
Kamu datang lagi
di mimpi malam tadi
lorong pasar masa kecil
jumpritan sebelum matahari tinggi
Mbok Rah penjual lupis
Wak Ngat matanya awas,
di antara jembung grendul
ia menghafal siapa datang awal
Aku ngunngun
Mbahmu lanang melipat sarung
Mengutarakan pesan mutahir
dari radio mata kucing gelombang SW
Delapan orang datang
Disebar ke tujuh belas kampung
Menjaga agar tak ada ontran ontran
Belum kering darah anak kang No
digorok di prapatan
konon dia seorang dalang
Mbah putrimu beres beres
Diam diam sinjang dilipat rapi rapi
Anak anak berkumpul di ujung lorong
di antara perempuan saling bisik membisik
Bergegas pulang matahari belum tinggi
Esok pagi kabar di pasar mencekam
Empat sampai lima laki-laki bertato
Dikarungi di kali mati
Turen, 13 Agustus 2024
Baca juga: Senyum Bidadari untuk Tenaga Sapi

Lorong Cahaya
karnaval pating kemlonthang iring iringan
kamu mengajakku pada sunyi jalan
ke utara. capek? Kamu pastikan
Aku menggeleng tergugu
Bunga Terna bertelekan
Jadi pager ayu menuju lorong
biru dan mirip lagu Space Oddity
“Planet Earth is blue
And there’s nothing I can do.”
Aku memandangmu
Apakah kita?
Dalam lorong biru tanpa meragu
biru yang itu lambat laun
berubah hijau melaut berpetak-petak
Kamu genggam jadi antam
Kamu mau? Tanyamu
Aku menggeleng dan berlalu
menjauh darimu
Turen, 13 Agustus 2024
Baca juga: Citra Kali di Jakarta

Lorong Plengkung
Melintang dari barat ke timur
tiga ibu duduk di teritis rumah panggung
menatap lorong waktu di bawah plengkung
dulu jalan gang ditata batu kali serasi
Kala hujan, air pantang lari lari
ujar salah seorang
ketika ia muda jadi buruh cuci
Kini jalan aspal air hujan kebingungan
ditampung selokan tak seberapa
airnya tumpah tumpah
orang di bawah plengkung menganggap
Air hujan tiada guna
Siapa gerangan yang merancang?
Malu kita sama mbah mbah
Tak sekolah tapi tahu menahu
Air hujan jadi energi membangkitkan
hati, merawat naluri
Air lari ke mana?
Ibu logat Betawi, sejak dikawin pak Kusdi tentara
Ia tak pernah lagi menengok kerabat ke Cakung
Siapa saja yang melintas ia sapa sayangku
Seorang lagi bu warung menunjuk seberang plengkung,
ke situ, serunya
rumah bertirai perdu
halamannya menampung
Hari hari ia senang memandangi rumah itu
Sejak warungnya ditutup anak satu-satunya
dan jadi bengkel cucunya siang malam
Suara wang-weng tak ada toleransi
Melengkung jalan berujung setapak
Menuju sawah tinggal sepetak
Tiga ibu meninggalkan teritis
Satu demi satu: pulang
Turen, 14 Agustus 2024
(Editor: Iman Suwongso)
