Puisi
- All Posts
- Back
- Cerpen
- Puisi
- Fragmen
- Kobis Seri
Ringkik turangga mengepung telinga, menyisakan tanya tentang layu rerumputan di tepian roda kereta pasukan berkuda... Bunyi sirine berhamburan, menyeruak, menyaput...
Kemarin, kabar duka menyemai bumi... Tentang Kau yang selalu ramah, mengumbar senyum dan melambaikan tangan menyapa manusia tanpa sekat hingga...
Januari telah tiba Menggelinding seperti roda Yang habis melindas tai kucing Di jalanan tipu menipu bau kencing
Angin Januari telah sampai Di ubun-ubun kota Menuangkan keruh hujan Mengabarkan amis harapan
Aku khawatir dan bertanya tentang kapan bahagia menjadi bagian dari cerita ini?
Ia mencium bau bangkai matahari Di kantung hitam mata kekasihnya
Aku menunggumu disini Setelah sepanjang malam mencari Di selala-sela tumpukan sajadah dan bilik-bilik fb
Beribu kata menggulung bagai air bah Menikam mata menebar kegelisahan yang Bertumpuk-tumpuk dalam kepala tumbuh menjadi Rambut yang makin menua
Bayang-bayangnya pulang Ketika petang kelinci menghilang Ia berdiri di atas kepala
Manakala pagi tiba Kita menyusuri lorong pusara Di hening tanah yang basah Segala doa pun didaraskan
Ditawarkan sebidang panggung Enam kali sepuluh meter Dijamin mengudara Nama dan wajah-wajah
Kamu datang lagi di mimpi malam tadi lorong pasar masa kecil jumpritan sebelum matahari tinggi
Kesepian telah mengeras Di rongga dada kiriku Seperti balok-balok es batu
Seperti pasir di pantai, kita akan berulang dikembalikan ke sisian, gelombang menggerus karang, dan menghempaskan diri kita kembali ke asal,
Di antara desiran ombak Perahu kertas yang terkena desiran omabak Memahat kata di pesisir pantai Di langit malam bersinar si...
Di bawah kubah langit berpalung biru Kenangan terpatri dalam derai tawa Mereka yang melangkah ringan Menyambut fajar dengan hati penuh...
