Penyair dan Penyu Air

Yono mengirimi Sri puisi karya penyair kawakan. Sri wangi bunga Seruni dan semua orang tahu kedekatan Yono dengan sang penyair di masa lalu. Sedangkan pagi itu Sri sedang berjudi untuk kehilangan kawan yang ini atau justru pertemanan mereka menemukan jalan kesejatian. Sri Seruni sampaikan sebaik-baiknya. Sri utarakan bersama kesadaran pagi dan sisa embun di daun keladi.

Baca juga: Soesilo Toer, Ziarah Literasi

“Tidakkah saatnya engkau pergi meninggalkan penyair tua itu?” kata Sri, lebih ditujukan pada dirinya sendiri.

Yono berkata, “tak apa… aku tak jadi apa-apa saja. Doanya lebih indah dari doaku. Lebih cocok dengan keadaan hari ini. Biar dia saja yang besar sebagai penyair. Aku hanyalah penyu air,”.

“Menurutku justru ia punya doanya sendiri dan doamu punya perjalanannya sendiri. Keduanya sepatutnya hidup dan saling melengkapi. Masa lalu dan masa sekarang. Di sini. Kini. Jadi penyu air manis juga,” sambut Sri sungguh-sungguh.

“Ah lupakan sajalah tentang nama besar dan segala mitos-mitos itu. Maaf telah mengganggu pagimu,” pungkas Yono padahal baru juga memulai pembicaraan.

Sri tahu porsi. Ia tak memaksakan diri bila Yono ingin sudah. Toh sudah atau belum bukan nama besar yang sedang Sri urusi. Sri orangnya penakut dan mudah menangis. Gampang sekali luluh bahkan linglung untuk hal kecil-kecil.

Baca juga: Lelaki Tua dan Nama

Sri melempar koin keberuntungan, “Kau salah mengerti yang kumaksud. Kalaupun saya yang salah menangkap maksudmu. Ya, saya minta maaf,”.

Yono berlalu sejak itu dan Sri meneruskan menderas buku.

“Jeng Sri, tolong ya lusa mocopatan, untuk Yu Jah,” seru gadis pemain dadu ulung itu meminta Sri datang ke arena pacuan.

Sri memandangi bintang timur dini hari ini. Berkedip lirih.

“Baik,” sambut Sri.

Sri menelan pahit kata-katanya sendiri.

Mojolangu, 1 September 2024.

(Editor: Titik Qomariah)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *