Sepatu Biru

Sepatu Biru. Foto/Artificial Intelligence (AI)/canva.com

Aroma gurih ikan goreng merebak dari dapur. Rain tengah memasak pagi ini. Hari ini ia tidak membeli kue di pasar sebagaimana biasanya ketika ia berbelanja stok mingguan kami.

Baca juga: Kisah Menguatkan Jiwa Remaja

Seperti biasa hari Sabtu, kami selalu terlambat bangun dan bergegas menyelesaikan apa saja rutinitas seharian di weekend ini.

Komputer di kepala saya berbunyi, “Tinggggg…! Pasti makan enak ini,” gumam saya.
Rain sepertinya sangat sibuk, memasak sekaligus memperbaiki pipa di wastafel dapur yang sudah beberapa hari ini bocor.

“Itu mau potong pipa di mana lagi?” seru saya. Rain melintasi kamar sambil memegang pipa dan gergaji kecil.

“Pasti di halaman depan itu pipa to?!” seru saya lebih keras.

Rain menimpali tapi suaranya tidak kudengar.

Beberapa saat ia masuk, “Mesin cuci macamnya rusak,” ucapnya sedikit panik.

“Kerjaan saya masih banyak eh, mati kalo cuci manual!” lanjutnya.

Saya ikutan panik.

“Habissss looo, mana saya ini pake pakaian sehari paling kurang lima lapis,” sahut saya, terbayang pekerjaan si Rain pasti semakin banyak dan ini akan berimbas juga pada saya. Segala mobilitas dan kebutuhan saya pada tangan dan kakinya akan ikut terkendala.

“Haduh coba kau cek-cek di soket listriknya atau apalah itu…” ujar saya, sok mengerti.

“Nantilah, saya masih masak dan bereskan pipa,”.

Baca juga: Kelinci dan Bidadari

Saya mengira hari ini dia masakannya memakai bumbu Tom Yam pemberian Bu Heni beberapa waktu lalu. Sepertinya dia belum berani mempraktekkan apa yang Bu Heni pesankan.

Saya menunggunya menyelesaikan pekerjaannya hingga jatuh tertidur lagi ketika dia masuk dan membangunkan saya untuk makan pagi.

Saya menghabiskan ikan goreng dan beberapa kepala ikan gorengnya.

Di pasar Rain punya langganan penjual ikan air laut, kami tidak tahu nama penjualnya tapi si ibu tua penjual ikan itu mengenalinya dengan baik. Buktinya tiap akhir pekan baik Sabtu maupun Minggu, si ibu penjual ikan menyiapkan potongan kepala ikan tongkol yang tidak diminati pembeli tersebut diberikan pada Rain secara cuma-cuma. Khusus Rain! Dan untuk harga ikannya diberi diskon, begitulah!

Sambil makan, Rain mengecek bantalan cok mesin cuci tadi. Dia memeriksanya menggunakan obeng, saya tidak yakin dia lihai kelistrikan, tetapi ajaibnya dia sering berhasil memperbaiki beberapa kerusakan itu. Begitu juga mesin cuci kami pagi ini, tiba-tiba bisa menyala dan baju-baju kami bisa dicucinya hingga selesai.

Rain tertawa senang, saya sangsi dengan apa yang terjadi, macam mimpi saja! Rain tentu tidak sekedar menertawakan mesin cuci tetapi ia juga menertawakan saya yang tadinya sudah pucat memikirkan harus membeli mesin cuci baru. Dasar!

Ia mengambil sepatu boots biru dan mencucinya menggunakan mesin cuci yang baru “diperbaikinya” itu.

“Ini sepatu palingan dibikin di Cibaduyut terus dijual ke Singapura, terus dijual lagi ke Thailand,” ujar Rain sambil menyikat sepatu itu dan mengolok saya.

Rain tahu saya sangat menyukai dan membanggakan sepatu tersebut karena selain berwarna biru, sepatu itu juga dibeli di Thailand oleh Bu Heni beberapa tahun lalu.

Dua hari lalu saya tiba-tiba saja ingin memakai sepatu tersebut dengan outfit batik saya yang berwarna biru juga, saya ingin senada tetapi ketika hendak dipakai sepatu tersebut kotor dan berdebu, saya gusar sekali dan menceramahinya.

Mungkin karena itu dia menyikati sepatu itu sambil mengolok saya. Dasar!

Baca juga: Kelinci dan Bidadari

Di dapur sana Rain rupanya masih memasak menu lain. Katanya “Singkong Thailand”. Saya tidak begitu yakin apakah rasanya sama seperti yang selalu ia beli di pasar Jumat, pasar yang hanya di gelar di hari Jumat di sepanjang jalan depan kementerian pertahanan itu.

Ini kali kedua ia memasak menu ini, kali pertama singkongnya masih terasa alot, meski ditutupi dengan rasa santannya yang cukup gurih. Kali ini entahlah, kami belum mencobanya. Toh kalau rasanya aneh saya pun harus tetap memujinya seperti yang sudah-sudah.

Jakarta, 14 September 2024

(Editor: A. Elwiq Pr)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *