
Rote
kenangan memanggil ujung selatan Indonesia
memecah gulungan ombak arah kiri Pantai Bo’a
hijau rindu membiru bersenyawa aroma petualangan sang peselancar
melilit pasir putih pantaimu menjerat tetamu yang datang tak cepat pergi
seperti pohon terpilih yang menahan atap-atap rumah
Nemberala…
Sawu…
Ti’i Langga menggantung di tiang musim kering panjangmu
tak menghanguskan liuk hijau lontar yang subur berdiri
Rote…
Siang malammu tak pernah ditinggalkan keindahan…
dan suara Sasando memanggil yang pergi untuk selalu pulang
(AH, 29 Juli 2012)
Baca juga: Tas Cokelat
The Little Poet
(Sang Penyair Kecil)
Ia menatap laut dan sekejab syair-syair keluar dari jari-jarinya,
dan mulai menggores pasir pantai dekat pijakan kakinya: I Love You…
lalu langit menjadi rendah dan mulai berwarna jingga,
ombak berkumpul dan berkilau di bawah cahaya matahari yang surainya keemasan : menanti angin membawanya ke pantai yang mulai diselimuti senja…
ah, cinta itu penyair kecil, seperti pasir yang ditulisi, tersambar ombak pantai, ia hilang begitu saja, datang dan pergi seperti ilham puisi…
ah, cinta itu penyair kecil, jangan kau abadikan di pinggir pantai berombak…
sejuta kali kau tuliskan disana,
sejuta kali ombak menyamarkannya…
(AH, 4 Januari 2014)
Baca juga: Pagi
W E H
Dimanakah nanti engkau akan berada buah hatiku?
Begitulah suara Mak mengisi dada dan gendang telingaku…
Seperti gelombang memberi kekuatan pada karangnya
Pulau Weh, Mak!
Pulau Weh yang lôn impikan,
antara barat timurnya, 2 sungai melintas
Pria Laot dan Raya…
Zaman Pleistosen memisahkah Weh dari Sumatra, Mak…
Pulau Vulkanik dikelilingi Laut Adaman yang bening bagai kaca
Terumbu Karang menari di bawah riak gelombangnya
Pulau Weh, Mak…
di mana Kota Sabang yang tenar berada
paling Barat Indonesia Raya kita…
yang dermaga sedari dulu,
tempat singgah Perahu dan Kapal Besar…
Pulau kecil dengan rangkaian pegunungan ini
lôn lukis dalam impian,
ke sana lôn pergi Mak…
Weh yang dikelilingi Klah, Rubiah, Seulako, dan Rondo
dan kelak lôn rawat apa saja disana,
bahkan Katak Bufo akan terus beranak pinak sepanjang usia Nusantara
Untuk Weh, Mak, lôn pergi sekolah hingga di hulu petang
membuka buku tak pilih bulu
menabung langkah kecil tak kenal surut
mengisi harapan dengan upaya panjang tanpa kalut
mengatasi gangguan terus menggempur rasa takut
menguatkan niat berpeluh do’a di tanah rantau
Untuk Weh, Mak…
lôn rajut sayap kita untuk pulang
lôn pahat dayung mengalahkan angin
ke Weh, Mak! di mana semua cerita kita berawal…
(AH, 1 Juni 2012 – 14 November 2013)
Catatan:
“Lôn” merupakan kata ganti pertama tunggal yang umum digunakan sehari-hari dalam bahasa Aceh. Penambahan kata “tuwan” di belakang, menjadi”lôn tuwan/ulôn tuwan” adalah bentuk panggilan diri sendiri yang lebih sopan serta menunjukkan sikap rendah diri kepada lawan bicara.
(Editor: Iman Suwongso)
