Mengapa Kita Harus Menulis?
Mengapa kita harus menulis? Sebuah pertanyaan sederhana dengan jawaban beragam sesuai kondisi atau latar belakang si penjawab.
Mengapa Kita Harus Menulis? Read More »
Mengapa kita harus menulis? Sebuah pertanyaan sederhana dengan jawaban beragam sesuai kondisi atau latar belakang si penjawab.
Mengapa Kita Harus Menulis? Read More »
Jadi, kamu mau menulis resensi? Gampang! Tapi resensi apa dulu? Objek resensi macam-macam; ada buku, film, pertunjukan teater, pertunjukan musik, masih ada beberapa lagi.
Tahukah kamu bahwa menulis bisa menjadi salah satu terapi untuk kesehatan mental? Seiring kerusakan yang terus disebabkan manusia pada era antroposen, maka semakin banyak pula bumi mengembalikan dampak kerusakan itu pada kehidupan. Salah satunya, makin banyaknya kasus-kasus gangguan mental pada manusia. Tak ayal, isu kesehatan mental belakangan ini terus mengemuka. Baca juga: Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang Laju gangguan mental tersebut dicegah (setidaknya dihambat). Salah satu hal sederhana bisa menjadi terapi kesehatan mental adalah menulis. Konselor psikologi asal Jakarta, Ferdiana Fachrudin S.Psi., CCP. mengatakan bahwa menulis bisa menjadi salah satu bentuk terapi kesehatan mental. “Dengan menulis, seseorang bisa mengalirkan emosi. Lebih baik dengan menulis tangan. Karena menulis dengan tangan bisa meluapkan emosi. Dalam menulis ada tekanan, ada ketebalan, mata dan tangan bisa melihat dan merasakan, indera pendengaran kita mendengarnya, bahkan kita bisa mencium bau tinta atau kertasnya. Ini bisa membantu meringankan tingkat stres kita,” katanya. Menulis, menurutnya, jadi salah satu metode ampuh menuangkan emosi, apalagi bagi mereka yang introvert atau yang tidak bisa menceritakan masalahnya secara langsung pada orang lain. Lalu, menulis seperti apakah yang bisa menjadi intervensi terhadap kondisi mental? Bolton (2011) menyebut beberapa metode menulis bisa digunakan untuk intervensi pelayanan kesehatan seperti menulis ekspresif, menulis puisi, terapi narasi, dan menulis kreatif. Dalam hal menulis ekspresif, Nurhayani Maudi, Triyono, dan Dany M. Handirini (dari Bimbingan Konseling-Universitas Negeri Malang), dalam Jurnal Pendidikan Universitas Negeri Malang pada Desember 2019, sependapat; untuk mengelola emosi dapat dilakukan dengan cara menulis ekspresif. Menulis ekspresif adalah mengungkapkan pengalaman emosional yang dapat memperbaiki fisik, pikiran, dan perilaku ke arah yang lebih baik. Teknik ini dikembangkan oleh Pennebeker dan efektif dalam mengurangi emosi negatif pada individu. Menulis jenis ini lebih menekankan pada pengungkapan pikiran atau perasaan. Menulis ekspresif akan membuat individu melepaskan perasaan-perasaan yang bergejolak dalam hati, dan mengubah cara individu dalam mengendalikan emosi marah. Baca juga: Amsal Burung Biru Laut Ekor Hitam Dalam penelitian oleh Koopman et al.(2005); Frattaroli, Thomas, & Lyubomirsky (2011), Meston,Lorenz, & Stephenson (2013), Randler et al. (2015), disimpulkan bahwa menulis ekspresif cukup efektif untuk mengurangi gejala kecemasan, depresi, dan gangguan stress paskatrauma. Lebih lanjut, John F. Evans (2012) menyatakan, menulis ekspresif lebih mementingkan perasaan daripada kejadian, ingatan, benda, atau orang-orang yang ada di dalam sebuah kisah. Seperti penulisan naratif, tulisan ekspresif bisa memiliki alur cerita: awal, tengah, dan akhir. Selain menulis ekspresif, jenis menulis lain yang bermanfaat pada mentalitas adalah menulis kreatif. Metode menulis ini dianggap sebagai media ekspresi emosi dan pikiran, dengan fokus pada bentuk artistic. Penerapannya difasilitasi oleh penulis professional, dengan atau tanpa kehadiran tenaga profesional kesehatan (King, 2013). Hal ini disebut dapat membangun kembali perasaan kompetensi yang sering kali terganggu pada mereka yang mengalami penyakit mental. Membangun kembali kepercayaan diri, adalah hal penting dalam pemulihan kondisi mental seseorang. Bahkan, menjadi salah satu kunci utama. Baca juga: Kisah WR. Soepratman, Jurnalis dan Musisi Jazz Penggubah Lagu Indonesia Raya Artikel Mental health recovery and creative writing groups: A systematic review, dalam Nordic Journal of Arts, Culture and Health volume 4 (2022),menyebutkan bahwa pemulihan gangguan mental tidak hanya dianggap sebagai pengurangan gejala, namun lebih sebagai “cara menjalani kehidupan yang memuaskan, penuh harapan, dan berkontribusi.” Itu sebabnya, dengan ‘kembalinya kompetensi’ pada seseorang diharapkan akan menjadi langkah awal pemulihan mental. Bagaimana, apakah kamu sudah menulis? (Editor: Iman Suwongso)
Menulis dan Kesehatan Mental Read More »
Kaki Gunung Semeru pada sisi Selatan, ada satu desa bernama Desa Pronojiwo (nama ini sekaligus menjadi nama Kecamatan).
Mengantarkan Mereka Pulang Read More »
Air. Sudah tidak dapat disangkal lagi sebagai sumber kehidupan. Tubuh manusia 70% merupakan unsur air. Orang bisa cukup lama tahan tidak mati karena tidak makan daripada tidak minum.
Menjaga Sumber Kehidupan Read More »
Ada gula ada semut. Peribahasa lama yang sudah umum kita tahu maknanya. Bagaimana kalau gula itu bernama budaya?
Semut-Semut Budaya Read More »
Setelah olah raga pagi, seperti biasa saya membaca koran dan melihat sekilas media sosial. Artis berkebaya berseliweran di halaman layar kaca. Seketika saya cek mbah google kapan hari kebaya.
Kebaya, Kutang dan Centing Read More »
Literasi tidak melulu tentang baca-tulis buku. Membaca alam beserta keindahan di dalamnya, itu juga adalah literasi. Dari orang-orang ini, kita belajar literasi melalui setangkai anggrek hutan.
Literasi di Taman Anggrek Read More »