Mengantarkan Mereka Pulang

Kaki Gunung Semeru pada sisi Selatan, ada satu desa bernama Desa Pronojiwo (nama ini sekaligus menjadi nama Kecamatan). Desa di tepi hutan yang sedang tumbuh dan berkembang dengan budaya campuran Jawa-Madura yang khas. Di desa ini tentang kepulangan itu akan dikisahkan.

Baca juga: Menjaga Sumber Kehidupan

Konon, ada seorang sesepuh (kiai) berkelana dari Solo, ke Blambangan, bernama Eyang Prono Legian. Sepulang dari Blambangan, Eyang Prono singgah di tempat ini karena sakit. Untuk mengobatinya, pengikut Eyang Prono mencari obat-obatan di hutan dan mendapat buah dari salah satu tumbuhan hutan. Buah itu dimakan oleh Eyang Prono sehingga sembuh dari sakitnya. Kemudian tumbuhan perdu itu dinamakan Pronojiwo (Euchresta horsfieldii, Lour.). Berasal dari nama tumbuhan perdu tersebut desa ini diberi nama.

Eyang Prono tinggal di dalam hutan bersama dua orang pengikutnya, tidak tinggal di lingkungan desa. Setiap hari Jumat turun ke desa untuk shalat Jumat dan berdakwah hingga menjelang Maghrib, kemudian pulang ke pondoknya di hutan. Hingga beliau wafat dan dimakamkan di hutan oleh pengikutnya.

Makam Eyang Prono Legian yang diyakini sebagian masyarakat sebagai orang yang “babat alas” Desa Pronojiwo, baru saja diketemukan pada akhir 2023 melalui sebuah petunjuk dari orang pintar. Menurutnya, Eyang Prono tidak berkenan jika makamnya dipugar atau dihias, biarkan apa adanya tetap menyatu dengan Gunung Semeru.

Kisah lain, diriwayatkan oleh Comber (1990) dalam bukunya yang berjudul “The Orchids of Java”, bahwa dari pantai selatan hingga ke lereng Gunung Semeru ditumbuhi ragam jenis anggrek; penghias lantai, tebing, dan kanopi hutan. Beraneka warna, bentuk, ukuran, dan aroma. Mereka menempati hampir semua ruangan di hutan, bahkan di ujung-ujung ranting pepohonan yang tinggi menjulang, gagah perkasa.

Sesepuh-sesepuh desa dan para “pemburu anggrek” juga mengisahkan, bahwa hampir setiap jengkal di hutan ada tumbuh anggrek. Sekali mendongak ke atas, terlihat anggrek-anggrek yang menempel dan atau menirai. Diselingi paku-pakuan dan liana-liana berbunga elok. Kicau burung-burung dan warga hutan lainnya menjadikan hutan ini ramai dan dinamis. Sungguh suatu gambaran hutan yang bahagia dan sejahtera.

Namun, menjadi sangat berkurang ragam dan populasinya akibat “perburuan” anggrek yang masif terjadi pada delapan puluhan. Mereka dicerabut dari rumahnya untuk dijadikan hiasan di istana tuan-tuan dan nyonya-nyonya, dijadikan bahan baku industri obat-obatan herbal dan kosmetik. Kenapa beliau-beliau (para pemburu anggrek) ini tahu? Karena ada yang meminta dan memberitahu bahwa anggrek-anggrek itu laku dijual. Kenapa beliau-beliau ini mau? Karena membutuhkan uang untuk melanjutkan kehidupannya, meningkatkan kesejahteraannya. Bisnis yang mudah dan murah ongkosnya.

Para pemburu yang tinggal di sekitar hutan terhubung dengan para pengepul lokalan, juga dengan pedagang-pedagang di kota-kota. Dari pedagang-pedagang inilah anggrek-anggrek itu tersebar bahkan hingga negara lain yang berujung pada penggemar dan kolektor-kolektor fanatik. Sebuah jaringan pengganggu kesejahteraan hutan yang kompak. Siapa yang paling diuntungkan? Tentu pedagang. Pemburu-pemburu itu hanya menikmati sesaat. Ketika beras habis, mereka memburu lagi, lagi, dan lagi, hingga habis buruannya. Sampai mereka menanggung predikat “pengganggu kesejahteraan hutan”.

Para pemburu anggrek adalah masyarakat petani kebun di sekitar kawasan. Pada jaman itu sangat menggantungkan hidupnya dari hutan; mulai dari air dan makanan untuk menambah kebutuhan hidup sehari-hari, madu, kayu bakar, dan hijauan pakan ternak. Sama halnya dengan pengikut Eyang Prono Legian, mencari obat di hutan hingga beliau sembuh dari sakitnya. Tetapi mereka lupa dengan contoh para leluhur yang hidup selaras berdampingan dengan alam. Memungut hasil hutan secukupnya, tidak kemaruk.

Kemudian, penderitaan hutan makin lengkap. Pohon-pohon kehidupan beserta isinya ditumbangkan satu demi satu, tetumbuhan ornamental termasuk anggrek dicerabut rumpun demi rumpun, burung-burung dan satwa liar ditangkap ekor demi ekor.

Hingga tahun 1982 Pemerintah Republik Indonesia menunjuk kawasan hutan ini menjadi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Babak baru pengelolaan kawasan pelestarian alam yang berbasis perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan plasma nuftah untuk menjamin dinamika ragam hayati dan pemanfaatan yang menjamin keberlanjutan fungsi.

Sebuah babak dengan proses yang tidak mudah. Tahun demi tahun proses itu semakin membaik, hutan pun kembali pulih. Bagaimanapun menjaga, merawat dan memulihkan tidak lebih ringan daripada membangun. Tabik kepada para pengabdi, jasamu dirasakan hingga detik ini.

Baca juga: Rumah Tua

Hutan ini termasuk dalam kategori hutan yang mulai sembuh, akibat aktifitas vulkanik dan maraknya pembalakan kayu pada era delapan puluhan hingga masa reformasi 98. Kubangan-kubangan bekas penggergajian kayu, menjadi saksi bisu keganasan tangan-tangan yang menggunakan gergaji selendang pada masa itu.

Sekarang aroma seresah, tetumbuhan, jamur dan pepohonan mulai tercium. Bisikan dedaunan, derit rerumpun bambu, dan percakapan antar tajuk mulai terdengar. Kadangkala diselingi gelegar Gunung Semeru yang menunjukkan eksistensinya agar kita selalu waspada.

Kala sore hari, kabut sudah mulai betah berlama-lama di tajuk pepohonan, membasahi setiap helai dedaunan dan lipatan-lipatan kulit pohon, serta memberi minum lumut dan jamur. Serangga juga mulai beragam; dari rayap yang mencerna tetumbuhan lapuk hingga kupu-kupu sang penyerbuk bunga. Hutan ini kini sudah mulai membaik, namun masih banyak “anggota masyarakatnya yang belum pulang”. Hijau, lebat tapi hatinya masih merana.

Irama dan perhiasannya masih belum lengkap. Nyayian burung-burung, teriakan monyet dan lutung, nyalak muntjak dan raungan raja hutan belum benar-benar utuh. Aksesoris di lantai, tebing, dan tajuk pepohonan masih belum berwarna-warni.

Tetumbuhan ornamental dan berbunga masih sangat kurang, belum seimbang dengan kondisi hutan. Ke mana perginya mereka? Ya, mereka telah berpindah ke istana tuan-tuan dan nyonya-nyonya menjadi penghias taman, sangkar, dan pajangan di ruang tamu. Mereka direnggut paksa dari rumahnya dan tidak sedikit dari mereka yang sudah mati, tanpa jejak.

Pemulihan hutan perlu gambaran masa-masa sebelumnya. Gambaran-gambaran itu sudah terkumpul, jejak-jejaknya di lapangan masih jelas terbaca. Siapa saja “penghuninya” pelan-pelan terdata; manusia, hewan, tumbuhan, dan sumber daya lainnya. Termasuk makhluk yang berjuluk anggrek. Selain data-data ilmiah hasil eksplorasi jaman dulu maupun cerita-cerita yang terkumpul dari para “mantan pemburu”. Data ini menjadi bagian yang menarik dalam proses panjang pemulihan hutan.

Para “mantan pemburu” bercerita tentang kondisi hutan yang sebenar-benarnya hutan dengan mata berkaca-kaca. Bukan hanya sekumpulan pepohonan, tapi lengkap dengan penghuni dan aksesorisnya. Perbandingan yang jauh berbeda kondisi saat ini. Tentu saja beliau-beliau ini menyesal karena telah mengambil bagian-bagian dari hutan secara sembarangan dan tak terkendali. Tidak terpikirkan oleh mereka bahwa yang mereka ambil bisa jadi punah secara lokal. Tidak terbayangkan oleh mereka bahwa hutan menjadi sedih, perhiasannya telah dipreteli dengan paksa tanpa bisa berbuat apa-apa, hanya bisa merasa.

Kita harus memulihkannya, tanpa menghakimi satu sama lain. Kalimat itu yang membuat mata para “mantan pemburu” itu berbinar-binar. Dengan kerelaan dan riang gembira mereka bersedia bersama-sama berusaha memulihkan hutan, menjadikan hutan yang sebenar-benarnya hutan. Sebuah kesempatan yang bagus untuk menebus kesalahan, membayar hutang kepada hutan.

Dimulailah dengan membuat taman pada tahun 2018 secara alami. Tempat koleksi jenis-jenis anggrek asli lereng selatan Semeru. Hanya cukup dipagar sekedar menunjukkan bahwa areal 2.800 meter persegi itu adalah tempat khusus. Hingga bulan Juli 2024 sudah terkoleksi 248 jenis anggrek asli lereng selatan Semeru, pada elevasi 700 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Tujuannya adalah, untuk wisata alam minat khusus, edukasi, tabungan plasma nutfah, dan penunjang budidaya yang menyediakan indukan-indukan galur murni, baik untuk kebutuhan pemulihan perhiasan hutan maupun untuk tujuan pemuliaan bagi para pembudidaya (breeder) anggrek.

Baca juga: Kisah Pasukan Estri Mangkunegaran, Prajurit Wanita Penebar Maut yang Bikin Belanda Kalang Kabut

Ada tiga orang “mantan pemburu” yang telah insaf, bekerja dengan sepenuh hati merawat taman anggrek. Mereka juga menjadi pemrakarsa pemulihan hutan. Langkahnya sederhana, menanam dan merawat pohon asli kawasan setahun sekali (meski ada yang secara diam-diam menanam berkali-kali).

Mereka mengajak kerelaan warga lima dusun dari dua desa yang berbatasan langsung dengan kawasan ini. Ketiganya telah menjadi kader konservasi yang aktif, baik bertindak langsung maupun menyebarluaskan sadar konservasi kepada keluarga, teman dan tetangga-tetangganya.

Bagaimana dengan “mantan pemburu” yang lainnya? Ada yang insaf dan menjadi breeder anggrek, ada yang usaha pembesaran anggrek-anggrek hybrid, ada yang usaha atau bekerja di bidang lainnya, dan masih ada pula yang setengah insaf, berburu di tempat lain. Sebuah proses yang memang harus demikian jalannya. Mereka benar-benar tahu caranya menyembunyikan kebaikan. Kebaikan yang telah mereka lakukan diamini oleh malaikat penjaga bumi dan diridhoi Tuhan Yang Maha Esa.

Di antara ratusan jenis, ada satu jenis anggrek epifit yang menjadi maskot lereng selatan Semeru. Anggrek jamrud (Dendrobium macrophyllum Lour.). Dulu banyak sekali ditemukan di dalam kawasan hutan ini, rumpun-rumpun yang gagah di sepertiga ujung pepohonan. Sekarang sangat sulit ditemukan, anggrek jamrud (Dendrobium macrophyllum).

Sebelum tahun 2018, jenis ini berstatus dilindungi undang-undang dan sekarang tidak lagi. Padahal populasi di alam sangatlah sedikit, akibat perburuan tak terkendali. Jangankan yang tumbuh liar di luar kawasan pelestarian alam, yang di dalam pun sudah hampir tak ada.

Dukungan teman-teman secara alamiah tak terbendung membawa ilmu dan wawasan baru menjadikan taman ini semakin tumbuh. Siapa pula yang sanggup membendung kehendak Nya?

Upaya memperbanyak anggrek dengan cara vegetatif sekaligus merilisnya ke dalam hutan sudah dilakukan. Upaya lain yang sedang berjalan, memperbanyak dengan cara generatif, dari biji-bijinya untuk kemudian dirilis. Cara ini selain didapat jumlah bibit yang banyak, juga memberi ragam genetik yang banyak pula.

Mengurangi resiko kepunahan jenis. Tahun 2020 adalah tahun yang penting bagi taman ini, dengan bantuan breeder anggrek lokal akhirnya berhasil mengecambahkan biji-biji anggrek jamrud. Dilakukan oleh Mas Sutris (warga Desa Sidomulyo, tetangga Desa Pronojiwo) secara kultur jaringan (invitro) di dalam laboratorium sederhana miliknya.

Pemuda tekun itu merawat kecambah di dalam botol-botol tertutup selama sembilan bulan. Sebanyak dua ribuan bibit (seedling) dihasilkan dan telah disapih dalam pot-pot kecil. Langkah berikutnya, tugas Pak Sami’an, Pak Ismail, Mas Ismy, Mas Doni dan Mas Faris merawat anggrek-anggrek tersebut dengan kesabaran dan ketlatenan. Sebuah proses belajar yang panjang merawat bayi-bayi anggrek yang tidak umum.

Setidaknya butuh waktu dua tahun agar berukuran 15 cm, ukuran dan umur yang cukup untuk hidup mandiri tanpa perawatan. Pada November 2023 bibit diseleksi, ada sekitar delapan ratus rumpun yang siap untuk diantarkan pulang ke rumah leluhurnya, meliar di rumah leluhurnya, hutan rimba belantara.

Sungguh, suatu kehormatan bagi kami berkesempatan mengantarkan mereka pulang. Hutan pun mulai gembira, satu persatu perhiasannya telah kembali menempel pada batang dan ranting pepohonan.

Cukup? Belum! Masih ada dua jenis yang saat ini masih dalam tahap penyapihan. Semoga mereka segera siap untuk pulang.

Wahai para pengabdi, apapun profesimu tetaplah konsisten berpegang pada tiga pilar konservasi. Perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan secara lestari. Tiga hal itu adalah ruh yang menjaga keberlanjutan manfaat bumi bagi kehidupan semua makhluk. Tetaplah bergembira karena Tuhan bersama orang-orang yang selalu gembira dalam keadaan apapun. Tetaplah bersembunyi dalam kebaikanmu.

Wong Tje-a adalah seorang konservator-restorer

(Editor: Iman Suwongso)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *