Rayuan Ilmuwan Das Kapital

Rayuan Ilmuwan Das Kapital. Foto/Artifial Intelligence (AI)/canva.com

Ikatan pertemanan antara Marx dengan Engels diawali sejak kali pertama mereka berjumpa. Tidak selalu berjumpa, namun dalam alur kerja nyata dan terlaksana.

Baca juga: Senja

“Marx mengenal Engels dari karyanya ketika Marx menjadi editor Rheinische Zeitung, dan mereka bertatap muka pada November 1842 di Köln. Rheinische Zeitung atau Suratkabar Rhenish, lahir di kota tersebut, yang juga dikenal sebagai Rhineland,”. (Pertemanan Marx – Engels dan Terciptanya Das Kapital, Kobis 17/9/2024)

Das Kapital Volume I dirilis dalam bahasa Jerman pada 14 September 1867. Pada 1887, baru muncul edisi berbahasa Inggris dengan tambahan kata pengantar dari Engels. Tentu saja, tanpa mengubah pengantar Marx dan Engels dalam edisi bahasa Jerman. Adapun edisi berbahasa Perancis ditambah index.

Karya monumental, Das Kapital Volume I, lahir setelah 23 tahun korespondensi antara Engels dan Marx. Saat itu Engels tinggal di Wuppertal, Jerman, sebelum kemudian pindah ke Manchester Inggris. Sedangkan Marx saat itu tinggal di Paris, Perancis.

Marx tinggal dua tahun di Paris (1843 – 1845) hingga pemerintah Perancis tidak memberikan izin tinggal. Ia kemudian eksodus ke Inggris, tepat tinggalnya di Dean Street, perkampungan Soho, London. Selama lima tahun, Marx pindah ke “rumah sebelah” untuk mendapatkan satu kamar lagi menjadi ruang kerjanya pada 1855 di gang yang sama.

Kepindahan Engels ke Manchester, tidak lepas dari pertimbangan lebih dekat dengan Marx, kawan rembukannya. Selain, secara finansial menghemat uang guna bisa mengurusi perusahaan tekstil orangtuanya untuk menyokong pergerakan yang diupayakan bersama Marx.

Dalam keluarga, Engels merupakan sulung dari sembilan bersaudara, mendapat keleluasaan tak terbatas dalam keluarga. Meski begitu, ia punya jalan pemikirannya sendiri terkait buruh perempuan dan anak-anak yang bekerja dalam perusahaan tekstil ayahnya. Baik perusahaan di Wuppertal, Jerman, maupun di Manchester, Inggris.

Engels baru mengetahui latar belakang Marx, ketika Marx menjadi editor Rheinische Zeitung, tempat di mana ia mengasuh kolom editorial. Melalui kolom itu, Engels secara terang-terangan memperjuangkan hak para petani di wilayah bekas kerajaan Prusia, asal Marx.

Baca juga: Masih Kusimpan Sekarung Kata-kata

Perkawanan Engels dan Marx sangat erat, bahkan Engels mendukung Marx secara kapital (baik uang dan buku-buku). Bukan didasari kekaguman semata, namun justru menandai upaya bersama merasionalkan gerakan revolusioner, di mana kaum proletar niscaya mengendalikan meruyaknya (meluasnya) kaum borjuis.

Pada secarik surat kepada Engels, Marx mengatakan: “Proletariat kita jumlahnya kecil tetapi ada kelas buruh kita yang berjumlah sangat besar, terdiri dari para pekerja yang nasibnya lebih buruk ketimbang nasib seluruh kaum proletar yang ada,”.

Marx dan Engels tanpa terburu nafsu membuka ruang kesadaran kelas buruh untuk meningkatkan kehidupan. Bukan terkait penguasaan kapital, namun tentang akses kemanusiaan agar bekerja secara seimbang dan manusiawi, dengan menggulingkan sistem kapital: melipatgandakan uang (di mana manusia jadi alat) sedangkan uang jadi capaian.

Engels sejak mula mengerti bahwa ia lemah secara teoritis. Sebaliknya, hal teoritis itu sangat dikuasai Marx. Ia tidak mungkin bekerja sendiri. Perannya bersama Marx tak lain adalah membangun dan mengorganisir kelas buruh. Saling mendidik dan syukur-syukur apa yang mereka upayakan mendapat simpati.

Mereka saling isi. Marx kadang-kadang menggunakan Engels dalam pengetahuan dan ketelitiannya dalam kebahasaan. Bahkan, karya-karya Marx pun bisa diatur Engels menjadi lebih baik dan tersusun rapi. Dengan kepiawaian pandangan dan intuisi Marx, Engels seolah menemukan hal-hal yang tak terpikirkan olehnya sebelumnya. Mereka saling setia satu sama lain, dalam kerangka pemikiran politik dan persahabatan.

Setelah tiga tahun kehadiran Das Kapital Volume I, surat menyurat antara Marx dan Engels di mana patut digarisbawahi adalah surat tertanggal 10 Februari 1870.

Surat itu lahir saat Marx baru membaca 150 halaman pertama buku karya Vasily Vasiliyevich Bervi-Flerovsky (1829-1918). Flerovsky kemudian hari dikenal sebagai seorang ekonom, sosiolog, jurnalis, dan ahli teori terkemuka gerakan Narodnik dan nihilis Rusia. Usianya lebih muda sembilan tahun dari Marx. Marx dalam surat pada Engels di atas menyebut, pria ini adalah musuh “optimisme Rusia” yang gigih.

Marx menyampaikan pujian pada buku itu, tanpa menyebut judul buku, bahwa tulisannya otentik. Dari sekian halaman, Marx menulis, pria tersebut telah berkeliling kemana-mana dan melihat segala sesuatunya sendiri. Pun, Marx menggarisbawahi kebencian nan membara dalam karya Flerovsky terhadap tuan tanah, kapitalis, dan pejabat. Tidak ada doktrin sosialis, tidak ada mistisisme tentang tanah (artinya mendukung bentuk kepemilikan komunal), tidak ada pemborosan nihilistik.

Tak sekadar pujian. Marx juga melontarkan kritik terkait sejumlah omong kosong, meskipun bermaksud baik. Ruang toleransi Marx terasa longgar dan luas. Artinya Marx cukup serius menelaah secara keseluruhan karya tadi, dengan tanpa menghakimi.

Baca juga: Apakah Tagore Tidak Terlalu Tua Bagi Kita?

Bagaimanapun, itu adalah buku terpenting yang terbit sejak kondisi kelas pekerja semakin buruk. Demikian Marx memberikan kesimpulan, dan turut menyampaikan keprihatinan tentang gambaran kehidupan keluarga para petani Rusia—pemukulan mengerikan hingga kematian perempuan dalam lembaga keluarga—juga digambarkan dengan baik.

Dan sebagai penutup surat, yang bikin meringis, Marx mengolok-olok penulis lain dari angkatan tua Rusia setelah memuji-muji angkatan mudanya. Kenakalan Marx nan manis.

“Oleh karena itu, akan sangat tepat jika kau, Fred, segera mengirimkan kepadaku kebohongan imajinatif dari Kawan Herzen,”.

Demikian cara Marx meminta Engels untuk mengiriminya buku karya Herzen. Alexander Ivanovich Herzen (1812-1870) adalah seorang penulis dan pemikir Rusia yang dikenal sebagai perintis gerakan sosialisme Rusia dan salah satu tokoh populis agraria. Ia salah satu tokoh yang mengungsi ke London dan terus berusaha mempengaruhi situasi di Rusia. Ia berkontribusi pada iklim politik yang mengarah pada emansipasi buruh pada 1861. Sastrawan menawan nan dihormati Marx.

Turen, 4 Oktober 2024

 

(Editor: L. Nadini)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *