
Judul : Ibunda
Penulis : Maxim Gorky
Penerjemah : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Kalyanamitra
Cetakan : Ketiga, Maret 2015
Halaman : 364 halaman
ISBN : 978-602-97900-2-3
“Mengapa penderitaan yang sama tidak pernah melahirkan sikap yang sama? Mengapa sebagian orang memilih bersuara dan bergerak, sementara sebagian lain memilih diam?”
Pertanyaan itu tidak muncul setelah halaman terakhir Novel Ibunda karya Maxim Gorky ditutup, melainkan beberapa hari setelahnya. Ketika realitas Indonesia kembali menempati posisi pertama untuk dipikirkan.
Baca juga: The Scarlet Letter: Sebuah Kisah Tentang Dosa, Penebusan, dan Pilihan Hidup
Banjir gelondongan kayu, bencana yang berlalu hampir satu bulan tanpa penyelesaian tuntas, pejabat sibuk rapat dan klarifikasi, sementara rakyat sibuk saling membantu lewat donasi. Penderitaan yang dialami warga Aceh dan Sumatera sesungguhnya juga dirasakan oleh banyak rakyat Indonesia, dengan bencana yang berbeda. Namun di tengah penderitaan yang serupa itu (nyaris) tidak ada yang berani bersuara: melawan.
Novel Ibunda diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Pramoedya Ananta Toer (PAT) pada 1955, sepuluh tahun setelah Indonesia merdeka. Novel tentang sebuah keluarga buruh di Rusia awal abad ke-20. Meskipun sekian waktu berlalu namun kisah itu melampaui konteks ruang dan waktu. Ia berbicara tentang pola penderitaan yang berulang dan tentang manusia yang menanggapi penderitaan yang sama dengan cara yang tidak pernah seragam.
Pelagia Nilovna hidup dalam kekerasan dan ketakutan selama puluhan tahun. Suaminya, seorang buruh pabrik sekaligus pemabuk, menjadikan rumah sebagai ruang penganiayaan yang nyaris rutin; dua puluh tahun penderitaan itu melenyapkan kata-kata. Ketika sang suami meninggal, Pelagia memang terbebas dari kekerasan fisik, tetapi tidak dari ketakutan. Diam telah lama ia pelajari sebagai strategi bertahan hidup.
Ia kemudian hidup bersama anak lelakinya, Pavel, di lingkungan pabrik. Seperti buruh lain, Pavel menjalani jam kerja panjang, upah rendah, dan hidup yang serba terbatas.
Suatu hari Pavel pulang dalam keadaan mabuk. Pemandangan yang terlalu akrab bagi Pelagia. Namun kali ini yang dihadapinya bukan suami, melainkan anak: masa depan yang masih mungkin diselamatkan. Kalimat getir yang ia ucapkan, “bapakmu minum lebih dari cukup buat dirinya sendiri dan buat dirimu. Bukankah aku ini sudah cukup menderita di tangannya? Tak adakah sedikit pun kasih sayang dalam hatimu terhadap orang tuamu ini?”
Dengan membawa rasa bersalah seorang anak kepada Ibunda, Pavel berhenti minum. Sejak hari itu, ia mulai membaca buku.
Baca juga: Perempuan yang Digigit Ular
Ketika pabrik memberlakukan pungutan sekopek untuk pembangunan rawa, Pavel dan puluhan buruh tidak terima. Akhirnya Pavel mengorganisir gerakan untuk menolak pungutan itu. Beberapa hari kemudian muncul demonstrasi di pabrik. Orasi pertama Pavel mengguncang hati tetapi tidak menggerakkan langkah. Ia gagal dan ditangkap. Perlawanan tidak serta-merta meluas. Justru di sinilah Ibunda menolak narasi heroik. Kesadaran tidak selalu menular dengan cepat dan keberanian tidak selalu mengundang solidaritas massal.
Setelah Pavel di penjara, Pelagia mengambil peran yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia datang berdiskusi menemani kawan-kawan Pavel. Ia pun masuk ke pabrik sebagai penjual makanan. Diam-diam Pelagia menyebarkan brosur. Tujuannya agar polisi mengira bukan Pavel pelakunya. Isi brosur itu menuntut Pavel dibebaskan. Nah benar saja, Pavel bebas beberapa hari setelahnya. Namun kebebasan itu justru membawanya pada gerakan yang lebih besar. Aksi 1 Mei pecah dan kembali berujung penangkapan dan represi. Saat itulah Pelagia tahu bagaimana rasanya ketika Pavel dan kawan-kawannya yang biasa meramaikan rumahnya untuk berdiskusi, hampir semua di penjara. Pavel menyarankan, Ibunda pindah ke kota dan tinggal bersama Nikolai dengan satu tujuan besar: menyebarkan pengetahuan yang mereka miliki, sebanyak mungkin.
Ketika Pelagia bergerilya menyebarkan brosur ke berbagai tempat, ia mulai memahami satu kenyataan pahit: meskipun kini sebagian rakyat mengetahui secara terang-terangan tentang perjuangan kaum buruh, tidak semua turut serta. Mereka memahami penderitaan, bahkan sepakat dengan sebagian besar gagasan perlawanan. Namun di hati kecilnya, Pelagia meragukan apakah mereka benar-benar percaya bahwa hidup bisa dirombak, atau bahwa mereka cukup kuat untuk menarik seluruh kaum buruh ke dalam persoalan itu. Setiap orang memusatkan perhatiannya pada cara mengisi perut hari ini. Tak seorang pun ingin menunda bahkan hingga besok. Hanya sedikit yang rela menempuh jalan panjang dan sulit.
Di titik ini, Gorky menunjukkan sesuatu yang penting: penderitaan saja tidak cukup untuk melahirkan perlawanan. Pavel dan Ibunda tidak hidup lebih menderita dibanding buruh lain. Yang membedakannya adalah akses pada pengetahuan dan perjumpaan dengan kawan-kawan yang memiliki kegelisahan serupa. Dari membaca, penderitaan yang mereka rasakan menemukan bahasa. Dari bahasa, lahirlah nama dan kesadaran. Dari kesadaran, muncul keberanian.
Pengalaman ini membuat Ibunda menjadi lebih dari sekadar kisah keluarga. Ia menjadi cermin sosial. Pavel hidup dalam penderitaan yang sama dengan buruh lain, tetapi penderitaan yang sama itu tidak melahirkan sikap yang sama. Sebagian buruh mabuk, apatis, dan pasrah; sebagian lain mulai membaca, bertanya, dan bergerak. Perbedaannya bukan terletak pada beratnya penderitaan, melainkan pada kesadaran, akses pengetahuan, rasa aman, dan keberanian batin untuk mengakui bahwa ketidakadilan bukanlah takdir.
Baca juga: Mairil
Karya Maxim Gorky ini menjawab pertanyaan saya, bahwa manusia tak bisa hanya dibagi ke dalam dua kubu; berani dan apatis. Manusia tidak hidup dalam dua warna. Mereka hidup dalam spektrum ketakutan, harapan, kesadaran, dan strategi bertahan hidup. Ada mereka yang bersuara lantang: turun ke jalan, menulis kritik, menghadiri audiensi, bahkan menerima risiko di penjara. Mereka sering disebut idealis, kadang nekat. Padahal yang mereka miliki bukan keberanian tanpa rasa takut yang tumpah-ruah menjelma ketidakmampuan untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Ada pula mereka yang bergerak dalam senyap. Tidak membawa poster, tidak meneriakkan slogan, tetapi menanamkan daya kritis di ruang-ruang kecil: rumah, kelas, komunitas baca, dan percakapan sederhana. Gerakan kecil ini menjaga kesadaran agar tidak mati rasa. Menyalakan empati. Berani.
Di antara keduanya, terdapat kelompok terbesar: mereka yang sadar, tetapi terpaksa diam. Mereka tahu ada yang salah, namun hidup menuntut terlalu banyak untuk sekadar bertahan. Tanggungan keluarga, aturan pekerjaan, dan ketiadaan ruang aman membuat diam menjadi pilihan paling rasional. Rasionalitas yang kosong.
Pengalaman Pelagia dan Pavel juga mengingatkan bahwa perlawanan terhadap oligarki dan penindasan bukan sekadar fenomena yang khas, Indonesia pun mengalami di sini kini. Adapun perlawanan kaum buruh dan kaum tertindas sudah hadir di banyak negara dan periode sejarah. Penangkapan sewenang-wenang, pemenjaraan tanpa pengadilan, dan pengasingan adalah taktik umum rezim otoriter di seluruh dunia, termasuk yang pernah dialami Indonesia pada masa orde baru untuk membungkam perbedaan pendapat dan mempertahankan kekuasaan. Dan hari ini terjadi lagi?
Pada akhirnya Novel Ibunda tidak sedang menawarkan optimisme murahan atau glorifikasi heroisme. Maxim Gorky mengajak pembaca memahami bahwa penderitaan yang sama memang tidak cukup untuk melahirkan perlawanan. Yang membedakan adalah kesadaran, akses pengetahuan, rasa aman, dan keberanian batin untuk mengakui bahwa hidup di negara mereka yang gemah ripah loh jinawi ini tidak seharusnya begini.
Baca juga: Admiral Patterson dan Dichtung
Selama keberanian selalu dibayar mahal dan penderitaan terus dihadirkan oleh yang punya kuasa, diam akan tetap menjadi pilihan yang masuk akal bagi kebanyakan orang. Namun selama ada satu, dua, dan berlipat ganda manusia berupaya, lantang maupun senyap, untuk menjaga kesadaran agar tidak mati, harapan belum sepenuhnya padam.
Turen, 25 Desember 2025
Rahayu SJ. Aktivis dan konten kreator asal Ampelgading. Ia telah menerbitkan Buku Pengembangan Diri berjudul 25 Mei, 27 April, dan Lekat dalam Kenangan Lalu. Ia saat ini bekerja sebagai Humas di Lembaga Pendidikan dan Penyalur Tenaga Kerja ke Jepang.
(Editor: A. Elwiq Pr.)
