuranimu, Nak,”.

“Mengapa Mak?” tanya Daoed.

“Karena nuranimu itu merupakan tempat persemayaman Tuhan dalam dirimu,” jawab Emak, tanpa ragu-ragu.

Baca juga: Kegagapan Manusia Perbatasan

Buku ini cocok untuk siapa saja yang merindukan nasihat orang tua, atau ingin belajar kebijaksanaan dari sosok Emak yang membesarkan Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan 1978-1983.

Ampelgading, 11 September 2024

(Editor: A. Elwiq Pr.)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *