
Hari ini hujan turun. Deras. Tak bisa berhenti. Bila berhenti sebentar. Seolah ia mengambil nafas dalam, lalu turun berikutnya lebih deras lagi.
Baca juga: Irina, Nur, dan Maya Kawan Kita
Jalanan basah. Aspal-aspal yang malang. Kedinginan sejak tengah malam. Lalu lalang pun jadi jarang. Orang-orang lebih memilih di rumah. Mungkin, ditemani makanan ringan, secangkir minuman hangat di tangan. Mungkin pula hanya ada pemandangan alam, lelehan air mengaburkan kaca jendela.
Kubuka payung menghadap jalan. Kumainkan genangan sambil melangkah ke depan. Aku ingin mencarinya di tengah hujan. Memeluknya membawa pulang ke rumah. Iya, dia Mimi, kekasihku. Ia pergi semalam, meninggalkan mimpiku yang selama ini menjadi rumahnya yang nyaman. Dia bilang mimpi kami sudah waktunya berakhir. Agar matahari bisa bersinar, hari pun menjadi terang.
Aku berhenti di sebuah stasiun kereta. Hujan datang dan pergi. Seperti menanti gerbong lewat di depan peron. Yang datang membawa harapan, yang pergi memberikan kesempatan. Lalu, peluit panjang dibunyikan. Sebagai tanda berulang-ulang hingga tiba gerbong kita datang dan membawa pulang.
Baca juga: Rumah Tua
Teringat Mimi airmataku turun bersama hujan. Tak ada gerbong, tak ada Mimi, Tak ada mimpi.
Kupikir tanpa mimpi, mendung akan pergi. Oalah… mendung malah menjadi hujan. Hujan yang tak bisa berhenti.
Jatiasih, 12 Feb 2017 – 2 Agustus 2024
(Editor: Tititk Qomariah)
