
Kamu tahukan gambar yang pernah saya sebar beberapa waktu lalu? Tangga begitu tinggi –saya tidak sempat menghitung berapa jumlah anak tangga yang dirakit. Tinggi, pokonya. Dan di ujung tangga itu ada semacam altar, tempat yang paling tinggi diantara ketinggian lain di sekitarnya. Kalau kamu sempat ke situ, dan mengangkat tangan, seolah-olah kamu sedang memetik langit.
Baca juga: Semut-Semut Budaya
Kami, saya dan dia, sedang menikmati hamparan di seberang sana. Ada asap mengepul, membumbung tinggi. Ada sepetak tanaman menguning, rata seperti lapangan bola. Kami tahu, setelah kami intip dengan kamera tele yang diperbesar sampai 100 kali, itu sawah yang sedang ditumbuhi padi, karena terlihat orang-orangan sawah. Di sana ada hutan yang meranggas. Di sana lagi ada waduk yang mengering. Kami merasa, segala yang kami upayakan selama ini hanya sia-sia.
Kalau saya menyampaikan waktu lalu sedang mengintai burung garuda, itu hanya manipulasi yang saya buat atas persetujuannya. Agar di dalam imajinasi kalian, kami tergolong orang yang antik, nyentrik, sekaligus eksotik. Agar kalian terkagum-kagum, kami orang-orang pemerhati dan perawat burung garuda. Mengobati mimpi kalian, yang selama ini garuda hanya digunakan lambang dan disia-siakan. Dan sesungguhnya, di puncak tangga itu, kami orang jahat. Menyimpan kebanggaan ditengah kegersangan dan kemiskinan, itu kejahatan bukan?
Masalahnya, waktu terus bergulir. Tangan kami tak akan pernah mampu mencengkeram matahari agar tetap di atas ubun-ubun. Sang penerang itu makin lingsir menuju akhir hari. Kami mendapati tubuh kami makin kelam. Sebuah tanda dari perintah: “Kalian harus turun!”
“Saya tidak berani turun,” kata dia.
“Tidak apa-apa. Kita turuni satu demi satu anak tangga, pelan-pelan,” saya menyemangatinya.
“Bukan itu. Aku takut ketika sudah sampai kaki tangga, akan merasa di sini lebih nyaman. Dan naik lagi tidak mungkin, karena hari telah malam,” katanya dengan memandang kejauhan.
“Tapi, kita harus turun. Kalau tidak, kita akan mati beku di sini,” desak saya.
“Ya. Tapi dengan cara lain,” katanya.
Baca juga: Clurit Sakerah
Saya belum bertanya tentang cara lain itu. Dia sudah melompat ke bawah, ke jurang. Saya berusaha meraihnya. Terlambat. Dia sudah terlanjur terjun. Di bawah ada suara kemrosak. Saya kira dia sudah terhempas di dasar jurang. Tetapi, ternyata dia tersangkut di dahan. Tangannya melambai-lambai, mungkin minta tolong. Saya tak akan mampu menolong. Justru di dalam pikiranku terselip; dahan itu sedang menolongnya, atau menghukumnya? Hhhmmm.
Oh, ya. Saya belum memperkenalkannya. Namanya Widodo.
(Editor: Titik Qomariah)
