
Cerita dimulai dari kabar seseorang di masa lalu, datang bersama kawan mengajak keluar dari sarang. Melintasi ruang, meninggalkan waktu. Tak ada tempe, tahu habis, dan bambu-bambu rumpunnya menguning.
Baca juga: Di Warung Kopi
Kupu-kupu entah ke mana. Burung berkicau sebentar diusir musik tiktokan. Lebah madu bersliweran menyanyikan kidung musim kemarau. Tak menemukan yang dicari.
Anak-anak muda potongan tentara meriap-riap bersama gadis-gadis mencuri tatapan.
Menatap jurang, curam di depan. Ranu di balik kabut, “itu jalur yang Soe Hok Gie ambil menuju Semeru,” tukasmu.
Bangku di depan terisi, kosong tak berapa lama seperti yang kau utarakan. Beku bangku di antara yang mampir minum.
Baca juga: Lorong Mimpi
“Yuk, lé. Ke rumah buyut. Kita belikan semangka ya,” ujar ibu muda kepada bocah balitanya semacam permintaan kepada suaminya. Jangan-jangan buyutnya seumuran kamu.
Bangku kembali kosong. Saatnya kau pun berkemas-kemas. Dalam lindap angin nyaring mendesak.
Turen, 19 Agustus 2024
(Editor: Titik Qomariah)
