
Judul : Tukang Kebun
Penulis : Rabindranath Tagore
Penerjemah : Hartojo Andangdjaja
Penerbit : Pustaka Jaya Jakarta
Cetakan : ke-2, 1996
Tebal : 130 halaman
Tangan berlekapan dengan tangan dan mata berlena dengan mata;
demikian bermula rekaman kisah hati kita.
Malam purnama di bulan Maret;
bau henna yang harum di udara;
sulingku terkapar lena di tanah dan karangan bungamu terbengkalai tak selesai.
Kasih antara engkau dan aku ini sederhana bagai sebuah nyanyi.
(Lirik ke-16, Tukang Kebun)
Tukang Kebun, sebuah kumpulan 83 lirik karya Rabindranath Tagore. Karya ini terbit dalam Bahasa Indonesia, diterjemahkan oleh Hartojo Andangdjaja, sastrawan angkatan ’66, pada 1976.
Baca juga: Kaki
Sebelum diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, buku ini terlebih dahulu diterjemahkan dalam Bahasa Inggris, dari asalnya ditulis Tagore menggunakan Bahasa Bengali.
Tagore lahir di kawasan Jorasanko. Sebuah kawasan elit di Kalkuta pada 7 Mei 1861. Ibunya bernama Sarada Devi, sedangkan ayahnya Debendranath Tagore, seorang filsuf. Adapun kakeknya, Pangeran Dwarkanath Tagore, tercatat sebagai industrialis India pertama yang membentuk perusahaan dengan mitra orang-orang Inggris.
Terpilihnya Rabindranath Tagore menerima Nobel Sastra (1913) sebagai sastrawan penerima penghargaan pertama dari luar Eropa, agaknya bukan sekadar jerih payah pribadi. Faktor Keluarganya, juga punya andil dalam hal itu.
Peran keluarga itu, ditandai dengan mendirikan sekolah untuk anak-anak lelaki Hindu dari kelas sosial menengah ke bawah pada 1813 sebagai pernyataan dukungan gerakan Bengali Renaissance, yang diprakarsai oleh Raja Rammohan Roy (1772).
Selama hampir dua abad, gerakan transformasi radikal tersebut dikaitkan dengan kebangkitan pemikiran, aktivitas anti-kolonialis, dan memiliki sikap nasionalis. Tagore dibesarkan dalam situasi demikian oleh orangtuanya.
Baca juga: Amsal Monyet
Bulan Mei tahun ini, diperingati 163 tahun hari lahirnya. Selain kumpulan lirik berjudul Tukang Kebun ini, ia juga menciptakan hampir 3.000 lukisan, dan 2.230 syair lagu, termasuk lagu kebangsaan Bangladesh, Sri Lanka, dan India yang ia gubah (sumber: CNN India).
Adapun penerjemah mencatat, Tagore juga menyusun 50-an buku drama, 40 judul roman dan cerpen, serta beberapa buku esai dan filsafat. Gitanjali adalah magnum opus yang mendapat apresiasi tinggi, hingga Tagore pun merealisasikan itikad dengan memperlebar sayap gerakannya hingga ke Indonesia.
Jangan pergi, Kekasihku, tanpa pamit padaku.
Aku telah berjaga sepanjang malam, dan kini mataku berat karena kantuk.
Aku takut, kalau-kalau aku kehilangan kau selagi aku tidur.
Jangan pergi, Kekasihku, tanpa pamit padaku.
Aku bangkit dan kuulurkan tangan hendak merabamu.
Bertanya aku pada diriku, “bermimpikah aku?”
O, dapatkah aku menjerat kakimu dengan hatiku dan
mendekapkannya erat-erat ke dadaku!
Jangan pergi, Kekasihku, tanpa pamit padaku.
(Lirik ke-34, Tukang Kebun)
Bila William Butler Yeats, menafsir karya Tagore sebagai karya yang berhasil mengungkapkan cinta asmara dalam berbagai nuansa kesedihan dan kegembiraannya, kekecewaan dan harapannya, kecemasan dan keberaniannya, sentuhan kelembutan dan kemesraannya.
Bahkan dalam cinta semacam itu, perempuan kehilangan arti badaniahnya. Kehilangan makna sebagai perempuan yang nyata. Perempuan berikut kejelitaannya, bagi Tagore manifestasi keindahan yang hanya bisa disentuh oleh ruh. Demikian Yeats menyimpulkan.
Baca juga: Emak, Ibu Filosofis Daoed Joesoef
Sedangkan kita tahu, hal-hal terkait jiwani, meruang melampaui hal kasat dan terjangkau batin dalam fasad-fasad khas timur. Kita telah akrab menurun menahun soal sentuhan-sentuhan batiniah, sekenal dongeng kakek kita sendiri.
Kupegang kedua tangannya dan kutekankan dia ke dadaku.
Kucoba memenuhi lenganku dengan kejelitaannya,
Merampas senyum manisnya dengan ciuman berulang-ulang,
Mereguk cerlang mata hitamnya dengan mataku.
Tetapi ah, manakah itu?
Siapa bisa meregangpisahkan kebiruan itu dari langit?
Kucoba mendekap keindahan;
ia terlucut lepas;
hanya tubuh itu juga ditinggalkannya di tanganku.
Letih dan sia-sia aku pun pulang.
Betapa dapat jasad menjamah keindahan,
yang hanya ruh saja dapat menjamahnya?
(Lirik ke-49, Tukang Kebun)
Kehadiran Tagore di Indonesia, ditandai dengan ketokohannya sebagai pendidik visioner yang merevolusi pengajaran di kelas tradisional dan pada 1901 mendirikan Perguruan Santi Niketan (Tempat Yang Damai) di Balpur. Dan, 1922 berkembang menjadi Universitas Visva Bharanti. Sedangkan salah satu dari sekian perjalanan pentingnya, Tagore membundel “Letters From Java: Rabindranath Tagore Tour of South East Asia 1927”.
Di dalamnya menerakan bahwa ia bertolak dari Kalkuta pada 12 Juli 1927. Memasuki perairan Selat Malaka pada 17 Agustus 1927, dan sampai Batavia pada 21 Agustus 1927. Lalu diteruskan perjalanan darat ke Bandung, Jogyakarta, Surakarta, Surabaya, dan menyeberang ke Denpasar. Tagore bertolak pulang dari Batavia pada 20 September 1927 (sumber: Pandangan Jogja.com, 14 Februari 2020).
Dalam perjalanan tersebut, Tagore menulis puisi “Kepada Tanah Jawa” yang diterjemahkan oleh Sanusi Pane. Perjalanan ke Jogyakarta, ia sempatkan berkunjung ke perguruan Tamansiswa yang disinggung oleh Ki Hadjar dalam esai “Taman Siswa dan Shanti Niketan”, diterbitkan oleh Majalah Kebudayaan, 16 Juni 1950.
Baca juga: Pertemanan Marx – Engels dan Terciptanya Das Kapital
Bila anda pernah studi di perguruan Taman Siswa, maka karya Rabrindranath Tagore sudah dikenalkan sejak pendidikan dasar dalam pelajaran Ketamansiswaan. Sebagai kedekatan Indonesia – India yang sudah diwariskan lama sekali.
Jadi, apakah Tagore terlalu tua untuk kita dalam kerangka kekaryaan? Coba perhatikan berikut ini di hampir penutup buku:
Pelan kucium dia pada bibirnya dan lembut berbisik aku di telinganya hingga dia pingsan kelelahan.
Dia hilang dalam keindahan yang samar-samar tak berwatas.
Dia tak membalas sentuhanku, nyanyianku sia-sia membangunkan dia.
Malam ini telah datang kepada kami panggilan angin ribut dari rimba raya.
Pengantinku gemetar dan bangkit berdiri, dicekamnya tanganku dan dia pun keluar.
Rambutnya berlambaian di angin, cadarnya berkibaran dan untaian bunganya gemerisik di dadanya.
Dorongan maut telah mengayun dia ke dalam hidup.
Kami saling berhadapan muka dan hati, pengantinku dan aku.
(Nukilan Lirik ke-82, Tukang Kebun)
Mustahil tanpa gairah dan kegairahan hanya dimiliki siapa saja yang masih mempercayai pupusnya daun-daun, Kemudaan yang membaru dan diperbarui. Selalu. Karya Rabindranath Tagore, agaknya relevan belaka dengan sisi kemudaan manusia, “mata air yang mengalir melintasi bayangan megah pohon-pohon tua ke anak-anak sungai yang tertawa-tawa,”.
Turen, 24 September 2024
