
/1/
Kesepian telah mengeras
Di rongga dada kiriku
Seperti balok-balok es batu
Secepat mungkin kubawa lari
Rahasia dingin dan rasa nyeri
Keluar dari goa sunyi –bahasa
Seekor kelelawar menyambutku
Dengan tarian orkestra
Ranting-ranting hitam
Angin jalang berbisik
Menunjuk ke langit renta
: Bulan gotik bergaun duka
“Mungkin ia kehilangan
Kata merdeka, mungkin juga
Kamus dansa, mungkin ….”
Dan aku berhenti
Di hadapan batu purba
–Cita-cita yang keras kepala
Kuraba letak gemuruh jantungku
Sambil kugingat-ingat kembali
Cara diam panjangmu
Dulu, ingin sekali kupetik
Hela napasmu yang tipis
Dan menaruhnya di lebam paru-paruku
Tapi itu hanya lamunan
Seorang penganggur
Biar! Segera kuambil patahan lilin dari saku
Lewat tatapan layu
Kusaksikan lidah api menyala lembut
Membakar pelan-pelan seluruh kesepianku
/2/
Kuunduh gelap dan kutangkap
Namamu yang basah
Oleh hitam limbah tinta sejarah
Di hadapanku kata-kata menghambur
Keluar dari perpustakaan
Sekolah-sekolah dan kampus-kampus
Sederet puisi, esai dan fiksi
Juga setumpuk jurnal penelitian
Berjalan pincang ke arahku
“Janganlah kalian
Meminta belas kasihan
Seorang penganggur!” Sergahku
/3/
Sisa pepohonan di sekitar alun-alun
Seolah mengerti hikayat pesta
Dan bau gelisah manusia
Sambil duduk di kursi taman
Kubaca berita sepintas lalu:
“Sekawanan Babi Bercula Menyerbu Kota”
Ah, itu berita lama!
Koran-koran cetak, media-media digital
Bak kehilangan napas bahasa
Aku benci kata ‘kehilangan’
Pernah sekali kudengar: Pengetahuan telah menebar
Harapan sekaligus kutukan
Aku membenci dirimu yang pendiam
Sebagaimana aku membenci
Diriku yang pencibir
Maka biarkan kita berkelindan
Mencari ujung akar dan pokok dahan
Membanting punggung dan kemalasan
/4/
Rindu ini milik semesta ringkih
Bukan juga milik kita:
Musafir buta
Ingatanku masih segar
Tentang kisah cinta biru
Don Quixote dan Dulcinea
Di batas ngarai kegilaan
Ada ketulusan lapis baja
Di mana kewarasan berdetak abadi
Pada kisah suci itu, mungkin kita
Hanya seekor kuda kurus bernama Rocinante
Dan Sancho Panza yang lugu
: Yang tabah menelan debu
Menyesap pahit keringat
Dan asin air mata tuannya
Malang, 2024
Baca juga: Sesaat Pergi
Insomnia
Di muka cermin lusuh
Kulihat bola mataku
Sehitam biji kopi
Kuusap sisa keringat
Pada wajah kumuh
Seperti menyeka
Kenangan yang rapuh
Kesedihan adalah anjing hutan
Kehilangan mangsa dan kawanan
Duduk di tepi jurang malam-malamku
“Anjing hutanku, apa yang kaupandangi
dengan tatapan kosong itu?
Apa yang kaucari di tubir gelap ini?”
“Birahi yang teduh,
Gonggongan yang luluh,
Ruang hidup yang tak angkuh”
“Anjing hutanku, mendekatlah kemari
Lebih dekat dari pelukan kekasih
Lebih erat dari ikatan saudara tercinta
Lebih senyap dari semua penghiantan
Sebentar lagi kita akan saksikan
Menara mimpi segera runtuh
Di gerbang subuh”
Malang, 2024
Baca juga: Kisah Sang Saka Merah Putih, dari Prasejarah, Majapahit hingga Jahitan Fatmawati
Suatu Sore, Pameran Lukisan di Kota J
Lukisan itu seolah berbicara padanya
Tentang pohon-pohon purbakala:
Baobab dan Beringin
Rumah pertama bagi angin
Lalu sebatang sungai
(Ia mengira-ngira letak kedalamannya)
Setakat pinggang
Dicatatnya arus yang senantiasa baru
Serta ketabahan udang di sela batu
Di matanya laut dan cakrawala
Menyala hijau tosca
Senja merah krimzi
Siluet matahari hitam cemani
“Semua memancar
Dari tempatku berdiri”
Katanya meyakinkan diri
“Tapi di tanah ini, kepala rimba kota
Telah melepas macan-macan kertasnya
Mengacak-acak hutan adat
Lalu menyebar ke segala penjuru, memburu
Memangsa dan menipu”
Ucapnya seperti menegur diri sendiri
Ia tertegun dengan tatapan nanar
Seperti ratapan seorang aktor
Di penghujung monolognya
Malang, 2024
Ahmad Musawir, lahir di Pamekasan, 7 Mei 1989. Penulis bergiat di Komunitas “Baca Lambat”, Gasek, Sukun, Kota Malang.
(Editor: Iman Suwongso)
