Gemetar

Kamu pernah lewat sini malam-malam? Gelap. Jalannya sudah beraspal. Sebagian mulus, sebagian aspalnya mengelupas, bergeronjal. Tidak begitu lebar. Kalau simpangan dengan mobil, salah satu harus mengalah, minggir dan berhenti. Jalan itu membelah hutan. Jarak tempuh dari satu titik ke titik lain membutuhkan waktu 45 menit mengendarai motor.

Baca juga: Pagi

Satu-satunya penerangan adalah lampu kendaraanmu. Tak ada neon, tak ada kunang-kunang. Jangan berharap bulan purnama mengambang jauh diatas pucuk pepohonan. Kalau ia muncul, jantungmu akan berdegup. Sekilas, seperti ada bayang-bayang melintas, menyeberang jalan. Apa lagi kalau kamu meneleng ke kiri atau ke kanan. Batang-batang pohon besar itu serupa zombi, gelap.

Ditambah lagi, lintasan itu berada di ketinggian antara seribu sampai 2 ribu mdpl. Suhu malam bisa dibawah 15 derajad Celsius. Kabarnya, menjelang pagi bisa 5 derajad celcius atau nol, bahkan minus. Tahan kamu dengan memakai jaket secukupnya?

Malam ini aku berada di belantara itu. Mengendarai motor. Gemetar karena was-was dan takut. Di tambah cerita mayat digeletakkan di pinggir jalan. Mati karena pembunuhan. Juga cerita tentang ular besar jenis sanca melintas jalan. Geerrrr!

Baca juga: Literasi di Taman Anggrek

Tapi aku juga gemetar karena ada bagian tubuh yang tidak tertutup rapat. Disengat udara 14 derajad cersius. Getaran otot yang melemahkan tarikan gas, getaran yang menghambat laju roda motor. Beerrrrr!

Aku rasakan, gemetar tubuhku itu karena perutku terasa lapar. Lapar belum makan. Lapar menahan dingin. Lapar menahan takut. Sementara, di mana cahaya, di mana perapian, dan di mana letak warung, masih jauh untuk ditempu…. Huuuhhh!

 

(Editor: Titik Qomariah)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *