Gunung yang Tamak

Ini bukan rumah saya. Tapi ini juga bukan rumah siapa-siapa. Juga bukan kantor. Lebih tepat, saya menyebut persinggahaan. Ada ruang tidak terlalu luas, pernah saya ukur 3 kali 6 meter, tidak ada satupun perabot. Kalau dibandingkan rumah tempat tinggal, ruang ini seperti ruang tamu. Ada kamar mandi yang kran airnya selalu terbuka, dan air di bak mandi meluber tidak pernah henti. Juga ada dapur, tetapi tidak ada kompor, dan perkakas dapur lainnya selain panci reot yang hilang satu tangkainya. Ada pula dua kamar tidur –katakan begitu, karena kalau saya menginap di situ tidur di ruang itu.

Baca juga: Warti Sang Wartawan

Saya sering menginap di rumah persinggahan itu. Ada fase waktu yang membawa saya menginap di situ setiap sebulan sekali. Kadang menginap ada temannya. Teman yang saya kenal, juga teman yang tidak saya kenal dan baru kenal di tempat itu. Yang paling sering saya menginap sendirian.

Setiap saya menginap sendirian, selalu ada dua orang perempuan di halaman depan rumah persinggahan. Kemudian hari, saya mengenal salah satu perempuan itu. Tahu rumah tinggalnya, tetapi tidak tahu namanya. Hahaha. Kalau ada teman, sepertinya saya tidak terlalu memperhatikan ke halaman. Saya dan teman sepenginapan lebih nyaman berbincang-bincang sambil duduk bersimpuh di lantai ruang mirip ruang tamu itu. Kadang sambil selonjoran, sambil tiduran dan biasanya berlanjut tidur sungguhan. Atau, mereka –dua perempuan itu, memang tidak ke halaman rumah persinggahan itu karena dianggap penghuninya sedang datang.

Dua orang perempuan itu, ada di halaman tempatnya berpindah-pindah. Kadang di bawah pohon kelengkeng. Kadang di bawah pohon durian. Juga, kadang duduk-duduk di atas rerumputan. Sekalipun tempatnya berpindah-pindah, kegiatan mereka hanya satu; bercakap-cakap.

Baca juga: Tas Cokelat

Apa yang dipercakapkan mereka, saya tidak tahu. Tetapi, sejak pertama saya tahu mereka bercakap-cakap, peran mereka tidak sama. Perempuan pertama yang perawakannya lebih kecil suka mendengar dan sedikit bicara –mungkin mendengar? Perempuan kedua (perempuan yang saya tahu rumahnya itu) banyak bicara dengan mimik bersungguh-sungguh, dan gestur tangannya aktif, mungkin menggambarkan yang sedang diceritakan.

Suatu siang, karena tiba-tiba hujan cukup deras, saya melongok ke luar dari jendela kaca. Kedua perempuan itu berlarian, berteduh di beranda depan rumah persinggahan. Mereka melanjutkan bercakap-cakap. Karena jaraknya tidak terlalu jauh dengan saya berdiri di balik jendela, saya mendengar percakapan mereka.

“Terus?” tanya perempuan pendengar itu.

“Terjadilah yang dikhawatirkan bertahun-tahun itu. Keserakahan itu akan muncul di kampung ini. Ketika purnama tepat di ubun-ubun, suasana kampung menjadi senyap. Tak sedesis anginpun berani menggoyang selembar daun. Udara beku. Pohon-pohon kaku. Suami istri menyatu.” Cerita perempuan pencerita itu.

“Kok, menyatu?” timpal perempuan yang banyak melongo ketika perempuan di hadapannya bercerita.

Saya hampir tertawa. Untung bisa menahan.

“Ya, kan suami istri! Sudahlah, jangan dipotong dulu. Dari mana tadi? Oh, ya. Nah, dalam suasana hening itu, gunung yang pekat itu mengeluarkan taringnya. Dia mengembangkan tangan-tangan angkuh, tak kenal belas kasihan itu. Ia meraih seluruh isi kampung ini. Satu-persatu ia telan. Tangannya memunguti, seperti memungut butiran nasi dalam bakul. Satu-persatu ia telan. Gunung yang sedang menjalankan ketamakannya.” Lanjut ceritanya.

“Kamu tahu gunung itu sekejam itu?” tanya perempuan pendengar.

“Ya, tahulah! Kan, gunung itu ada di sebelah rumahku!” tegas pencerita.

Baca juga: Rote

Saya mengingat-ingat. Tiba-tiba suara tawa saya meledak, tidak bisa ditahan. Karena hujan mulai redah, mereka tahu kalau di balik jendela dekatnya ada orang. Segera mereka kabur meninggalkan beranda.

Mengapa saya tertawa? Sssstt. Jangan bilang siapa-siapa ya, saya buka rahasia. Rumah perempuan pencerita itu di pinggir sawah, jauh dari perbukitan, apalagi gunung.

(Editor: Titik Qomariah)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *