Literasi di Taman Anggrek

Buku Orchids of Java karya J.B. Comber yang diterbitan Royal Botanic Gardes Kew. Foto/Kobis/Iman Suwongso

Literasi tidak melulu tentang baca-tulis buku. Membaca alam beserta keindahan di dalamnya, itu juga adalah literasi. Dari orang-orang ini, kita belajar literasi melalui setangkai anggrek hutan.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Bidang Wilayah II membentang dari Kecamatan Pronojiwo (Ranu Darungan), Candipuro, Pasrujambe, sampai Senduro. Seluruhnya berada di Kabupaten Lumajang. Jawa Timur. Semua wilayah TNBTS merupakan kawasan konservasi. Di dalamnya hidup tumbuhan dan hewan endemik (khas) Gunung Semeru. Sebagian di antaranya dinyatakan punah dan dilindungi. Anggrek merupakan salah satu di antara diversitas yang tumbuh dalam kawasan.

Baca juga: Pagi

Anggrek Semeru disinyalir terdapat ratusan spesies atau rumpun. Laman Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) merilis 132 jenis anggrek. Jenis Dendrobium sebanyak 164 rumpun, Liparis 22 rumpun, Bulbophyllum 14 rumpun, Cymbidiun 50 rumpun, Papiopedillum 5 rumpun, dan Rhomboda 5 buah. Jenis-jenis anggrek itu telah diberi label.

Ada cerita menarik dari proses pelabelan itu. Di mana anggrek-anggrek itu? Siapa yang melakukan pelabelan? Bagaimana melakukan pelabelan?

Kawasan TNBTS berbatasan langsung dengan hutan lindung dan hutan produktif yang dikelola Perhutani. Sebagian berbatasan dengan desa penyangga. Dua status hutan tersebut memiliki fungsi dan perlakukan berbeda. Hutan konservasi harus dilindungi, dilestarikan (diawetkan), bahkan diperbanyak tumbuhan atau hewan endemiknya. Sementara hutan produksi pada saatnya dilakukan pemanenan. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan spesies tanaman endemik hutan konservasi tumbuh di hutan produksi yang dikelola Perhutani.

Ada juga keadaan lain dihadapi hutan konservasi, yakni aktivitas masyarakat sekitar hutan. Mereka menggantungkan sebagian hidupnya di hutan. Saat booming perdagangan anggrek, ramai-ramai masyarakat berburu anggrek di hutan. Bagi konservasi hutan, keadaan itu menjadi masalah besar!

Baca juga: Warti Sang Wartawan

Pada tahun 2016, Toni Artaka (fungsional Pengendali Ekosistim Hutan sekaligus Kepala Resort Ranu Darungan, TNBTS) membaca potensi dan masalah besar itu. Ia melakukan pendekatan kepada para pemburu anggrek. Bertemulah dengan Andy Samian dan Mail (belakangan turut serta Ismi, anak Cak Mail). Mereka dididik tentang konservasi hutan, fungsi sosial dan manfaat ekonominya, serta diajak berpikir tentang nasib anggrek Semeru.

Terajutlah gagasan (kemudian direalisasikan tahun 2017) untuk membangun Taman Anggrek Ranu Darungan. Taman anggrek (orchidarium) dibangun di kawasan TNBTS bersebelahan dengan danau Ranu Darungan. Luasnya mencapai 2.000 meter persegi, dipagar kawat sekelilingnya, dan dilengkapi rumah pembibitan (greenhouse). Tantangan berikutnya, bagaimana mengisi taman dengan spesies anggrek Semeru? Dengan semboyan, selain anggrek Semeru dilarang masuk!

Literasi

Cak Mian dan Cak Mail adalah pemburu anggrek nan handal. Mereka tahu persis anggrek-anggrek di kawasan konservasi, anggrek yang dilindungi. Anggrek-anggrek itu juga tumbuh di kawasan Perhutani. Maka, mereka berburu anggrek-anggrek tersebut mulai dari yang berukuran 5 centimeter sampai anggrek dengan panjang satu lengan. Berbagai jenis anggrek, dari anggrek tanah sampai anggrek pohon.

Mereka juga berpengalaman memindah anggrek. Anggrek diambil dari habitatnya, dijamin akan tetap hidup ketika ditanam di Taman Anggrek.

Baca juga: Kebijaksanaan Seorang Maestro

Untuk memastikan anggrek yang akan dipindah ke Taman Anggrek adalah anggrek Semeru, mereka membutuhkan referensi. Toni Artaka tidak menganjurkan menggunakan mesin pelacak google untuk mencari referensi. Maka, ia menyediakan buku karya J.B. Comber Orchids of Java terbitan Royal Botanic Gardes Kew.

Cak Mian, Cak Mail, dan Ismi melakukan pemotretan anggrek yang sudah dikarantina. Setiap foto spesies anggrek disandingkan dengan foto anggrek dalam buku Orchids of Java. Ketika ditemukan kemiripan, maka pencarian data anggrek diperdalam dengan penjelasan ciri-ciri. Dan ketika sudah diyakini anggrek dimaksud sesuai dengan penjelasan buku Comber, anggrek lalu diberi label sesuai jenis dan spesiesnya.

Mereka secara alamiah menerapkan paradigma baru berliterasi. Proses literasi dijalankan: keterlibatan, pemahaman, analisis, penggunaan, dan transformasi teks. Sejalan dengan yang direkomendasikan Education Development Center (EDC) bahwa, literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya, mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia.

Baca juga: Kisah Raden Saleh, Pelukis Antikolonialisme yang Namanya Diabadikan di Planet Merkurius

Literasi di taman anggrek itu dilakukan terus menerus. Sampai tertanam kurang lebih 260 spesies anggrek endemik Semeru. Wahana ini juga bermanfaat untuk penelitian dan pendidikan (arboretum). Berbagai perguruan tinggi telah melakukan penelitian dan menghasilkan karya tulis. Di antaranya mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya meneliti tentang anggrek epifit dan pohon inangnya (Journal of Agricultural Science, Vol 3, No 2 (2018)).

Suatu usaha bahwa literasi dikembangkan di taman anggrek, Taman Anggrek Ranu Darungan ini telah melahirkan buku yang ditulis pada tahun 2023 oleh Titik Katitiani dan kawan-kawan berjudul Suaka Puspa di Tanah Para Dewa. Buku tersebut memaparkan tentang Taman Anggrek Ranu Darungan dan keterlibatan masyarakat dalam konservasi anggrek Semeru.

Sesederhana apapun tingkat literasi yang digeluti, mereka telah berhasil membangun taman anggrek–yang diseleksi dengan referensi buku yang handal. Dan menghasilkan karya tulis bermanfaat bagi peminat anggrek dan masa depann dunia kehutanan. Mereka sudah menjalankan gagasan pentingnya: yang bukan endemik dilarang masuk!

 

(Editor: L. Nandini)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *