Amsal Burung Pelatuk

Burung Pelatuk. Foto/Dok. A. Samian

Sudah terlanjur ditasbihkan, menjadi contoh relasi mutualisme, brurung pelatuk mencari makan kutu di tubuh kerbau. Tetapi, kultus itu menjadikan hidup si Burung Pelatuk yang satu ini rumit. Ceritanya?

Baca juga: Amsal Burung Bangau

Alkisah, setiap pagi hari seekor Kerbau digembalakan di sepetak sawah. Seekor Kerbau itu digiring ke sawah sejak mulai bisa berjalan, sampai sekarang dalam usia yang sudah melampaui dewasa. Sepetak sawah itu sudah menjadi taman bermainnya, makan rumput di pematang, dan menceburkan diri di kubangan lumpur sawah untuk mendinginkan tubuhnya. Di situ dia juga berteman dengan banyak binatang.

Satu binatang yang setiap hari hinggap di punggungnya adalah, seekor Burung Pelatuk. Kerbau berteman dengannya, sejak burung pemangsa serangga itu baru bisa terbang, muar dari sarangnya. Ketika Burung Pelatuk itu hinggap di punggung Kerbau, ia menemukan kutu-kutu merambat di sela-sela bulu Kerbau. Ia mematuknya satu demi satu kutu-kutu itu. Sampai kenyang.

Sampai melintas siang hari, Kerbau dijemput pemiliknya, dibawa pulang, dimasukkan kandang. Sebelum berpisah, Burung Pelatuk mengucapkan terimakasih kepada Kerbau karena telah diijinkan memakan kutu-kutu di punggungnya. Demikian juga Kerbau, berterimakasih karena kutu-kutu yang membuatnya gatal telah dibersihkan Burung Pelatuk. Tak lupa, Kerbau mengucapkan selamat berpisah, esok ketemu lagi.

Demikianlah. Esoknya mereka bertemu, siangnya berpisah. Esoknya lagi bertemu, siangnya lagi berpisah. Pagi bertemu, siang berpisah. Bertemu, berpisah. Bertemu, berpisah sampai dewasa. Kalau Kerbau belum datang, Burung Pelatuk menunggu di ranting pohon yang tumbuh di pematang. Sebaliknya, kalau Burung Pelatuk belum datang Kerbau mendongak-dongak, mencari-cari keberadaan Burung Pelatuk.

Masalahnya, suatu ketika pemilik kerbau rajin membersihkan si Kerbau. Sebelum Kerbau digiring pulang, diampirkan dulu di Sungai. Kerbau dimandikan sampai bersih. Kandangnya setiap hari disikat dan disemprot insektisida agar telur-telur kutu mati. Kerbau selalu bersih dan tidak berbau kerbau lagi. Kutu-kutu yang selama ini kerasan di kulitnya mulai menghilang. Kerbau tidak gatal-gatal lagi. Tetapi Burung Pelatuk mulai kehilangan makanannya.

Berhari-hari Burung Pelatuk menceker-ceker bulu Kerbau, tidak menemukan seekor kutu pun. Tetapi, Burung Pelatuk tidak bisa pergi dari punggung Kerbau. Ia tidak dapat mencari serangga selain di punggung Kerbau. Ia menganggap tidak ada tempat lain untuk mencari makan. Macam-macam alasannya. Sampai akhirnya Burung Pelatuk tubuhnya menjadi kurus. Terbangnya tidak bisa lincah dan tidak bisa jauh dari sarangnya.

Baca juga: Pasar Kalabendu

Sampailah pada suatu hari, Burung Pelatuk tidak datang lagi ke sawah, hinggap di punggung Kerbau. Berhari-hari Kerbau termangu sendiri di tengah petak sawah. Kerbau berdoa, semoga Burung Pelatuk mendapatkan tempat baru yang lebih baik.

Jadi, selamat berhagia bagi kalian yang dapat menikmati setiap isi bumi ini, apa pun bentuknya.

(Editor: Titik Qomariah)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *