
Serenada Kenangan Mereka
Di bawah kubah langit berpalung biru
Kenangan terpatri dalam derai tawa
Mereka yang melangkah ringan
Menyambut fajar dengan hati penuh asa.
Kalbu yang terperangkap dalam irama sepenuhnya
Mengalirkan efluen mawar dalam kontemplasi gelap
Seribu lonceng menari di sekeliling senja
Dalam serenada kalbu yang mengembara.
Di lorong sekolah yang berliku,
Bisikan kisah terukir mesra,
Canda dan tawa merajut masa,
Di antara bangku kayu, teranyam cerita.
Lapangan hijau menjadi saksi
Langkah kecil mengejar bola impian
Menggapai langit, menggapai cita
Hari-hari diisi suka, penuh makna.
Namun, bahagia tak selalu bersemayam
Kadang kala duka mengetuk pelan
Ujian datang menguji jiwa
Mengajarkan ketabahan, menumbuhkan kekuatan.
Kenangan manis terajut erat
Layang-layang berkejaran dengan angin
Merayakan kebebasan dalam persahabatan abadi.
Melalui koridor-koridor yang tunduk pada tanah
Kita mengikuti jalan menuju kilauan awal dan akhir
Pengalaman berbaur dalam palimpsest kuno
Seperti kisah yang diterjemahkan dalam kode rahasia.
Setiap senyum yang terukir
Menjadi penawar duka yang singgah
Di sana, persahabatan tumbuh subur
Menguatkan hati, menghapus luka dalam diam.
Ketika senja memerah di ujung hari
Pulang membawa sejuta kisah
Memori tersimpan dalam hati yang hangat
Menanti esok dengan penuh harap.
Namun waktu tak kenal henti
Di peraduan embun senja meluruh
semasa jagat menghanyutkan dalam nyanyian
dalam renung mata kelam, terbenam menggumam
serasi nyala malam yang merunduk.
Kala timbul di utara, gelombang rembulan bergelora
menggertak ruang bercahaya, dalam misteri yang meliputi
mengambang di lorong mimpi, terseret dalam kegelapan
mengikuti, jatuh dalam deru yang tenang.
Seruan harapan terasa, dalam tembok yang menggema
melintasi jalan terpencil, di seberang aliran kering
tertangkap dalam jejak waktu, terikat dalam lekuk bayang
menyatu dalam hampa, dan menemukan dirinya.
Kata-kata terucap dalam keikhlasan,
Mengenang setiap detik yang berlalu,
Janji untuk tetap saling mengingat,
Meski jarak dan waktu membentang jauh.
Perpisahan ini bukan akhir cerita,
Hanya bab baru yang menanti di depan,
Kenangan masa SMP terpatri di hati,
Sebagai lentera yang menerangi jalan.
Dalam samudra biru keabadian, kita terhanyut,
Mencari jawaban di antara riak gelombang waktu,
Kata-kata tersirat dalam gemuruh dasar laut,
Seperti petir menyambar dalam sunyi malam.
Dalam lapisan kabut yang mengaburkan batas,
Kita menelusuri jejak langit yang tersembunyi,
Di antara bintang-bintang yang tak terhitung,
Mencari makna di balik jalinan alam semesta.
Hilir-mudik dalam labirin mimpi dan nyata,
Rahasia tersembunyi di balik jendela alam,
Kami adalah cermin dan bayangan,
Yang mencari diri di dalam pelangi tak berujung.
Dalam teka-teki waktu yang terbuka,
Kita bermain-main dengan cahaya dan bayangan,
Mengikat diri dengan benang kehidupan,
Menuju titik temu dalam dimensi yang tersembunyi.
Saat pelangi tak lagi memisahkan,
Kami menyatu dalam harmoni yang abadi,
Menjadi satu dengan alam semesta yang terus berputar,
Mengukir takdir di atas lapisan kosmik.
Kami adalah misteri yang mengurai,
Dalam bahasa puitis dan guratan tak terduga,
Membuka pintu ke dalam diri yang tersembunyi,
Menjadi cermin bagi alam yang selalu mengundang.
Baca juga: Rote
Coretan Takdir
Di antara pepohonan, angin berbisik lembut,
Menyampaikan cerita pada dedaunan yang merayap.
Cinta terbentang dalam sinar matahari,
Sebuah puisi yang terukir di buku alam.
Malam tiba, bintang-bintang berserak,
Menyulam cerita dalam langit yang gelap.
Di sudut gelap hati, kesepian bergema,
Puisi malam mengelilingi ruang kosong.
Dalam riak gelombang, lautan berkisah,
Mengukir puisi tentang kekuatan dan kerapuhan.
Langit biru menari dengan awan putih,
Sebuah lukisan abadi di kanvas waktu.
Takdir mengalun seperti melodi yang tak terduga,
Mengisi keheningan dengan kisah yang beragam.
Puisi ini, sebuah catatan perjalanan,
Dalam setiap baris, menyimpan makna yang mendalam.
Baca juga: Tas Cokelat
Nyonya dan Pasang Surut Air Laut
Di antara desiran ombak
Perahu kertas yang terkena desiran omabak
Memahat kata di pesisir pantai
Di langit malam bersinar si mata biru
Menatap jauh, rahasia dunia terkuak
Nyonya laut menari di dasar samudra,
Pasang surutnya mengalun lagu tak terucap
Di mata biru, cerita terpahat indah
Dalam genggaman rindu, si mata biru menghilang,
Menyatu dengan warna samudra yang dalam
Nyonya laut tetap setia, menari melingkar,
Pasang surutnya, irama kehidupan yang abadi.
Si mata biru, nyonya laut, dan pasang surutnya,
Menyatu dalam puisi, harmoni yang abadi.
Dalam gelombang biru, rahasia terkuak,
Hingga akhirnya, berjumpa di tepi dunia.
Elisabeth Diahningrum Putri Nuswantara, Pelajar Kelas X SMA Negeri 9 Kota Malang
(Editor: Iman Suwongso)
