Kisah Menguatkan Jiwa Remaja

Judul buku : Fire in the Heart (Novel Spiritual Bagi Remaja)
Penulis       : Deepak Chopra
Penerbit     : Teraju (PT Mizan Publika), Jakarta, Agustus 2005
Tebal          : xii + 294 halaman

Membaca buku-buku karangan Deepak Chopra, kita akan selalu tertantang untuk memahami dan menyelami makna hidup yang lebih dalam. Di samping karena pengarang tersebut seorang yang berpengalaman –sekaligus guru– dalam bidang spiritual, apa yang disampaikan dalam buku-bukunya senantiasa memiliki nuansa filsafat, psikologi, teologi, juga mistisisme.

Baca juga: Kegagapan Manusia Perbatasan

Dalam buku Fire in the Heart ini, visinya masih seputar bagaimana agar terjadi “penyembuhan” yang dapat mengubah masyarakat yang sedang “sakit” ini dan mengubah dunia menjadi damai dan membahagiakan. Karena itu penulis keturunan India ini menggunakan modus spiritual untuk menyelami dan membangkitkan kekuatan yang ada dalam diri setiap manusia.

Agak berbeda dengan buku Deepak Chopra bertema spiritual lainnya seperti The Higher Self, Journey to the Boundless, Megical Mind Megical Body, atau Synchro Destiny, buku ini ditulis dalam bentuk kisah atau novel. Kemasan dengan gaya bercerita yang subyektif ini menyedot perhatian, imajinasi dan empati sehingga membacanya terasa mengalami sendiri peristiwa-peristiwa yang dikisahkan.

Menyelami dimensi spiritual –yang sesungguhnya sulit dan rumit—dalam buku setebal 294 halaman ini menjadi terasa ringan, menggugah, mencemaskan, kadang jenaka, sekaligus menghanyutkan dalam aliran alur deras penuh perenungan. Kita tidak perlu terlalu rumit meniti konsepsi abstrak spiritual.

Kisahnya dimulai dari pertemuan seorang remaja berusia 15 tahun dengan Baba, seorang laki-laki tua berjanggut putih panjang dengan mata bersinar cerah. Baba –sebutan untuk seseorang yang dianggap bijaksana atau mulia—secara misterius muncul menyapa remaja tersebut ketika berangkat sekolah yang kebetulan melewati pusaran kabut.

Saat misteri itu belum terjawab, Baba sudah menghujam dengan ajakan: “Sudah saatnya kau mengetahui,”. Apa? “Hal-hal yang tidak terlihat. Hal-hal rahasia,”. Remaja ini menuruti ajakan Baba dengan penuh tanda tanya. Maka terjadilah dialog yang penuh makna spiritual sekaligus praktik-praktiknya. Anehnya semakin dalam ia mengikuti semakin bermunculan misteri-misteri kehidupan. Baba menuntunnya untuk menguak misteri-misteri itu.

Baca juga: Kelinci dan Bidadari

Hal pertama yang mereka kuak adalah pembuktian bahwa remaja tersebut memiliki jiwa yang bersemayam dalam hatinya. Jiwa itu adalah sumber “kenyataan yang sebenarnya,”, yang membawa pada kedamaian dan kebahagiaan. Pada hari-hari berikutnya Baba mengajak remaja itu untuk menemukan jawaban: Bagaimana impian menjadi nyata? Apa kekuatan terbesar di alam semesta? Juga, bagaimana dapat mengubah dunia?

Bagian kedua buku ini berkisah tentang impian atau hasrat. Setiap manusia memiliki hasrat karena hidup itu sendiri adalah hasrat. Ada pohon impian yang akan memberikan setiap permintaan seseorang. Dalam kisah Pohon Impian ini setiap orang yang minta pertolongan dan terkabulkan, tetapi selalu saja mereka kembali dengan kekecewaan dan menebang pohon itu.

Sebuah kisah yang menggelitik: seorang ibu datang ke pohon impian dan meminta; Aku tidak menginginkan apapun di dunia ini, kecuali cinta dari suami dan anakku. Permintaan itu terkabulkan. Tetapi lima tahun kemudian dia datang lagi dengan pakaian compang-camping dan memaki pohon itu. “Suamiku sangat mencintaiku, sampai-sampai dia tidak tega meninggalkanku untuk pergi bekerja. Anakku selalu menangis, kecuali aku terus menerus bersamanya sepanjang waktu. Mereka mencintaiku, tetapi kami jadi miskin. Aku jadi orang yang paling malang di dunia,”. (hal.83)

Apa yang salah dari kisah itu? Baba bertutur, “Mereka semua menginginkan hal-hal yang tampak dari luar. Kau harus meminta yang jauh dari dalam diri, dengan demikian, kebijaksanaan tertinggi akan ada dalam genggamanmu,”.

Adegan lain yang dikisahkan dengan menarik adalah tentang cinta, yang menjadi sumber kekuatan terbesar di alam semesta ini. Kisah cinta yang telah berubah menjadi kekuatan kosmik: ada seorang laki-laki yang suka berdoa kepada Tuhan ditanya, “Apa doa yang pantas untuk-Nya?” Dia menjawab, “Aku berdoa dengan kata-kata yang ada dalam hatiku,”. Pendeta mengajari laki-laki itu tata cara ritual untuk menghadap Tuhan. Setelah selesai, Pendeta merasa puas dan pergi berlayar. Ketika sudah jauh laki-laki itu mengejarnya dengan berlari di atas air untuk mengatakan, “Maaf tuan, dapatkah kau kembali mengajariku cara yang benar untuk berdoa? Sepertinya aku lupa,”. Menyaksikan kenyataan itu, sang Pendeta seketika berlutut dihadapan sang pecinta sejati Tuhan. (hal.133)

Kecintaan yang memancar dari hati itulah yang akan mempertemukan manusia dengan Tuhannya. Kecintaan yang tulus tidak akan melakukan penipuan, kebohongan, dan menyembunyikan kebenaran. Melepaskan penyamaran adalah satu-satunya yang diinginkan Tuhan. Kalau sudah demikian semua jiwa layaknya emas murni.

Baca juga: Pak Hakim

Perbedaan manusia diibaratkan sebagai perhiasan. Adakalanya kalung merasa lebih unggul dari cincin. Sebaliknya arloji merasa lebih rumit dibanding kalung. Pertengkaran itu didengar oleh sebuah jam tua dan dihentikan dengan jawaban, “Sebuah cincin tidak sama dengan kalung, dan seuntai kalung berbeda dengan arloji. Namun kalian semua dibuat dari emas murni, dan itu yang membuat kalian sama,”. (hal. 217).

Inilah kisah-kisah Chopra yang maknanya dapat mengubah dunia. Makna yang menyuarakan dengan lantang “Aku adalah bagian alam semesta dan alam semesta adalah bagian dari diriku,”.

Buku ini menjadi lebih mengesankan karena kisahnya adalah pengalaman Deepak Chopra sendiri. Buku yang menjadi kisah awal mula laki-laki yang bukunya sudah terjual jutaan copy ini dalam menyelami dunia spiritual. Tonggak yang kemudian menjadikannya tidak hanya seorang spiritualis, tetapi juga guru spiritual yang mendedahkan pengetahuan spiritual kepada siapapun yang bersedia mengikuti jalannya.

Fire in the Heart memang berkisah tentang spiritual remaja. Tetapi isinya tidak hanya patut dibaca oleh remaja, juga setiap orang yang mau menggunakan cara pandang terbuka untuk mengubah dunia menjadi damai dan membahagiakan.***

(Editor: A. Elwiq Pr.)

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *