Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang

Judul             : Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang
Penulis         : Luis Sepulveda
Penerjemah : Ronny Agustinus
Penerbit       : Marjin Kiri
Tahun           : 2020
Genre           : Fiksi
Tebal            : vi+90 halaman

Buku “Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang” karya Luis Sepulveda, adalah salah satu kisah sederhana namun sarat nilai dan makna kehidupan.

Baca juga: Bang

Meski menggunakan simbolisasi hewan seperti kucing, camar, dan simpanse, namun Luis seolah ingin menyampaikan bahwa manusia pun seharusnya berbuat hal sama jika kejadian itu hadir di depan mata.

Tampak luar, ini adalah sebuah buku yang mampu menarik minat pembaca, meski hanya melihat judulnya. Buku asli terbit pertama kali berbahasa Sapnyol, dengan judul Historia de una gaviota y del gato que le enseno a volar. Sampul buku terbitan kedua (Januari 2023) karya Viona Daisy tentang suasana kawasan tepi pelabuhan, juga cukup menarik dan klasik. Pas dengan tema cerita.

Beranjak pada isi cerita, semula orang mungkin akan mengira bahwa buku ini adalah bacaan untuk anak-anak. Namun sebenarnya, nilai-nilai diajarkan dalam buku karya penulis yang juga mantan jurnalis asal Chile itu cocok untuk semua umur.

Judul buku cukup menggugah tanya, dan mengajak orang berimajinasi lalu tertarik untuk menengok isi buku. Bagaimana seekor burung camar (yang lahir dengan kepiawaian terbang), harus belajar terbang dari kucing yang takdirnya tidak bisa terbang. Memunculkan tanya yang hanya bisa ditemui jawabnya saat membaca buku tersebut.

Cerita bermula saat Zorbas, kucing bulu hitam di pelabuhan secara tak sengaja bertemu dengan induk camar yang saat itu terjatuh di balkon tempat si kucing tengah berjemur. Camar dengan tubuh diselimuti minyak hitam tebal itu pada akhirnya mati, setelah bertelur. Sebelum mati, ia sempat menitipkan telur (dan anaknya nanti) pada kucing Zorbas dan meminta kucing itu mengajarinya terbang.

Baca juga: Mengantarkan Mereka Pulang

Kisah menjadi pelik usai Zorbas mengucap janji. Sebagai kucing pelabuhan, janji adalah harus dijaga dan diwujudkan.

Dengan berbagai cara, mulai dari meminta bantuan kucing lain, sang profesor, hingga penyair, Zorbas dan teman-temannya berusaha agar si anak camar, Fortuna, bisa terbang. Meskipun, risikonya adalah Zorbas harus kehilangan ‘anak’ yang sudah terlanjur dicintai.

Hingga pada waktunya tiba, Zorbas memenuhi janjinya. Ia melihat Fortuna terbang di langit malam Hamburg, bersama gerimis di mata Zorbas. Entah gerimis hujan atau tetes air mata.

Dalam kisah Zorbas ‘menyelamatkan’ anak burung camar ini, ciri khas Luis sebagai jurnalis cukup kentara. Gaya bahasanya lugas dan tidak bertele-tele, sehingga pembaca dengan mudah bisa memahami cerita.

Tak kalah penting, karya sederhana ini tetap mewakilkan semangat kritis Luis atas pencemaran laut atau perusakan lingkungan yang mulai banyak dilakukan manusia. Latar belakang sebagai jurnalis dan aktivis lingkungan hidup tergambar tipis namun manis dalam buku ini.

Pesan penting menjaga linkungan, kerjasama, persahabatan, serta nilai-nilai moral dan budi baik, ditampilkan melalui sosok Zorbas, kucing gendut bermata kuning dan berbulu hitam, serta sosok teman-teman baiknya. Nilai-nilai kebaikan mengalir dalam sebuah cerita indah, tanpa ada kesan menggurui. Dengan bahasa dan kisah sarat makna tersebut, maka cerita ini memang cocok untuk dibaca semua kalangan.

Luis Sepulveda sendiri adalah penulis Chile ternama di mana karya-karyanya telah disadur ke puluhan bahasa. Pria kelahiran 1949 tersebut dikenal anti rezim Pinochet, dan pernah dipenjara karenanya. Selain kritis terhadap pemerintah, Luis juga dikenal sebagai aktivis lingkungan dan pernah menjadi bagian dari Greenpeace. Luis meninggal karena Covid-19 pada 16 April 2020.

Baca juga: Rumah Tua

Jika ingin menyegarkan pikiran dan perasaan di tengah penatnya hidup yang serba cepat, maka membaca cerita ringan ini akan sangat menyegarkan dan mencerahkan.

(L.Nandini, anggota Kobis Merajut Sastra)

(Editor: A. Elwiq Pr.)

0 komentar untuk “Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *