Senyum Rakyat Jelata

Senyum Rakyat Jelata. Foto/Ilustrasi/canva.com

Pernah membaca cerita pendek berjudul Senyum Karyamin? Ya. Cerita karangan Ahmad Tohari, si penulis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Ditulis tahun 1980-an, terbit di koran tahun 1987, kemudian diterbitkan sebagai kumpulan cerita pendek tahun 1989.

Baca juga: Admiral Patterson dan Dichtung

Karyamin punya pekerjaan utama sebagai kuli pengangkut batu. Karena menjadi pekerjaan utama, setiap hari ia memindahkan batu-batu dari dasar sungai ke atas sungai. Setelah menumpuk akan dibeli oleh tengkulak. Hasilnya kecil, dan tak jarang dikemplang, tak terbayar meskipun batu-batunya sudah diangkut.

Karena penghasilannya kecil, hidupnya miskin. Sehari-hari tidak luput dari hutang terutama untuk makan. Meskipun setiap hari tidak pasti makan dua kali.

Seperti pagi itu, perutnya kosong, dan ia tidak dapat meninggalkan pekerjaannya memanggul batu-batu dalam keranjang. Ia menapaki jalan menanjak licin di bibir sungai. Karena lapar ia tak punya tenaga yang kuat dan matanya mudah berkunang-kunang. Karena tak punya tenaga kuat, pijakan kakinya ke tanah tidak kuat pula. Karena dalam berjalan kakinya seperti melayang, ia mudah tergelincir. Ia jatuh merosot ke bawah berkejaran dengan batu-batu yang diangkutnya.

Kejatuhannya menjadi adegan yang membuat kawan-kawanya sesama pengangkut batu tertawa. Mereka merasa terhibur jika ada kawannya jatuh. Itulah hiburan mereka satu-satunya; menertawakan diri sendiri. Karyamin hanya bisa tersenyum.

Karyamin juga tersenyum ketika bertemu Pamong (Perangkat Desa). Ia ditagih, satu-satunya warga yang belum membayar sumbangan untuk bantuan kelaparan di Afrika. Senyum Karyamin meledak. Berubah menjadi bahak yang menyebabkan kepalanya mengiang, dan tubuhnya jatuh menggelinding ke jurang.

Baca juga: Bendera One Piece dan Merdeka di Era Post Truth

Siapa Karyamin? Karyamin adalah rakyat jelata. Orang miskin. Orang yang makannya belum tentu sehari sekali. Orang yang terjebak rentenir. Orang yang bermimpi mengeruk kekayaan dari judi, dan mimpi itu semakin memperdalam kemiskinannya. Karyamin adalah pengisi statistik BPS 8,47%, atau bahkan 68% versi Bank Dunia.

Karyamin adalah orang yang tersenyum ketika mendengar dan menonton televisi ada pertunjukan protes orang-orang kepada pemerintah yang dianggap salah urus. Mereka menuntut agar orang-orang seperti Karyamin tak berbekas di muka bumi negeri ini. Hidup mereka harus dientas menjadi sejahtera, bahagia, cukup sandang-cukup pangan-cukup papan. Pendidikan anak-anaknya cukup, tak perlu sampai doktor atau professor. Mereka bisa jalan-jalan sekeluarga ke puncak bukit sambil membawa kudapan ringan setahun sekali, tidak perlu sampai menginap di hotel berbintang segala, toh di sana tak ada toilet jongkoknya.

“Karyamin” tersenyum karena berkali-kali menonton peristiwa semacam itu di televisi, makan biaya besar, makan korban nyawa yang cukup banyak, tetapi hasilnya tidak pernah seperti yang diharapkan. Nasibnya tetap saja, tidak berubah. Masih ngojek, atau nguli, atau buruh tani, atau jadi pemulung. Perutnya masih sering kosong. Sebulan sekali dapat raskin, sering kali sebagian dijual untuk beli lauk. Kecap, tempe, ikan asin, kerupuk, membuat pijakan kakinya lebih kuat untuk menopang tubuhnya dengan beban di pundak. Dapat menabung sedikit.

Ketika sepatu anaknya sudah jebol, tabungannya tak cukup. Pernah tergoda untuk melipat gandakan uangnya dengan judi, memasang nomor togel pada pengecer. Tetapi uangnya tidak bertambah, justru habis tak bersisa. Kebutuhan lain, seperti sepatu anaknya itu, tak dapat terbeli. Jika sudah setragis itu, ia tersenyum.

Karyamin tidak dapat marah. Ia tak dapat menyalahkan siapapun. Juga tidak pernah menyesali dirinya atau masa lalunya. Ia menerima dirinya selayaknya jalan setapak di bibir sungai yang tak dapat menyelamatkan setiap orang yang berjalan di atasnya. Tak pernah bermimpi menjadi jalan raya yang dapat mengantar lalu lintas dengan cepat. Senyum Karyamin adalah senyum tulus bahwa nasibnya merupakan karya Tuhan.

Baca juga: Mee, Namaku (36)

Kiranya Ahmad Tohari ingin mengatakan kepada kita bahwa orang kecil seperti Karyamin adalah orang-orang yang tulus menjalani hidupnya. Orang yang menumpukan segala hidupnya hanya kepada Sang Penciptanya. Orang yang berada dalam jalur Tuhan. Tak penting dirinya jadi objek statistik, tak pernah berharap ada program bantuan sosial, tak pernah menggagas dalam benaknya untuk ikut protes pada pemerintah.

Tetapi Tohari, tidak tersenyum. Sang penulis ini justru tertawa, menertawakan tentang pikiran ganjil bahwa orang semacam Karyamin tetap harus membayar pajak. Ikut memberikan sumbangan kepada orang lain sambil menahan perih perutnya yang lapar.

Hari ini, Karyamin adalah kita. Jelata. Miskin. Kalau tidak miskin harta, bisa jadi miskin empati, miskin moral. Kita bersama patut tersenyum, menertawakan diri sendiri.

 

(Editor: L. Nandini)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *