Amsal Penguasa Diktator

Kalau kamu ragu pada dirimu, juga lingkunganmu, dengarlah kisah kekejaman ini.

Sahdan, ada satu negara yang hidup dan mati rakyatnya tergantung sabda pemimpinnya. Pejabat-pejabat yang diangkat tidak lain karena kemauan pemimpinnya. Jangan ditanya bagaimana menggunakan anggaran. Uang negara dikeluarkan semau-maunya pemimpin. Kalau hari ini pemimpinnya membutuhkan biaya untuk pelesir ke dalam magma bumi, harus diadakan. Bagaimanapun caranya! Perencanaan yang disusun hanya bulsit belaka.

Baca juga: Kisah Sang Saka Merah Putih, dari Prasejarah, Majapahit hingga Jahitan Fatmawati

Kalau hari ini ia sedang gundah hatinya, karena cintanya ditolak oleh seorang wanita cantik, ia akan perintahkan untuk memusnahkan seluruh wanita cantik di seantero kota. Perintah itu harus dilakukan detik ini juga. Tidak butuh kriteria wanita cantik. Tidak butuh data pribadi wanita-wanita itu. Tidak ada kata; ba-bi-bu. Tidak ada pertanyaan bagi yang diperintah. Apalagi tentang cara. Dengan segala cara!

Para petugas tidak bisa mengendorkan langkahnya. Seandainya pun wanita cantik itu istrinya, anaknya, saudaranya, atau tetangganya. Perasaan dibuang jauh-jauh. Yang ada di dalam kepalanya hanya wanita cantik dan lehernya memuncratkan darah. Mata cantik melotot menyambut ajal. Atau teriakan menyayat suara merdu penyanyi cantik dilempar ke dalam jurang.

Tidak ada kata menolak bagi yang diperintah. Kalau berani, nasibnya persis wanita-wanita cantik itu. Darah muncrat di leher, mata cekung melotot dicekik ajal, atau tubuhnya melayang-layang di udara sebelum terhempas di dasar jurang. Berani mati?

Baca juga: Amsal Burung Pelatuk

Suatu saat, negara ini keuangannya hancur, pekerjaan sulit, pengangguran meraja lela, orang hanya bisa minum dari air sungai yang kotor. Rakyatnya miskin, semiskin-miskinnya kemiskinan. Pemimpin nagara ini tidak mau dianggap gagal memimpin karena kemiskinan yang meraja lela itu. Ia memerintahkan kepada bawahannya untuk membasmi kemiskinan itu. Bagaimana caranya? Ekonomi sedang ambruk, sementara kemiskinan harus dibasmi?

Seorang pembisik membisiki pemimpin negara ini. “Mustahil melenyapkan kemiskinan yang akut ini, Tuan.”

“Tidak peduli! Bagaimana pun caranya!” bentak Sang Pemimpin.

“Lenyapkan orang-orang miskin itu, Tuan. Dengan demikian kemiskinan itu akan hilang dengan sendirinya. Lebih baik rakyatnya sedikit, tapi kaya raya.” Nasihat pembisik.

“Laksanakan!” perintah Pemimpin menggelegar.

Tidak butuh waktu lama, orang-orang miskin tak tampak lagi di muka bumi negara ini. Tetapi, ada satu orang miskin yang bisa menyusup ke istana Sang Pemimpin, entah bagaimana caranya. Sang pemimpin terkejut. Penyusup itu bajunya compang-camping, dakinya tebal karena tidak mandi berbulan-bulan. Baunya menyeruak megalahkan bau wangi kasturi di ruang istana. Pemimpin itu mau muntah. Ia menutup mulutnya dengan saputangan sutra. Dan jarinya hanya bisa menunjuk-nunjuk penyusup itu. Tak perlu diceritakan panjang lebar tentang penyusup itu, karena ujung kisahnya tidak lain adalah mati.

Baca juga: Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang

Jadi, saudara-saudaraku para hewan yang mengetahui kisah ini, jangan terpengaruh. Tetaplah pada naluri surrender ritual (kebiasaan mengalah dalam perebutan kekuasaan) yang kalian miliki. Anggap kisah itu tidak ada!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *