
Judul : Kebun Tjéri
Penulis : A.P. Tjechov
Penerjemah : Tines R.
Cetakan Pertama : 1972
Jumlah Halaman : 132
Penerbit : Pustaka Jaya – Jajasan Jaya Raya, Djakarta
Kesulitan membaca kisah Rusia, bagi saya terletak pada mengingat nama tokoh-tokohnya. Kebun Ceri ini merupakan karya Chekhov (saya menuliskan Judul Buku dan Nama Penulisnya dengan ejaan sekarang) yang ditulis tak lama sebelum ia meninggal dunia.
Baca juga: Omon dan Imin
Sebuah Naskah drama, membuatnya dua kali lebih sulit untuk mengingat nama tokoh-tokoh. Sepanjang saya membacanya dengan seksama untuk keperluan membuat resensi dari karya ini, saya harus membolak-balik halaman utama untuk mengintip daftar nama tokoh dan sebagai apa dia dalam kisah ini.
Kisah diawali dari kepulangan Ranyevskaya Lyubov Adreyevna, yang telah meninggalkan rumah di kampung halamannya selama lima tahun. Dia pergi sejak wafatnya suami, dan kematian tragis anak lelakinya. Anak perempuannya, Anya menyusul ke luar negeri untuk membawa pulang ibunya itu.
Di rumah telah berkumpul keluarga dan kerabat, untuk menyambut kedatangan Ranyevskaya Lyubov Adreyevna. Mereka adalah saudara laki-laki Ranyevskaya Lyubov Adreyevna, Gayev Leonid Adreyevtij; dan Lapachin Yermolaj Alekseyevitj, seorang pedagang sukses yang dulunya anak tetangga pemilik warung di kampung itu.
Selain itu, juga turut hadir bekas budak kakek Ranyevskaya Lyubov Adreyevna, Lyubov Adreyevna; bersama pembantu wanita, Dunyasha; pegawai kantor yang membantu Lapachin, Yepichodov Simyon Panteleyevitj; serta seorang tetangga yang juga merupakan tuan tanah, Simyeonov Pishjik Boris Borisevitj.
Hadir pula, guru pribadi Anya, Sharlotta Ivanovna; seorang pembantu yang sudah mengabdi hingga menjadi kakek 87 tahun, Firs; Trafimov Pyoter Sergeyevitj yang diperkenalkan oleh Varya sebagai Petya Trafimov, bekas guru Grisha; serta putra Lyubov Andreyevna yang mati secara tragis, pemuda yang dijuluki mahasiswa abadi, jatuh cinta kepada Anya dan Yasha, pembantu laki-laki yang muncul di babak kedua.
Masalah utama dari kepulangan yang dipaksakan ini, adalah ketidakmampuan keuangan keluarga untuk dapat menutupi pengeluaran keluarga tuan tanah ini. Kebiasaan Lyubov Adreyevna menghamburkan uangnya, dan Gavey kakaknya yang baru memikirkan untuk bekerja setelah kondisi pailit.
Persoalan semakin pelik, saat kondisi kebun ceri yang produktivitasnya sangat menurun, diiringi perubahan kondisi sosial dan politik negerinya. Keluarga besar ini, seperti apa yang dikatakan Lapachin, harus memikirkan masa depan tanah dan kebunnya. Menjual dan menjadikannya bisnis penginapan musim panas atau membiarkannya disita oleh Bank.
Drama empat babak yang yang mengetengahkan persoalan tersebut, dan juga pernak-pernik kenangan, serta kejadian di antara tokoh-tokohnya yang unik, akan sangat memperkaya permenungan batin dan khazanah rasa kesenian kita.
Baca juga: Mei dan Terali Besi
Yang menarik dari buku cetakan pertama ini, diterjemahkan dari bahasa aslinya oleh Tines R. Dalam akhir kata pengantar yang ia tulis, ia mengucapkan terima kasih kepada suaminya Ramadhan K.H., salah seorang sastrawan yang terkemuka di negri kita. Dan dari sini hal yang semakin menarik bagi saya, penerjemah buku ini adalah Ibunda dari musisi yang saya kenal di era saya sendiri: Gilang Ramadhan.
Pruistin Atmadjasaputra aka Tines R. pada saat itu adalah seorang diplomat, yang tentunya banyak mempunyai latar belakang kehidupan menetap di berbagai negara. Hal-hal di atas ini, bagi saya merupakan keberuntungan bagi penerjemahan karya Chekhov, sebagai mana kekhawatiran yang beliau sampaikan pula pada pengantar:
Haruslah diakui, bahwa amat sulit menterdjemahkan tjeritera-tjeritera sandiwara Tjechov, oleh karena di dalamnja terdapat banjak puisi. Bahajanja bisa-bisa terdjadi puisinja banjak jang hilang. Tapi apabila dilalukan penjaduran atasnja, maka seperti banjak dikemukakan para ahli mengenai Tjechov, malahan akan terdjadi “pembunuhan” atas diri Tjechov sendiri.
Dalam menterdjemahkan Kebun Tjéri ini, saya mentjoba sedapat mungkin mendjaga agar kadar “puisi” jang terdapat dalam karya besar itu tidak hilang dalam bahasa Indonésia jang harus diakui mempunjai sifat dan tabi’at jang berbéda sangat dengan bahasa Rusia. Berhasil atau tidak usaha itu, saya serahkan kepada penilai para pembatja sekalian.
Sepanjang saya membaca kembali buku berukuran kecil ini, proses penerjemahannya sama sekali tidak merusak citra karya Chekhov, dan pesan-pesan simbolik, puitis atau apa saja yang seharusnya sampai kepada pembaca.
Misalnya pada sebuah dialog berikut ini. Hal-hal sederhana yang ditulis Chekov, dalam terjemahan bahasa Indonesia menjadi hal-hal yang juga sampai kepada saya.
Percakapan antara Varya (anak angkat Ranyevskaya Lyubov Adreyevna – pemilik tanah rumah kebun ceri), dan Dunyasha (pembantu wanita) – halaman 26
VARYA
(Dekat pintu, dengan suara jang tidak puas)
Apa pula ini?
DUNYASHA
(Berlinang)
Pisin, saya petjahkan…
VARYA
Itu membawa untung
Sebuah percakapan menghibur atau ada kepercayaan demikian di sana (memecahkan sesuatu bukan sebuah tanda kesialan, namun keberuntungan). Saya teringat, tahun-tahun yang saya butuhkan untuk sekedar mempunyai perasaan rela atas pecahnya sebuah pisin.
Baca juga: Kisah Emiria Soenassa, Ibu Pelukis Indonesia
Hal kecil, yang kemudian hari banyak memberikan pelajaran untuk bisa merelakan hal-hal besar yang tidak bisa diubah dan harus saya terima. Ini sebagai contoh kecil, secara keseluruhan penerjemahan sepanjang kisah, sangat gemilang menurut saya.
Hari ini, bila kita mencari tahu, karya Chekhov -Kebun Ceri, sangat banyak peluang untuk mendapatkan, berbagai pandangan dan tayangan. Professor Belinda Jack atau mungkin lainnya sudah membahas hingga ke akar-akarnya, dan bagaimana dunia teater, serta film telah berlomba-lomba mencoba mementaskannya.
Namun, membaca karya Chekhov dari buku yang saya pegang ini. Cetakan Pertama tahun 1972, masih menggunakan ejaan lama dan gambar jilid sederhana oleh A. Wakidjan dan dicetak oleh Pertjetakan Negara, Djakarta – saya merasakan hal lain alih-alih mengikuti apa yang kini menjadi pendapat umum, tertulis di bagian sampul belakang:
“Kebun Tjéri menampilkan suasana di mana sedang terdjadi perubahan, dan para kritisi menjebutkan ini sebagai tonggak batas waktu peralihan, di mana Tjechov menundjukkan masa depan jang penuh harapan dan mengutjapkan masa depan jang penuh harapan dan mengutjapkan selamat tinggal pada masa lampau jang penuh keprihatinan,”.
Mengapa buku ini perlu dibaca berulang kali. Bacalah berulang kali, hingga bertemu pesan ini: Kebun Ceri adalah inti yang ingin disampaikan Chekhov, sebagai simbol hati nurani.
“Suara dari jauh seperti datang dari langit, bunyi senar yang putus, sekarat pilu” – sebuah kalimat yang pertama muncul di halaman 74. Yang menurut Firs (tokoh pembantu, kakek berumur 87 tahun) sebagai sebuah suara yang juga terdengar sebelum sebuah bencana tiba. Secara puitik diulang di akhir babak:
Terdengar suara dari djauh seperti datang dari langit, bunji senar jang putus, sedang sekarat pilu. Keadaan mendjadi lengang, hanja terdengar dari kedjauhan suara kapak menebangi pohon.
Baca juga: Perkuat Literasi, Kobis Gelar Belajar Menulis Fragmen
Dari semua tokoh-tokoh yang ada, keputusan-keputusan yang dibuat, tak ada yang dapat menyelamatkan pohon ceri ini. Apapun zamannya, kejadian selalu berulang dalam wajah yang bisa saja berbeda.
Kamu selalu bersama dengan pohon cerimu atau tidak?
(Editor: A. Elwiq Pr.)
