
Teh mawar itu saya jumpai di rumah dalam gang. Dari sisi selatan kota naik angkutan ke arah utara, turun di perempatan Kaliurang. Masih ada becak di kota kecil kami. Dari perempatan Kaliurang menuju arah barat, jalanannya menanjak. Terus terang saya kuatir dengan penarik becaknya yang sudah tidak muda lagi. Betul, kurang dari limaratus meter, saya dioper bentor kawannya. Mereka kongkalikong saling bantu urusan rejeki. Kecil-kecilan saja. Dua kali lipat mesti saya rogoh kocek tak mengapa. Mereka bekerja dan tak meminta. Sebut saja saya kalah taktik untuk hal-hal yang tak saya lakoni setiap hari.
Baca juga: Bang
Senyum meringis mereka menggemaskan. Masih saya imbuhi minuman yang saya beli di toko kelontong Madura dekat gang kawan saya. Rumah kawan saya selalu hangat dan menyambut dengan obrolan seperti subuh tadi baru ketemu di langgar. Di meja jajanan pasar aneka rupa. Tak pernah surut dan selalu lezat menerbitkan rasa lapar. Nagasari-nya juara!
Salim ibu dan bapak, dua keponakan menyambut membuat hanyut dalam cerita mereka yang selalu seru. Mama si dua bocah dari belakang membawakan secangkir teh panas ditaburi kelopak mawar yang mereka rawat di dek atas rumah mereka. Harumnya membahagiakan.
“Teh apa ini?” tanya saya sumringah.
“Teh apa sih, mbak?” sambutnya, sambil menyebut merk teh yang hampir semua rumah di Malang tahu-menahu dan umumnya.
“Kok beda?” gumam saya masih penasaran.
“Lha iku ana maware, mbak. Enak a?”
Baca juga: PHK
Saya menyeruput dengan perasaan tertentu. Antara haru sekaligus rindu. Teh apa ini? Saya semacam kena tenung tapi sadar sesadar-sadarnya. Saya melempar senyum pada kawan saya. Ia kemudian bercerita tentang rencana dan macam-macam. Juga ihwal kawan-kawan di Malang, yang tidak selalu saya dengar kabar mereka dari Turen. Meskipun sama-sama di Malang, rupanya Turen, tak terlalu panjang telinga sehingga buta peta situasi apa yang sedang terjadi di sekitar kota kita.
Saya menghela napas. Dan menghirup lagi teh seduhan kawan baik yang ia taburi beberapa lembar mahkota bunga mawar. Begitu merah, begitu indah.
Ini saya tulis untuk membalas apa yang ditulis kawan kita pagi tadi. Begini katanya …
Aku membayangkan perempuan setengah baya itu. Memasak air hingga mendidih. Bersamaan dengan meramu rempah dalam gelas porselen.
Asal jumput, sedikit perkiraan agar menjadi ramuan.
Lantas air dalam ceret mendidih, menimbulkan bunyi nyaring seperti peluit. Ia tergolong mencari cempal dari kain perca yang dibubuhi sulaman.
Memegang ceret tangkai hitam, menuang air dalam gelas. Aroma bunga lawang, cengkih, kayu manis, dan sejumput pandan. Menguar. Penuhi ruang.
Baca juga: Oscar Wilde di Mata Anaknya
Dari dapur, ia pindah ke meja makan yang bisa juga sebagai meja kerja. Hendak diseruput minuman hangat pembuka hari.
Hampir masuk mulut, ia hentikan gerakan. Bergegas berdiri, mencari handphone dan menuju halaman. Klik. Dipotret dari tempat yang diharapkan paling estetik. Lantas masuk dalam galeri story.
Selamat minum teh kawan.
Turen – Malang, 28 Juli 2024
(Penulis: A. Elwiq Pr., Titik Qomariah)
(Editor: Titik Qomariah)
