
Sebuah buku lawas tak lagi utuh, penuh sobekan tanpa sampul dan tahun terbit. Dijual dengan mahar, Rp150 ribu. Buku tua itu berjudul “Peringatan 30 Tahun Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia”.
Baca juga: Perkuat Literasi, Kobis Gelar Belajar Menulis Fragmen
Buku tua ini banyak memuat foto-foto wanita Indonesia, yang mungkin berpengaruh dan layak dicontoh oleh perempuan masa kini. Pada halaman 259 terdapat sebuah potret diri dengan keterangan singkat “Emiria Soenassa Pelukis Wanita Pertama”.
Suatu hari iseng membeli buku-buku lawas bertema seni rupa Indonesia. Terbelilah buku kumpulan esai Drs. Sudarmadji seharga Rp77 ribu, berjudul “Pelukis dan Pematung Indonesia”.
Sepertinya buku laris. Cetakan pertama 1981 dan cetakan kedua 1982. Diterbitkan penerbit Aries Lima. Di halaman 49, tersaji tulisan Sudarmadji tentang Emiria Soenassa yang merupakan pelukis wanita pertama Indonesia.
Terdapat juga foto Emiria Soenassa, yang terlihat sedang berdiri memakai kaca mata sambil memegang kuas dan tempat cat. Mungkin ia dipotret saat proses melukis. Di sampingnya terlihat lukisan Pemain Angklung. Nampak dibelakangnya sebuah lukisan agak besar. Lukisan yang berjudul “Pasar”.
Pada 1943, kedua lukisan itu mendapatkan sebuah penghargaan. Lukisan Pasar, memperoleh penghargaan Saiko Shiki Kah Sjo, dan lukisan Pemain Angklung memperoleh penghargaan Djawa Shinbun Sjo. Sempat dikabarkan hilang, namun kedua lukisan itu tersimpan dengan terawat di rumah Iskandar Waworuntu, di Bumi Langit.
Baca juga: Cermin Hatiku
Banyak yang beranggapan Emira adalah pelukis wanita misterius. Mungkin, karena di masa kini nama dan karya-karyanya jarang sekali dibicarakan dalam dunia seni rupa Indonesia.
Dalam tulisannya, Sudarmadji beranggapan Emira tidak banyak dikenal, karena ia lahir besar dan akhirnya meninggal dunia dalam situasi pers dan perbukuan di Indonesia belum begitu baik. “Kegiatannya sedikit dicatat orang,” tulisnya.
Tapi kondisi berbeda diungkapkan Heidi Arbuckle. Perempuan kelahiran Australia ini, secara serius meneliti dunia dan karya Emiria Soenassa, hingga membuat sebuah desertasi yang berjudul “Performing Emiria Sunassa: Reframing the Female Subject in Post/colonial Indonesia”. Desertasi tersebut, dapat dibaca di perpustakan University Melbourne, Australia.
“Absennya seniman wanita seperti sebuah kesengajaan. Jika tidak, sepak terjang Emiria di dunia seni rupa tak mungkin terlupakan begitu saja,” ungkap Heidi Arbuckle, dalam sebuah artikel yang dimuat majalah seni rupa Visual Arts (2004) berjudul “Emiria: Sosok Narasi yang Terhapus”.
Siapa Sebenarnya Emiria Soenassa?
“No. I am not a painter by profession. I just paint as a hobby,” sebuah pengakuan dari Emiria yang dimuat majalah Indonesian Affairs (1948) halaman 54.
Baca juga: Gula
Dalam majalah Star Weekly terbitan tahun 1949. Emiria disebut sebagai Princess Tidore. Tertera nama lengkapnya yang lumayan panjang: Emiria Soenassa Wama’na Poetri Al’Alam Mahkota Tidore. Dia lahir di Tanawangko (Minahasa) pada 1894. Tanggal dan bulan tidak dicantumkan.
Sementara menurut Sudarmadji, Emiria lahir tahun 1895. Angka tahun ini berbeda dengan versi majalah Star Weekly. Catatan lebih jelas tentang kelahiran Emiria, terungkap dalam majalah Pantjawarna (1958) halaman 28, yang menyebutkan Emiria lahir di Tanawangko (Sulawesi Utara), 5 Agustus 1894.
Heidi menyebut, sebagian orang mengingatnya sebagai wanita Manado, dari keluarga Manoppo-Pareira, dan terlahir dengan nama Emma Wilhelmina Pareira. Emiria disebut Heidi meninggal di Lampung, pada 7 April 1964, namun belum ada orang yang mengaku berziarah di makamnya.
Bakat melukis Emiria sudah terlihat sejak ia berusia tujuh tahun. Emiria pernah membuat gambar karikatur seorang guru sedang memukuli anak muridnya. Karikatur tesebut membuat gurunya tersinggung, dan marah kepadanya.
Peristiwa kemarahan gurunya tersebut, membuat Emiria sempat tersendat dalam mengembangkan bakat melukisnya. Dia baru tercatat aktif dalam dunia seni rupa, saat mengikuti pameran lukisan pada tahun 1940.
“Emiria aktif sebagai pelukis sejak pameran pertamanya yang diadakan oleh Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada 1940 di Toko Buku Kolff. Di situ ia memajang lukisan pertamanya, Telaga Warna,” tulis Heidi yang dimuat dalam majalah Visual Arts.
“Pada 1941, Emiria juga ikut menjadi peserta pameran perintis pelukis pribumi di Kunstkring, Belanda, yang sangat bergengsi itu. Karyanya yang ikut dipamerkan adalah Pekuburan Dayak Pnihing, Orang-orang Papua, dan Kampung di Teluk Rumbolt,” imbuh Heidi.
Baca juga: Membaca Kartini Dari Dua Sisi
Karya-karya yang dilahirkan Emiria tak lepas dari cemoohan, tetapi tidak sedikit juga yang menyukai lukisannya. Kusnadi, salah satu kritikus seni yang paling keras mengkritisi karya-karya Emiria.
Dalam melukis, Emiria dinilai banyak menabrak aturan-aturan akademik. Lukisan-lukisannya penuh dengan lambang mistis. Warna-warna yang ditorehkan di atas kanvas memiliki keunikan, berani dan murni.
Banyak yang berpendapat, Emiria tidak menguasai kecakapan teknik dalam melukis, dan corak lukisannya yang naif ekspresionistis. Tetapi buah tangannya sangat digemari di luar negeri, seperti di Jepang, Hongkong, Kanada, India, Amerika, Palestina, Inggris, Belanda, Jerman, dan Prancis.
“Entah disadari atau tidak oleh Emiria, saat ia menjelajahi Nusantara dan menggambarkannya dalam karya-karyanya, ia telah menjadi seorang feminis sejati dan juga antropolog visual asli Indonesia,” ungkap Vidhyasuri Utami, penulis dan pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti dan Lasalle College Indonesia, dalam artikelnya yang berjudul “Kaleidoskop Nusantara di Mata Emiria Soenassa” (Visual Arts, 2011).
Karya Emiria pernah dipamerkan di Jakarta, pada penghujung tahun 1997. Lukisan cat minyak di atas kanvas berukuran 68 x 65 cm tersebut, memiliki judul “Pengantin Sulawesi”.
Kehadiran lukisan Emiria pada pameran itu, terungkap dalam buku katalog pameran bertajuk “Dari Mooi Indie Hingga Persagi”. Pameran diselenggarakan oleh Museum Universitas Pelita Harapan, dan Museum Seni Rupa Jakarta, pada 26 September 1997-26 Januari 1998.
Pada halaman 49 buku katalog pameran tersebut, juga terdapat artikel karya Hilda Soemantri. Dalam artikel berjudul “Emiria Soenassa Mother of Indonesia’s Female Modern Artist”, Hilda menyebut Emiria sebagai ibu pelukis Indonesia.
“Among her fellow painters, male and female, she stood out with her strong primitive expressionism, duly recognized by her peers. The time has now come, that not only her peers, but also the present Indonesian generation should acknowledge that Persagi presented us with our first female modern artists, and that Emiria Soenassa was one of the outstanding ones. She should justly rank as one of Indonesia’s first great woman painters, and the mother of Indonesia’s female modern artists,” tulis Hilda.

Keren 👍👍