
Lagi-lagi aku melihat lelaki berusia empat puluh an itu datang tergopoh-gopoh heboh. Tas ransel di punggungnya dilepas dan diletakkan di kursi dengan kasar. “Wih, hari yang panas. Hei bumil, awakmu ojok capek-capek yo (kamu jangan capek-capek ya),” teriaknya pada seorang perempuan di warung kopi itu. Ia kemudian teriak menyapa dua tiga orang lain yang ada di sana dengan logat Sumatera yang bercampur dengan Jawa.
Baca juga: Oscar Wilde di Mata Anaknya
“Wah, ojok gawe isu kamu (jangan bikin isu) Bang,” kata perempuan yang disapa kegirangan.
Dengan muka datar tanpa ekspresi, Bang, giliran menyapa orang lain. “Ini awan-awan pada di sini semua tidak kerja. Koyok Yon itu lho, rajin. Sampai gak pernah pulang. Ya Yon?,” ucapnya dengan suara keras. Orang yang tidak paham akan mengira ia sedang marah atau memaki seseorang bernama Yon.
Warung kopi di belakang gedung rakyat itu pun langsung heboh. Mereka menyambut kedatangan pria berambut cepak dan berkulit tipis itu dengan beragam reaksi. Ada yang ikutan heboh, ada yang diam saja, ada pula yang tersenyum sinis sambil membuang muka.
“Bang, dari mana Bang. Jangan terlalu rajin kerja. Nanti kalau kaya kasihan temannya Bang. Lihat, Abang ini saking rajinnya langsung sipit kayak orang Jepang itu lho,” kata Yon membalas ucapan lelaki yang disapa Bang itu sekenanya.
“Wah Yon ini wis sugih (kaya), gak mau temannya sugih. Ojok ngono awakmu Yon (jangan begitu kamu Yon),” ucap orang yang disapa Bang dengan nada keras. Lagi-lagi seperti teriakan orang marah.
Baca juga: Dahan
Orang-orang di dalam warung yang semula menoleh padanya, tak lama kembali membuang muka, sambil tersenyum sinis.
“Jarno…(biarkan). Wong ngene,” bisik orang di depanku sambil menyilangkan jari telunjuknya di depan dahi. Ia pun memalingkan muka dan ngobrol dengan orang di sebelahnya, seolah tak ingin mendengar suara kencang dari orang yang baru datang itu.
Sementara di ujung sana, omongan orang yang dipanggil Bang itupun terus memecah suasana. Entah ia tahu atau tak mau tahu, bahwa banyak orang yang memandangnya sinis, Bang terus saja nyerocos ngalor-ngidul mengolok-olok Yon. Yon tetap menanggapinya, meski menjawab sekenanya. Tak seperti orang lain di sana yang memilih memalingkan muka.
Seperti hari-hari biasanya. Orang yang sama, nada suara yang sama, dan olok-olok yang tak jauh beda.
(Editor: Titik Qomariah)

Selamat bekerja, bang 🙂