
Nama Rudolf yang tersemat di antara nama Wage dan Soepratman, menyisakan kisah pilu bagi Wage Rudolf Soepratman, atau yang lebih dikenal sebagai WR. Soepratman. Musisi penggubah lagu Indonesia Raya tersebut, harus mengalami penghinaan dan diskriminasi dimasa kolonial Belanda.
Baca juga: Kisah Sang Saka Merah Putih, dari Prasejarah, Majapahit hingga Jahitan Fatmawati
Pasangan Roekijem Soepratijah dan Sersan WM. van Eldik, sengaja menambahkan nama Rudolf, dan menjadikannya sebagai anak angkat, agar WR. Soepratman yang kala itu baru saja dibawa dari Pulau Jawa, ke Makassar, Sulawesi Selatan, bisa masuk sekolah untuk anak-anak keturunan Eropa dan bangsawan, Europese Lagere School (ELS).
Roekijem Soepratijah merupakan kakak pertama WR. Soepratman. Roekijem Soepratijah, dinikahi seorang tentara Belanda, Sersan WM. van Eldik. Siasat yang dilakukan pasangan suami istri tersebut, tidak dapat berlangsung lama karena akhirnya ketahuan WR Soepratman bukan anak keturunan Belanda, raja, maupun bangsawan.
Akibat terbongkarnya identitas WR. Soepratman tersebut, membuat WR. Soepratman dikeluarkan dari ELS. Tak sampai di situ saja, dia harus menerima penghinaan, dan perlakuan diskriminatif dari orang-orang Belanda.
Kisah pilu WR. Soepratman ini, terungkap dalam buku berjudul Wage Rudolf Soepratman: Meluruskan Sejarah dan Riwayat Hidup Pencipta Lagu Kebangsaan Republik Indonesia “Indonesia Raya” dan Pahlawan Nasional, karya Anthony C. Hutabarat.
Dalam buku tersebut, Anthony menjelaskan, WR. Soepratman merupakan anak ke tujuh dari pasangan Djoemeno Senen Sastrosoehardjo, dan Siti Senen. Djoemeno yang merupakan prajurit KNIL, menikahi Siti Senen pada 1980 di Purworedjo, Jawa Tengah.
Djoemeno sempat ditugaskan di Padang, Sumatera Barat. Pasangan ini dikaruniai anak pertama, pada tahun 1891 dan diberi nama Roekijem Soepratijah. Selang satu tahun kemudian, lahir anak kedua yang diberi nama Slamet. Sayangnya, Slamet meninggal dunia saat masih bayi.
Saat Djoemeno pindah tugas di Surabaya, pada tahun 1894 lahir anak ketiga, Roekinah Soepratirah. Selang satu tahun kemudian, lahir anak laki-laki mereka, dan diberi nama Rebo. Sama dengan Slamet, Rebo akhirnya meninggal dunia hanya beberapa bulan setelah dilahirkan.
Anak kelima pasangan Djoemeno, dan Siti Senen juga lahir di Surabaya, pada tahun 1898, dan diberi nama Ngadini Soepratini. Pasangan suami istri ini, akhirnya pindah dari Surabaya, ke Meester Cornelis, atau Jatinegara, pada tahun 1890.
Dua tahun tinggal di Jatinegara, anak keenam lahir dan diberi nama Sarah. Setahun kemudian, Wage Soepratman lahir ke dunia. Keluarga ini kembali berpindah ke Batavia, atau Jakarta, dan lahir anak ke delapan pada tahun 1909, yang diberi nama Gijem Soepratinah. Dua tahun kemudian, lahir anak ke sembilan di Cimahi, dan diberi nama Aminah.
Anthony menggambarkan, WR. Soepratman merupakan penganut agama Islam yang taat. Postur tubuhnya langsing dan tinggi, dengan kulit kuning langsat serta wajah yang tampan. Dia juga memiliki sifat ramah dan sopan, sehingga banyak disukai orang.
WR. Soepratman sangat disayang keluarganya, dan menjadi anak emas, karena dia merupakan satu-satunya anak laki-laki di keluarga tersebut, yang hidup hingga dewasa. Dia masuk sekolah Budi Utomo di Cimahi, saat usianya enam tahun. Sayangnya, belum sempat dia mampu menuntaskan pendidikan dasar, ibunya meninggal dunia.
Dia akhirnya dibawa kakak pertamanya ke Makassar, setelah bapaknya pensiun dari dinas KNIL. Saat berada di Makassar, WR. Soeprtaman sangat mengagumi Benteng Makassar, yang dibangun Sultan Hasanuddin pada abad XVII. WR. Soepratman mulai kehidupan baru dan bersekolah di Makassar pada 1914.
Meski menghadapi kenyataan pahit harus dikeluarkan dari ELS, dan mengalami diskriminasi serta penghinaan dari anak-anak keturunan Belanda, tidak membuat langkah WR. Soepratman surut. Dia tetap bertekad kuat, untuk menuntaskan pendidikannya.
Ke luar dari ELS, dia menuntaskan pendidikannya di sekolah Melayu, dan berhasil lulus dengan nilai sangat bagus. Selain cakap dalam bidang akademik, dia juga memiliki kemampuan di bidang seni musik.
Darah seni yang mengalir di tubuhnya, semakin terasah dengan bimbingan kakak iparnya, van Eldik. Setiap pulang sekolah, dia dibimbing akak iparnya untuk belajar gitar dan biola. Berkat bakatnya tersebut, dia mendapatkan hadiah biola dari kakaknya saat merayakan ulang tahun ke-17.
Dalam tulisannya, Anthony menyebutkan, WR. Soepratman sempat mengikuti kursus Bahasa Belanda, hingga berhasil lulus ujian Kleine Amtenaar Examen (KAE) pada tahun 1919. Selain itu, WR. Soepratman juga masuk Normaal School atau sekolah guru, dan setelah lulus sempat menjadi guru bantu di Makassar.
Karir sebagai guru akhirnya berhenti, setelah WR. Soepratman tidak mendapatkan izin untuk pindah ke wilayah Singkang. Dia sempat bekerja di kantor pengacara, sambil tetap bermain musik.
Baca juga: Lorong Mimpi
Selanjutnya, WR Soepratman memilih bekerja sebagai klerek pada Firma Nedem, dan pindah ke kantor pengacara milik Mr. Shulten yang merupakan simpatisan National Indische Partij (NIP).
Dari kantor pengacara inilah, WR. Soepratman bisa membaca banyak koran, seperti Koran Perniagaan terbutan Batavia, serta mingguan Het Indische Volk yang diterbitkan Sociaale Democratische Arbeid Partij (SDAP).
Sambil bekerja, dia tetap mengembangkan bakat bermusiknya. Sejak muda, dia telah mampu membawakan lagu-lagu klasik ciptaan Chopin dan Beethoven, dengan bermain biola secara solo.
Saat musik jazz berkembang di tahun 1920, WR Soepratman bersama kakak iparnya, van Eldik, mendirikan kelompok musik jazz yang diberi nama “Black and White Jazz Band”. nama itu melambangkan kerjasama antara kulit putih dan kulit sawo matang.
Band tersebut, sangat dikenal di Makassar. Sering kali saat tampil, para penonton selalu meminta mereka menambah jam pertunjukkan. Kehidupan bermusik di Kazerne yang penuh foya-foya, akhirnya membuat WR. Soeprtaman bosan, dan dia mulai memilih jalan politik yang saat itu sangat berbahaya.
Orang yang mempengaruhinya untuk berpolitik, dan memiliki kesadaran nasionalisme adalah HJFM. Sneevliet, yang merupakan tokoh sosialis pendiri Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV).
Anthony menyebut, perjumpaan WR. Soepratman dengan Sneevliet terjadi di Makassar, pada tahun 1924. Saat itu, Sneevliet melakukan lawatan ke sejumlah kota besar di luar Jawa, untuk melakukan ceramah menentang penjajahan.
Salah satu pernyataan Sneevliet yang sangat membekas di hati WR. Soepratman adalah: “Meskipun orang hidup senang, namun sebagai bangsa yang terjajah, mereka akan selalu hidup terbelenggu dan terhina,”.
Darah muda WR. Soepratman terus bergelora. Dia semakin aktif mengikuti kegiatan ceramah dan diskusi politik tersebut. Aktivitas politik yang dilakukan WR. Soepratman ini, terpantau oleh Politieke Inlichtingen Dienst (PID) atau intelijen polisi pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Berada di bawah bayang-bayang ancaman penguasa, tidak membuat WR. Soepratman surut langkah. Bahkan, aktivitas politiknya terus berkembang. Selama berada di kantor tempatnya bekerja, dia juga sering membaca majalah Hindia Putra, terbitan Indonesiche Vereeniging atau Perhimpunan Indonesia.
Anggota Perhimpunan Indonesia, merupakan para mahasiswa dari berbagai wilayah di Nusantara, yang tengah menempuh pendidikan di Belanda. Tulisan-tulisan di Hindia Putra tersebut, mebuat WR. Soepratman sangat terkesan.
Sejak 1922 para mahasiswa Indonesia, di Belanda, telah memiliki kesadaran politik dan rasa kebangsaan yang sangat tinggi. Hal itu termuat dalam tulisan yang sangat mempengaruhi Soepratman, yakni:
“Mengusahakan suatu Pemerintahan untuk Indonesia yang bertanggungjawab kepada rakyat Indonesia semata-mata; bahwa hal demikian itu hanya akan dapat dicapai oleh orang Indonesia sendiri, bulan dengan pertolongan siapapun juga; bahwa segala jenis perpecahan tenaga haruslah dihindarkan supaya tujuan itu lekas tercapai!”.
Semangat WR. Soepratman semakin membara, saat membaca perkembangan para mahasiswa di Belanda, melalui koran terbitan Batavia. Dalam berita itu disebutkan bahwa, Indonesiche Vereeniging, telah dengan berani berubah menjadi Perhimpunan Indonesia, dan majalah Hindia Putra, berubah menjadi Indonesia Merdeka. Perhimpunan Indonesia, juga dengan tegas menyatakan perubahan ini bertujuan sebagai bentuk perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia.
WR. Soepratman yang memiliki darah keturunan pengikut Pangeran Diponegoro tersebut, akhirnya memilih berangkat ke Jawa, demi mewujudkan Indonesia merdeka. Anthony menyebut, dari Makassar, WR. Soepratman berangkat ke Surabaya, dengan naik kapal laut pada 1924.
Pada Juli 1924, WR. Soepratman tiba di Surabaya. Bersamaan dengan itu, tokoh pergerakan nasional Dr. Soetomo telah mendirikan Indonesiche Studie Club. Organisasi ini sengaja didirikan untuk mencerdaskan warga pribumi, dan membangun kesadaran tentang politik, serta membangun semangat persatuan.
Selama berada di Surabaya, WR. Soepratman tinggal di rumah kakaknya, Roekinah Soepraptirah, yang telah dinikahi pengawai PKM di Surabaya, R. Koesnendar Kartodiredjo.
Pemerintah Hindia Belanda, tidak tinggal diam dengan semakin meluasnya aktivitas politik pergerakan nasional. Mereka melakukan upaya pemberangusan dan membuat kondisi Surabaya, semakin tidak aman bagi para aktivis politik. Kondisi Surabaya, yang semakin tidak aman membuat WR Soepratman harus pindah ke Cimahi, Bandung. Di Cimahi, WR. Soepratman tinggal di rumah ayahnya.
Saat situasi tidak menentu, dan kehidupan ekonominya terseok-seok, WR. Soepratman memilih untuk menjadi wartawan dan diterima di Surat Kabar Kaum Muda. Profesi jurnalis itu, tak lama dijalaninya dan dia kembali menjadi pemain musik di Kamar Bola Societeit Bandung, namun ini juga tidak lama dijalaninya.
Baca juga: Senyum Bidadari untuk Tenaga Sapi
Sempat mendirikan kantor berita Alpena di Batavia, bersama Harun Harahap, dan Parada Harahap, WR. Soepratman akhirnya memilih menjadi wartawan di surat kabar Sin Po, pada 1926.
WR. Soepratman menjalani profesi sebagai jurnalis dengan sangat militan, demi terwujudnya Indonesia merdeka. Dia juga selalu hadir dalam rapat-rapat organisasi pemuda, dan partai politik di Gang Kenari, Batavia.
Kegigihannya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, terlihat dari karya-karya jurnalistiknya yang berisi kritik tajam terhadap kebobrokan di tengah masyarakat, akibat politik pemerintah Hindia Belanda.
Selama di Batavia, kehidupan WR. Soepratman serba kekurangan. Dia hanya mengandalkan bayaran dari berita yang terbit, serta jualan buku bekas. Hal ini tidak membuat langkahnya surut, dia terus berjuang lewat karya jurnalistinya demi terwujudnya kemerdekaan Indonesia.
Ide Menulis Lagu Kebangsaan
Aktivitas politik, dan dunia jurnalistik yang digelutinya, membuat jiwa WR. Soepratman semakin mengkristal demi mewujudkan Indonesia merdeka. Sebagai musisi, jiwanya juga tergerak untuk mewujudkan lagu kebangsaan Indonesia.
Baca juga: Amsal Burung Biru Laut Ekor Hitam
Dalam bukunya, Anthony menyebut, WR. Soepratman pernah membahas ide menulis lagu kebangsaan Indonesia bersama Oerip Kasansengari, sekitar tahun 1926. Oerip merupakan kakak dari BM. Santoso Kasansengari, yang merupakan suami dari adik WR Soepratman, Gijem Soepratinah.
Dalam diskusi tersebut, WR Soepratman yang menyapa Oerip dengan kata Mas, mengungkapkan:
“Begini Mas, saya pernah membaca di majalah Timbul yang terbit di Solo, Jawa Tengah, yang isinya antara lain menanyakan kapan ada komponis kita yang dapat menciptakan lagu kebangsaan Indonesia, yang dapat menggelorakan semangat rakyat,” kata WR Soepratman, sambil menunjukkan majalah tersebut kepada Oerip.
“Pertanyaan dalam majalah Timbul itu, sungguh menarik perhatian saya. Kalau bangsa Belanda punya lagu kebangsaan Wilhelmus, mengapa Indonesia belum punya, Sebab itu sekarang saya sedang mulai mengarang lagu dan saya beritahukan juga kepada bapak dan saudara-saudaraku untuk mendapatkan restunya,”.
“Dik Soepratman, menggubah lagu itu adalah ilham dari Tuhan Yang Mahakuasa kepada sampeyan, tetaplah pada pendirian dan keyakinanmu, sampai ketemu lagi di lain waktu,” ujar Oerip, sebelum pamit pulang kembali ke Surabaya.
Dalam kondisi serba kekurangan, dan di tengah kepadatan aktivitasnya sebagai jurnalis, serta kegiatan politik. WR, Soepratman akhirnya mampu melahirkan lagu perjuangan untuk pertama kalinya. Lagu tersebut, diberi judul Dari Barat Sampai ke Timur.
Dari barat sampai ke timur
Berjajar pulau-pulau
Sambung menyambung menjadi satu
Itulah Indonesia
Indonesia tanah airku
Aku berjanji padamu
Menjunjung tanah airku
Tanah airku Indonesia
Tidak berhenti di situ saja, semangatnya untuk menggubah lagu kebangsaan Indonesia, semakin berkobar saat mendengar pernyataan Bung Karno. Saat itu, Bung Karno menjadi pemimpin Indonesiche Club, dan menyatakan tentang pentingnya lagu nasional. “Airnya kamu minum, nasinya kamu makan, karena itu kita semua harus mengabdi padanya, pada Ibu Pertiwi Indonesia,”
Saat itu, WR. Soepratman juga berani membuat lagu tandingan milik Belanda. Dia menggubah lagu berjudul Bendera Kita Merah Putih, untuk melawan lagu milik Belanda, Bendera Kita Merah Putih Biru.
Setelah melalui permenungan panjang, dan proses yang luar biasa, akhirnya WR. Soepratman mampu menggubah lagu kebangsaan Indonesia, berjudul Indonesia Raya. Lagu ini pertama kali diperdengarkan dalam Kongres Pemuda Indonesia II, pada 28 Oktober 1928.
Lagu tersebut memiliki syair:
Stanza I
Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.
Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg’riku,
Bangsaku, rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.
Stanza II
Indonesia, tanah yang mulia,
Tanah kita yang kaya,
Di sanalah aku berdiri,
Untuk s’lama-lamanya.
Indonesia, tanah pusaka,
P’saka kita semuanya, Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia.
Suburlah tanahnya,
Suburlah jiwanya,
Bangsanya, rakyatnya, semuanya,
Sadarlah hatinya,
Sadarlah budinya,
Untuk Indonesia Raya.
Stanza III
Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
N’jaga ibu sejati.
Indonesia, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
Indonesia abadi.
S’lamatlah rakyatnya,
S’lamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah neg’rinya,
Majulah pandunya, Untuk Indonesia Raya.
Refrain
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg’riku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.
Dikutib dari laman kemdikbud.go.id, lagu kebangsaan Indonesia Raya ini, pertama kali diperdengarkan melalui gesekan biola WR. Soepratman. Sejak diperdengarkan pertama kali di tahun 1928, lagu Indonesia Raya dilarang dinyanyikan. Lagu tersebut, baru bisa dinyanyikan lagi setelah mendapatkan izin dari tentara Jepang, pada 1944.
Baca juga: Lolongan di Bulan Agustus
Usai Kongres Pemuda II tahun 1928, hidup WR. Soepratman terus berpindah-pindah. Tahun 1937, WR. Soepratman mulai sakit-sakitan, dan dibawa pulang oleh keluarganya ke Surabaya.
Meski sakit-sakitan, WR. Soepratman tetap kukuh dalam perjuangannya untuk kemerdekaan Indonesia. Dia sempat ditangkap oleh pemerintah Hindia Belanda, pada 7 Agustus 1938, dan dijebloskan ke Penjara Kalisosok. Hal ini terjadi, karena WR. Soepratman memimpin pandu-pandu KBI menyiarkan lagu Matahari Terbit di Radio NIROM Jalan Embong Malang, Surabaya.
Belum sempat menikmati kemerdekaan Indonesia, WR. Soepratman meninggal dunia diusia yang sangat muda. Dia meninggal pada Rabu Wage, 17 Agustus 1938. Sebelum meninggal dunia, dia sempat menyampaikan pesan terakhir yang berbunyi:
“Nasibkoe soedah begini inilah jang disoekai oleh pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saja meninggal saja ikhlas. Saja toch soedah beramal, berdjoeang dengan carakoe, dengan biolakoe, saja jakin Indonesia pasti Merdeka”.
Selain lagu kebangsaan Indonesia Raya, sepanjang hidupnya, WR. Soepratman telah menciptakan sejumlah lagu perjuangan, yakni Indonesia Iboekoe (1928); Bendera Kita Merah Poetih (1928); Bangunlah Hai Kawan (1929); Raden Adjeng Kartini (1929); Mars KBI (Kepandoean Indonesia) (1930); Di Timur Matahari (1931); Mars PARINDRA (1937); Mars Surya Wirawan (1937); Matahari Terbit Agustus (1938); dan Selamat Tinggal, pada tahun 1938, namun belum sempat selesai.
Selain itu, dia juga melahirkan sejumlah buku sastra untuk membakar semangat perjuangan, di antaranya yang berjudul Perawan Desa (1929); Dara Moeda, Kaoem Panatik (1930); serta Buku Perawan Desa yang akhirnya disita oleh Polisi Hindia Belanda dan dilarang beredar.
