Semar Mendem

Sudah jadi kebiasaan, bila naik angkot saya selalu mencari tempat duduk di depan. Samping pak sopir. Demikian pula pada hari ini.

Baca juga: Secangkir Teh

Sejak membuka pintunya, saya sudah dikejutkan sopirnya ibu-ibu. Namun, berbeda dengan istilah “emak-emak” yang kalian kerap sebutkan, bila menjumpai sopir wanita yang menyalakan lampu lifting kiri tapi beloknya ke kanan.

Emak-emak yang ini terkesan lugas, tegas, tapi tetap saja kepo, sekepo emak-emak pada umumnya, baik dia menyetir kendaraan atau tidak.

“Sepatunya Kickers ya?” sapanya, belum juga pantat saya mendarat di jok sampingnya itu.

“Oh, iya! Tapi ini sandal,” jawabku sekenanya karena kurang nyaman ditodong pertanyaan seperti itu.

Alih-alih memberikan kesempatan dia melanjutkan aksinya yang entah apa, tapi saya yakin itu sudah tersusun di dalam kepalanya. Saya pun berusaha tak balik memperhatikan apa yang dia kenakan dan lainnya, demi tidak meninggalkan kesan saya senang ditanyai lebih lanjut.

Baca juga: Menulis Resensi

Saya merogoh-rogoh isi tas, berusaha menemukan alasan apa yang saya cari. Aha! uang recehan, tujuan saya tak sampai 500 meter, saya pikir tidak perlu membayar Rp5.000 sebagaimana tarif jauh-dekat yang berlaku. Namun niat saya itu dipatahkan suara yang membuat jantung saya seperti melompat keluar.

“Nyari apaan sih, nih sini, tumpahin isinya semua di sini,” ujarnya sambil
menunjuk dashboard mobil di depannya. Saya hanya bisa melongo ke arah dalam tas, melongo ke arahnya pun saya khawatir. Ini intimidasi. Saya lebih merasa seperti bertemu seorang pria yang bebal daripada ketemu sesama wanita yang seharusnya memahami kebiasaan kaum kami.

Alih-alih merahasiakan apa yang sebenarnya saya cari, saya jawab saja pertanyaannya.

“Ini, kabel kejepit ke mana-mana,” jawab saya sambil menarik kabel earphone ke udara. Lantas masukan kembali ke dalam tas, meninggalkan kesan saya menaruhnya dengan seksama.

Belum selesai saya lakukan atraksi itu, sopir betina ini, hmmm, ya saya menyebutnya betina, alih-alih wanita. Lagak lagunya seperti induk ayam paling galak. Induk ayam adalah betina paling ganas disaat anak-anak ayam sedang belajar mentas. Seorang penumpang minta diturunkan, lalu saya pun berkata, “Saya juga mau turun, tapi di depan lagi sedikit, tempat fotocopy,” sambil mengangsurkan uang sepuluh ribu.

Baca juga: Bangku Kosong

“Kerjanya di Pemda ya?” serobotnya tanpa ampun.

“Itu, tulisannya!” saya pun clingak-clinguk mencari tulisan yang dimaksud, lalu sadar tas saya dengan gantungan dari Pemkot Papua itu yang membuat kesimpulan si Betina ini.

“Enggak, saya kerja di TK,” kilah saya yang sulit mengarang dalam kondisi terjepit.

Dia mengembalikan uang Rp6.000, tak lama saya minta diturunkan di tempat yang saya maksud.

“Oh, di sini,” ujarnya sedikit terkejut, ternyata saya hanya sebentar saja menjadi korbannya.

“Bukanya dari luar, liat kiri dulu. Ya, begitu, hati-hati yaa!,” serunya tak sedikitpun kehilangan energi besar yang sedari awal ia perlihatkan. Sedikit terhuyung saya ke luar. Rasanya seperti terbebas. Ke luar dari mulut buaya.

Komsen, 17 April 2018

(Editor: Titik Qomariah)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *