Amsal Pohon Rambutan

Burung Pelatuk. Foto/Dok. A. Samian

Ibu kucing yang baru melahirkan itu bernama Nana. Subuh, ketika orang-orang di kampung Kecipir belum pulang dari langgar, Nana beranjak dari semak-semak di bawah sepasang pohon Rambutan.

Baca juga: Amsal Burung Pelatuk

Ia duduk di kursi teras rumah yang akan dipadamkan lampunya dan tak berapa lama pintu akan dibuka, makanan renyah akan terhidang. Nana sibuk mandi. Menjilati seluruh badan dan mata. Terutama mata mesti bersih dari kotoran, agar disayang dan mendapat makan.

Kemarin malam, ia berkenalan dengan Karti, burung Pelatuk dari kaki Gunung Semeru. Sebetulnya yang kena jebak getah kawannya Banu, Cucak Ijo. Dia ingin menolong tapi naas, ia terangkut. Dibawahlah Karti dan Banu melintasi jalan berliku-liku, sampai di sebuah tempat. Di sebelah mereka, bunga-bunga bertaburan, tapi semuanya seperti mumi. Cantik tak bernyawa. Beberapa tanaman pakis dan monstera tampak tua dan angkuh geming ketika Karti uluk salam.

Ia sebetulnya ingin bertanya, oh Anggrek, namanya bagus-bagus. Mereka mirip yang ia kenal di tempatnya tinggal. Hanya yang di sini tampak pucat. Kabar dari bisik-bisik di antara mereka, mereka secara teratur minum obat. Agar awet muda dan warnanya sesuai yang diinginkan tuan-tuannya.

Banu menjawil, “Sekali patuk, kurungan ini akan terbuka. Kau pulang lah. Kabarkan pada kawan-kawan untuk hati-hati Kepada keluarga anggrek, sampaikan salamku padanya. Semoga semuanya selamat.”

“Kamu?”

“Aku di sini. Agar orang-orang itu tenang. Yang mereka mau aku, bukan kamu.”

Dengan pembicaraan alot dan membuatnya tersedu-sedu, Karti manut. Persoalannya dia tak tahu arah. Di tempat ia tinggal saja suka tersasar ke pohon mbok Jah, apalagi di tempat yang ia tidak tahu utara dan selatannya.

Baca juga: Irina, Nur, dan Maya Kawan Kita

Ia menangis, sampai di segerumbulan pohon yang tidak jauh lagi, pikirnya. Karena ia menjauh dari tempat matahari terbenam.

Semut dan beberapa serangga, hidup di antara kerikil. Pohon Rambutan sepasang menyambut. Karti diperingatkan untuk jangan lama-lama berada di bawah. Banyak kucing liar mengancam keselamatannya, kata mereka, wanti-wanti.

Karti minum di sebuah ember dengan air jernih. Tempat apa ini? Sambil minum ia memandangi sekeliling. Saat minum, lehernya terhimpit. Saat itulah ia berkenalan dengan Nana, tepatnya hendak dimangsa.

Hingga menjelang subuh, Nana dengan perut gomblah-gamblih usai melahirkan akhirnya tak jadi memangsa Karti. Ia terpana membayangkan cerita Karti tentang saudara-saudaranya yang tinggal di hutan dekat Gunung Semeru. Nana membayangkan surga. Tak takut lapar dan diusir orang-orang yang membawa sapu dan menyiram air kocahan.

“Ya, saat matahari terbit kau siap-siap ya, kuajak kau ke rumahku. Sekarang kita tidur. Perjalanan akan sangat melelahkan,” seru Karti menuntaskan ceritanya tentang pohon-pohon tinggi menjulang tempat ia tinggal.

Nana melamun sampai tertidur, ketika terbangun, Karti sudah pergi.

Turen, 9 Agustus 2024

(Editor: Titik Qomariah)

0 komentar untuk “Amsal Pohon Rambutan”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *