Pertemanan Marx – Engels dan Terciptanya Das Kapital

Pertemanan Marx – Engels dan Terciptanya Das Kapital. Foto/Artificial Intelligence (AI)/canva.com

Karl Marx, kelahiran Trier, Jerman pada 5 Mei 1818. Trier, kota tertua di Jerman, terletak di ujung Lembah Mosel dekat perbatasan Luksemburg. Sebuah ibu kota Romawi kuno, yang kabarnya telah dihuni selama 1.300 tahun sebelum bangsa Romawi tiba.

Baca juga: Virus

Kota tua dengan gereja Kristen tertua di Jerman, telah melahirkan seorang pemikir, ekonom, sejarawan, teoritikus politik, sosiolog, jurnalis, dan jangan lupa, ia adalah sosialis revolusioner; mendedah faham perjuangan kelas. Ia lahir dari keluarga kelas menengah.

Karl Marx mencipta karya Das Kapital ketika ia berkawan dengan Friedrich Engels kelahiran 28 November 1820 di Barmen, wilayah atas lembah Wupper yang sekarang dikenal sebagai kota Wuppertal, Jerman.

Kota tersebut dari kota Trier ke arah utara sekitar 221 km. Engels dua tahun lebih muda dari Marx. Lahir dari kaum Pietis, Kristen taat dengan aset perusahaan keluarga yang membuat Engels berpikir tentang keadilan secara signifikan sejak remaja. Hingga ia kemudian memutuskan menjadi seorang ateis.

Marx mengenal Engels dari karyanya ketika ia menjadi editor Rheinische Zeitung, dan mereka baru bertatap muka pada November 1842 di Köln. Surat kabar Rhenish, lahir di kota tersebut, yang juga dikenal sebagai Rhineland.

Keduanya dipertemukan dalam pemikiran Hegel tentang dialektika. Hingga kemudian hari, mereka bersurat-suratan diawali ketika Engels melakukan muhibah dari London kembali ke Barmen, mampir Paris pada Agustus 1844. Selama sepuluh hari bersama-sama mengerucutkan pandangan teoritis dalam rangka melawan kaum Hegelian Muda.

Engels menyelesaikan tulisannya sebelum meninggalkan Paris. Sesampai di Barmen ia menulis surat kepada Marx perihal perjumpaan dan pemikirannya selama perjalanan. Tulisan itu terkait kawan-kawan semasa sekolahnya dan pergerakan yang mereka lakukan di Elberferd, wilayah bawah lembah Wupper, pusat industri dan segala persoalan buruh yang berkerak.

Marx lebih kalem menyelesaikan bagiannya, dan kemudian karya mereka kita kenal berjudul The Holy Family atas usul Marx, yang sebelumnya mereka beri judul A Critique of Critical Criticism.

Engels menutup surat pertamanya kepada Marx begini: I shall be curious to know whether the postal sleuth-hounds are deceived by the ladylike appearance of this letter.

Baca juga: Soesilo Toer, Ziarah Literasi

Ia yakin, para penguntit surat akan kecele dengan tampilan suratnya yang manis untuk Marx. Engels jelas menunjukkan kegembiraannya menemukan kawan yang lama ia nanti-nanti. Bromance, kalau orang sekarang sebut. Surat tanpa tanggal yang diperkirakan ditulis Engels pada 19 November 1844.

Pada 1845, pemerintah Prancis mengusir Marx karena aktivitas komunisnya. Maka Marx pindah ke Brussel, Belgia. Dan, The Holy Family pun diluncurkan pada tahun itu. Menyusul terbit karya mereka selanjutnya The German Ideology (Surat-surat untuk Revolusi: Persahabatan Marx-Engels, Marcello Musto, Indoprogress 2018). Marcello mencatat lebih 2.500 korespondensi Marx dan Engels dalam kurun dua dekade.

Tak ayal Engels lebih antusias dan tanpa beban dalam urusan bersurat-suratan. Pada 1840 Engels dalam salah satu karya dengan nama samaran Friedrich Oswald, menulis begini: untuk mendapat hasil optimal dalam hidup, anda harus berani merasakan gairah masa muda.

Dan itu bukan sekedar ia yakini namun benar-benar ia jalani. Sebagaimana Marx, Engels agaknya menolak sikap hidup idealis. Mereka adalah para naturalis, bahwa penjelasan yang dihasilkan oleh pikiran, berasal dari alam.

Pada 1842 Friedrich Engels diminta ayahnya bekerja mengurusi perusahaan keluarga mereka di Manchester. Tujuannya untuk mengurangi kericuhan yang ditimbulkan Engels dalam tatanan masyarakat mapan di lembah Wupper, tempat tinggal mereka.

Di Manchester, Engels tak sanggup sehari suntuk duduk di kantor. Dalam upayanya mencari tahu banyak hal, Engels bertemu Mary Burns dan jatuh cinta. Buruh dari pabrik yang ia urus, gadis Irlandia yang keras, pemberani sekaligus pengikut gerakan radikal.

Engels kemudian dibuat melek dengan situasi pabrik-pabrik yang ada di sekitar Manchester dengan memasuki distrik-distrik kumuh. Mereka hidup berpasangan selama 20 tahun dan menikah beberapa hari sebelum Mary Burns meninggal dunia pada 1863.

Dalam pada itu Karl Marx setelah diusir dari Paris, dan pindah ke Brussel, sempat kembali ke Paris. Sebelum akhirnya menjadi pelarian, menetap di London, selama enam tahun. Di sebuah gang, Jalan Dean.

Mario Vagas Llosa, penulis asal Peru kelahiran 1936 mengabadikan lawatannya pada 1966 menulis seperti ini: Menggundahkan dan paradoksal bahwa distrik ini yang dalam pengertian tertentu menjadi tempat lahirnya perlawanan paling geram dan efektif terhadap borjuasi kini menjadi tempat foya-foya paling dekaden dan afkiran bagi kaum borjuis London. (Terj. Ronny Agustinus).

Baca juga: Kemarin

Maka Erich Fromm dalam buku Konsep Manusia Menurut Marx mengatakan, Marx melawan dehumanisasi. Tujuan Marx dan visi sosialismenya senyatanya menyadarkan apa yang terjadi dalam masyarakat kapitalis; orang dimotivasi oleh keinginan memperoleh materi lebih banyak, kesenangan dan barang-barang, dan keinginan ini hanya terbatas untuk mendapatkan keselamatan dan menghindari resiko. Mereka semakin puas dengan kehidupan yang diatur dan dimanipulasi baik di wilayah produksi maupun konsumsi.

Adapun ia berharap manusia membebaskan diri dari tekanan kebutuhan ekonomi, supaya manusia dapat sepenuhnya menjadi manusia; kepeduliannya adalah emansipasi manusia sebagai individu, lepas dari keterasingan, merestorasi kemampuan manusia berhubungan dengan dirinya secara utuh sehingga mampu berkorelasi dengan sesamanya dan alam. Dengan kata lain filsafat Marx adalah eksistensialisme spiritual dengan bahasa sekular. (hal.5-7)

Apakah pandangan Marx sepadan dengan penderitaannya secara pribadi? Pada tahun 1855, Kepada Engels, Marx menulis ketika ia kehilangan anak bungsu laki-lakinya karena kelaparan yang diderita keluarga mereka: “Aku telah mengalami segala jenis permusuhan, tapi kini untuk pertama kali aku tahu apa arti kemalangan,”.

Ini salah satu pemicu bagi Engels untuk kembali ke Manchester, mengurusi perusahaan ayahnya dan menopang kehidupan Marx, agar kawan senasib sepenanggungannya dapat kerja studi sebagaimana layak dan baiknya. Hal itu tak disia-siakan Marx. Ia bekerja pulang-pergi ke perpustakaan dari jam sembilan pagi hingga setengah delapan malam. Ditambah empat jam studi di kamar kerjanya yang berdebu dan meninggalkan bekas dari mana ke mana ia jalan dan duduk. Tercetak di lantai.

Dalam surat Marx yang diabadikan dalam buku Das Kapital volume pertama, ia menulis kepada Engels:

August 16, 1867, 2 o’clock night

Dear Fred,

Have just finished correcting the last sheet (49th) of the book. The appendix – form of value – takes 1 ¼ sheets in small print.

Preface ditto sent back yesterday corrected. So this volume is finished. It was thanks to you alone that this became possible. Without your sacrifice for me I could never possibly have done the enormous work for the three volumes. I embrace you, full of thanks! Enclosed two sheets of corrected proofs.

The Franc 15 received with best thanks.

Greeting my dear, beloved friend!

Your K Marx


Turen, 17 September 2024


(Editor: L. Nandini)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *