Kobis Seri
- Back
- Cerpen
- Puisi
- Fragmen
- Kobis Seri

Sudah mulai aku kenal liuk jalan di pasar Turi Medan baru yang aku kenali semakin nyata Meskipun ada rasa aneh...

Gelap malam telah berakhir pada saat dini Kumandangnya dikirim angin sayup-sayup Matahari terbit pertama aku lihat di sini

Seorang sais tak pernah lupa memasang sepatu kuda Larinya kencang berderak-derak Aku tak dapat bertanya, dimana aku berada?

Hidup tak damai sudah dimulai sejak pagi Harus dilalui sekalipun tak ada rela Aku bisa tahan tidak makan berhari-hari Kali...

Kalau ada yang dapat menikmati hari demi hari Dengarkan aku, berjalanlah dengan kepala tegak Tengoklah, aku lebih rapuh dari kaktus

Apakah kamu, wahai remaja, pernah mengalami beban sampai kelu lidah? Padahal air mengalir meliuk tidaklah kaku Kata orang usia remaja...

Hanyut di sungai mencari tepian Airnya deras terbentur batu berkali-kali Apalah artinya ketakutan dan keinginan Kalau kemudian jalannya beda sama...

Matahari melintas ke barat semakin menepi Menggelincir pada langit biru dan menyusup pada awan Pada akhirnya aku tidak bisa menutupi

Kami memang berbeda, aku totok dia baba Katanya cinta tak mengenal perbedaan Katanya cinta melintasi batas-batas yang ada Tapi kenyataan...
